32. Bahagia Baru

1.2K 91 18
                                        

Jangan lupa like + komen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa like + komen.

***

Semuanya terasa seperti mimpi. Selama dua minggu terakhir, Naora begitu bahagia. Jika ditanya apa momen paling membahagikan dalam hidupnya, maka saat ini adalah jawabannya.

Seperti cerita dalam dongeng-dongeng yang ia gemari ketika kecil, kira-kira begitulah hidup yang ia jalani. Begitu manis dan terasa damai.

Seno menepati janjinya. Pria itu memperlakukannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia berubah menjadi sosok suami siaga. Pria itu selalu berada di sisinya. Mereka hanya terpisah ketika Seno pergi bekerja. Pria itu tak lagi pulang terlambat. Jika pekerjaannya tak selesai hari itu, maka Seno memilih untuk mengerjakannya di rumah. Menemani Naora yang kini lebih banyak menghabiskan waktunya di ranjang.

Tidak hanya bersikap baik kepadanya. Seno juga mulai menunjukkan ketertarikannya pada sang buah hati. Sering kali pria itu pulang dengan membawa kantung belanjaan berisi pakaian dan mainan bayi. Memikirkannya saja, membuat senyum kembali terbit di wajah Naora. Ia alihkan pandangan pada sosok di sampingnya.

Jemari Naora bergerak pelan. Mengusap lembut wajah tidur suaminya. Ia rasakan hembusan napas hangat yang menerpa kulitnya. Perempuan itu menggigit bibir. Naora mendekatkan wajahnya. Dengan berhati-hati, ia kecup lembut pipi Seno. Pergerakan kecil pria itu membuat Naora mematung.

Perlahan, Seno membuka mata. Bulu halus pada kelopak mata pria itu mengerjap beberapa kali. Tatapan sayunya memandang sang istri yang kini terpaku.

Naora terperanjat kaget ketika merasakan jemari Seno mengusap lembut wajahnya.

"Pagi," ucap pria itu dengan suara seraknya.

Naora tersenyum kikuk. Perempuan itu mengangguk kaku sembari bangkit dari duduknya.

"A-aku uda siapin kemeja. Mas Seno mau sarapan atau mandi dulu?"

"Aku nggak kerja hari ini," sahut Seno kembali memejamkan mata dengan satu tangan ia letakkan di atas kening.

"Kenapa mas? Kamu ada kerjaan ke luar kota? Atau lagi nggak enak badan?" Tanya Naora khawatir.

Seno kembali membuka mata. Ia lirik istrinya dan tersenyum tipis. Pria itu menggeleng pelan. Sementara Naora memandangnya bingung.

"Aku cuti, Naora."

"Cuti?" Kerutan di kening Naora semakin dalam.

"Hari ini jadwal kamu kontrol ke dokter kandungan kan?"

Naora mengangguk pelan. Seno ubah posisinya menjadi duduk. Ia tatap istrinya dengan seksama dan berkata, "Aku mau temenin kamu."

Akad PernikahanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang