6. Tetangga Baru

671 98 14
                                        

Jangan lupa like + komen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa like + komen.

***

"Seingat saya, bulan lalu saya uda bilang sama kamu supaya gak siapin sarapan." Seno berujar sembari menatap beberapa lauk makanan di meja. Kemudian pria itu beralih menatap Naora yang berada tak jauh darinya.

"Kamu lupa?"

"Inget kok mas." Sahut Naora tersenyum kikuk.

"Terus? Apa kata-kata saya gak cukup jelas buat kamu pahami?"

"Ini bukan buat sarapan."

Satu alis Seno naik. Pria itu menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Masih betah menatap Naora. Menunggu penjelasan perempuan itu.

"Aku siapin buat bekalnya mas Seno."

Kini kerutan di kening Seno muncul.

"Bekal?"

Naora mengangguk antusias. Sembari melanjutkan pekerjaannya memasukkan beberapa lauk ke dalam kotak bekal, Naora menjelaskan, "Aku denger dari mbok Asmi kalau mas Seno sering gak makan siang karena gak sempat buat keluar. Kerjaan mas juga gak memungkinkan buat pergi cukup lama kan?"

Dengan berhati-hati, Naora menuangkan sup ke dalam mangkuk berukuran kecil dan memasukkannya ke dalam kotak bekal kemudian menutupnya. Perempuan itu pun menambahkan, "Jadi aku siapin bekal supaya mas gak skip makan siang. Karena mas Seno juga gak t-terbiasa sa-sarapan." Ujar Naora tergagap di akhir kalimat. Perempuan itu menjadi gugup sendiri saat menyadari jika dirinya terlalu banyak bicara pada pria itu pagi ini.

"Ja-jadi.. maksud aku.. Bekalnya jangan lupa di makan mas."

Naora menyerahkan paper bag pada Seno. Ketika pria itu hendak menanggapi perkataan Naora, suara bel membuat perhatian kedua orang itu beralih.

"Mbok-"

"Mbok Asmi lagi pergi ke pasar sama pak Usman. Biar aku aja yang bukain pintunya." Potong Naora kembali menyodorkan paper bag di genggamannya. Setelah Seno menerima bekalnya, Naora buru-buru undur diri dari hadapan pria itu. Namun baru beberapa langkah, ia kembali menatap Seno.

"O-oh iya mas."

Seno kembali menatap Naora. Menunggu perempuan itu untuk bicara.

"A-ku juga uda buatin kopi." Ujar Naora kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Seno.

Meremas tangan di kedua sisi tubuhnya, Naora berjalan menuju pintu utama. Ia buka pintu berwarna hitam itu lebar-lebar dan mendapati seorang pria dan wanita yang tersenyum menyapanya.

Akad PernikahanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang