20. Kabar Tengah Malam

898 97 23
                                        

Jangan lupa like + komen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa like + komen.

***

"Kapan kamu pulang?"

Naora menoleh ke arah Seno yang terkejut dengan keberadaannya. Melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, perempuan itu berjalan menuju meja rias.

"Uda agak lama mas. Mungkin sekitar satu jam lalu," sahut Naora seraya duduk di depan meja rias.

Tak lagi berkomentar, Seno berjalan menuju ranjang dan meletakkan ponsel miliknya di atas nakas. Perhatian pria itu berpusat pada beberapa tas belanjaan yang tergeletak tak jauh darinya.

"Kamu belanja?"

"Iya. Buat keperluannya Malvin."

"Malvin?"

Seno berbalik dan menatap Naora menuntut penjelasan. Membalas tatapan pria itu melalui pantulan cermin, Naora menjelaskan, "Anaknya Kiara."

"Bayi belum lahir barangnya uda sebanyak ini."

"Bayi baru lahir memang banyak kebutuhannya mas. Jadi mumpung tadi aku ke mall, ya sekalian aja aku beli perlengkapannya. Biar nggak bolak balik."

"Kamu belanja ini semua nggak pakek uang yang saya kasih kan?"

Pertanyaan Seno kali ini sukses membuat Naora menghentikan kegiatannya memoles lotion di tangan.

"Mama yang belanjain semuanya. Aku sama sekali nggak keluarin uang."

"Bagus. Jangan ada sepeserpun uang saya yang kamu pake untuk anak itu Naora. Saya kasih kamu nafkah hanya untuk kebutuhan kamu dan keperluan rumah. Bukan yang lainnya. Bayi itu, nggak termasuk dalam dua hal yang saya sebutkan."

"Mas."

Naora berbalik dan menatap Seno tak mengerti.

"Dipikir bagaimanapun juga, aku nggak bisa ngerti. Kenapa kamu sebenci itu sama bayi yang bahkan nggak berbuat kesalahan apapun sama kamu?"

"Keberadaannya aja uda salah Naora. Dia adalah sebuah kesalahan besar."

"Tapi-"

"Dan keputusan saya yang mengizinkan kamu merawat bayi itu adalah hal yang paling saya sesali saat ini," potong Seno.

"Tapi saya nggak akan menarik kembali izin itu. Lakukan sesuka kamu. Selama keputusan gila kalian nggak merugikan saya."

Akad PernikahanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang