Bagaimana rasanya menikah dengan kekasih kakakmu?
Tentu hal tak masuk akal itu tak bisa Naora jabarkan dengan kata-kata.
Dikala dirinya tengah sibuk membantu menyiapkan kamar untuk calon pengantin baru, ibunya datang dengan tergesa-gesa. Memaksanya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa like + komen.
***
"Nggak.."
Clarista menatap kedua orangtuanya bergantian. Mencoba mencari kebohongan dari tatapan mereka. Ia menggeleng pelan. Sekali lagi berusaha menyangkal rentetan kalimat yang baru saja didengarnya.
"Bapak sama ibuk lagi bercanda kan? Kalian gak serius kan?"
"Clar-"
"Nggak boleh buk! Kalian gak boleh perlakuin aku kayak gini!" Cerca Clarista yang kini bangkit dari duduknya. Dengan sorot penuh amarah, ia usap wajahnya gusar dan melangkah mondar mandir tak tentu arah.
"Seno itu pacar aku buk! Kenapa bapak sama ibuk tega memisahkan aku dari dia?!"
"Aku gak peduli buk!" Balas Clarista dengan suara bergetar. Ia alihkan pandangan pada ayahnya.
"Pak. Kenapa bapak cuma diem?"
Purnomo yang sejak tadi hanya menjadi pendengar itu akhirnya membalas tatapan puterinya.
"Kamu mau bapak ngomong apa Clar? Menenangkan kamu yang ngambek seperti anak kecil yang mainannya di rebut?"
"Pak!"
Terdengar helaan nafas panjang yang lolos dari bibir Purnomo. Pria paruh baya itu pun bangkit dan berjalan mendekati anaknya.
"Apa yang terjadi adalah buah dari tindakan kamu sendiri. Dan sekarang setelah semua yang terjadi, kamu mau menyalahkan kami?"
"Kenapa harus Naora pak? Dari sekian banyak perempuan yang bisa menggantikan aku, kenapa harus Naora?"
"Sederhana. Karena dia adik kamu. Dan bukannya memang selalu Naora? Yang membereskan semua kekacauan yang sudah kamu lakukan?"
Clarista mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menatap nyalang sang ayah namun memilih untuk tak menanggapi sedikitpun konfrontasi pria paruh baya itu.
"Nasi sudah menjadi bubur Clar. Dan ini konsekuensi yang harus kamu tanggung atas perbuatanmu. Bahwa hubunganmu dengan Seno sudah berakhir sejak kamu memutuskan untuk pergi di hari pernikahan kalian."
"Nggak. Aku gak mau pak. Gak mau."
Kini tangis Clarista kembali pecah. Ia bersimpuh di hadapan kedua orangtuanya. Memeluk kaki Purnomo dan memohon agar tidak dipisahkan dari prianya.
-
"Kamu kemana aja Nao? Uda dua bulan ini gak main ke rumah. Mama tungguin juga."
Naora tersenyum tipis dan menyalami ibu mertuanya. Ia menyingkir dan memberi jalan bagi Aurin untuk masuk.