Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tempat tidur Jimin berguncang hebat-brutal seperti terkena gempa yang tidak di undang. Meski kantuk masih erat memeluknya, kelopak matanya terpaksa terbuka. Membiarkan cahaya fajar yang masuk membuat silau matanya.
Terpejam erat sebentar matanya, lalu berkedip-kedip perih-ditusuk cahaya mentari yang menerobos bebas lewat jendela tidak bertirai. Dengan helaan napas malas, ia menoleh pada sumber kekacauan.
Disana, ada Taehyung lengkap dengan cengiran konyolnya yang khas-seolah tidak ada rasa bersalah yang menyambangi.
"Good Morning brother. Cepat bangun, sarapannya sudah siap. Nanti kau terlambat sekolah."
Jimin mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya. Keceriaan suara Taehyung membuat sakit indra pendengarannya-bising dan menganggu.
Siapa peduli soal sarapan, Jimin tidak sudi duduk satu meja dengan Taehyung-dan lebih-lebih lagi, dengan Ibu tirinya. Selera makannya sudah menguap entah kemana, yang pasti Jimin tidak minat.
Dengan kesal, Jimin kembali membungkus diri dalam selimut hangat, menariknya sampai ke atas kepala-menutup telinga, mata, dan dunia yang tidak ingin ia hadapi pagi ini. Biar saja Taehyung terus bercuap-cuap, Jimin tidak peduli.
"Jangan tidur lagi, Jimin-ah. Nanti terlambat sekolah, Ibu juga sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Ayo bangun, Jim."
"Jimin, Jimin."
"Nanti kesiangan, Jimin. Kau mau dihukum guru. Jimin-ie."
"Argh!" Dengan kasar Jimin menendang selimutnya hingga terhempas ke ujung ranjang. Suaranya meledak tak tertahankan, "Berhenti memanggil namaku dengan mulut sampahmu!"
Membuat Taehyung kontan mundur satu langkah, tercengang-bukan hanya karena volume suara Jimin, tapi juga sebab sorot matanya.
Ada amarah disana. Bukan sekedar kesal biasa. Pagi-pagi napas Jimin sudah memburu dan tatapannya menajam-seolah hendak menikam. Bahkan kantuknya ikut lenyap, dibakar detak jantung yang berpacu cepat. Desiran darah dalam kepalanya seperti ombak yang menghantam dari dalam.
"Keluar!" Telunjuk Jimin teracung tegang kearah pintu kamar, "Atau aku seret dengan kasar."
"Oke, oke. Aku akan keluar, tapi kau harus sarapan Jim. Jangan sampai asam lambungmu naik lagi.''
Persetan dengan asam lambung. Melihat Taehyung saja sudah membuat ulu hati Jimin seperti ditekan-tekan dari dalam. Ada rasa mual yang merayap naik ke batang tenggorokannya, perlahan tapi pasti,
"Cepat keluar sialan!" Suaranya pecah, kasar, penuh desakan.
Untungnya Taehyung menurut. Menegakkan tubuhnya, melirik sejenak, lalu berbalik menuju pintu dan keluar. Tanpa berucap apapun lagi.
Pintu menutup, tapi ketegangan itu belum lenyap. Tepat ketika Jimin merasa sudah diujung sekarang, ia berlari—terburu-buru dan limbung—kearah kamar mandi. Berlutut di depan closet, menunduk pasrah—mencoba membuang rasa mual yang masih menggulung perutnya.
Tetapi saat memaksa diri memuntahkan semuanya—tidak ada apapun yang keluar. Hanya mendatangkan getaran di tangannya, menyisakan rasa hampa yang menelan tenaganya begitu saja.
"Bunda." Kelopak mata Jimin tertutup perlahan, suaranya nyaris tidak terdengar, seperti gumaman yang tertinggal di ujung napas.
Punggungnya dibiarkan bersandar pada dinding kamar mandi. Kepalanya miring, pelipis menekan dingin keramik. Sementara tangannya meremas pelan perutnya yang terasa tertusuk. Rasa mual tak kunjung reda—seolah menetap jadi bagian dari tubuhnya.
Andai saja setiap paginya Jimin, tidak selalu diawali dengan suara dan wajah Taehyung. Mungkin ia tidak akan sesering ini berakhir ditempat yang sama—berjongkok didepan kloset, hanya untuk menuntaskan rasa memuakkan yang bukan berasal dari perutnya saja.
Tetapi sesuatu yang jauh lebih dalam lagi.
Sesuatu yang menekan kenyamanan, menyingkirkan damai, dan menggantinya dengan sesak yang terus-menerus.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°•°•°
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk menghindari insiden writer block dan kendala lainnya. Book ini bakal punya jadwal update. Setiap hari Minggu, lembar barunya keluar.
Untuk semua antusiasme dan dukungannya. Terimakacii:)