Ucapannya

175 24 3
                                        

1127 Kata

°•°•°

Knob kompor sudah Jimin atur dalam posisi api sedang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Knob kompor sudah Jimin atur dalam posisi api sedang. Beberapa bumbu mie instan ia masukkan kedalam panci kecil. Sambil menunggu airnya mendidih, Jimin memotong sayuran yang sudah ia keluarkan dari lemari pendingin. Hari ini ia akan membuat mie instan yang punya cap buruk dikhalayak umum tampak lebih sehat untuk dimasukkan kedalam perut. Meski sudah tersaji masakan rumahan di meja makan, Jimin tetap lari pada Mie Instan, biarpun ia harus menyiapkannya sendiri. Tidak apa, makan dari hasil usaha sendiri jauh lebih nikmat daripada cuma tinggal suap.

Hari mendekati petang, Jimin satu-satunya manusia yang menghuni rumahnya. Ayah datang dua Minggu yang lalu dengan penuh haru kejutan, sebab tidak terduga. Berniat membahagiakan keluarganya dihari cutinya yang lumayan langka. Tapi Jimin cuma dapat kibasan anginnya saja. Bahagia tidak sepenuhnya bertandang ke hatinya.

Ayah menjadikan insiden sakitnya Jimin sebagai alasan untuk menahannya tetap dirumah. Berbicara dengan nada perhatian yang berbeda. Seolah Ayah adalah manusia paling peduli pada kesehatan Jimin daripada manusia lainnya.

Ketidaksukaan yang dikemas begitu cantik.

Padahal kalau Ayah jujur secara terang-terangan, Jimin juga tidak akan memaksakan diri untuk ikut. Ia akan mundur tanpa perlu dipaksa, ia akan sadar tanpa perlu disadarkan.

'Aku ingin makan makguksu.' Tapi yang ada dihadapan Jimin hanya mie instan rasa udang. Sayang sekali, 'Pasti Taehyung sedang makan Bingsu dengan Ayah sekarang.'

Melirik sekilas, Jimin lihat air dalam pancinya sudah matang. Ia memasukan beberapa potong sayuran, lalu mie yang masih kering kedalam panci. Menutupnya, menunggu sampai matang.

Sementara itu Jimin mengambil sekotak susu dari lemari pendingin. Sekalian jalan, tangannya meraih gelas. Namun pergerakannya yang cepat tidak sengaja menyenggol gelas lainnya. Membuat benda mudah pecah itu jatuh membentur lantai. Pecah jadi beberapa bagian dan terpental kemana-mana.

"Sial." Jimin mengabaikan gelas ditangannya. Berjongkok untuk mengumpulkan serpihan beling yang berceceran dilantai. Mulai dari pecahan yang besar, hingga yang kecil. Yang penting masih bisa ia pegang.

Tinggal bagian yang benar-benar serpihan, Jimin bersihkan menggunakan sapu lantai. Membuang sampahnya kedalam tempat sampah setelah sebelumnya ia satukan kedalam kantong plastik. Sebersih mungkin hingga tidak akan membahayakan siapapun yang menginjak area tempat kejadian.

"Mienya!" Jimin hampir lupa. Ia membuka tutup pancinya. Mie yang tadinya aku kering, kini sudah lemas terendam kuahnya. Jimin aduk sebentar menggunakan sendok, lalu ia matikan kompornya. Mengangkat panci kecil mienya untuk ia letakan diatas meja.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang