31. Billy Kritis

39 7 2
                                        

Chaca masih terdiam, pikiran nya mulai menerka,  sebenarnya apa yang di maksud Jason tadi.

Jason yang masih belum meninggalkan taman tulip sepenuhnya sempat menoleh ke arah Chaca yang tengah duduk di kursi dengan tatapan kosong . Ia sedikit menyesal, seharusnya ia tidak pernah mengungkit tentang kecelakaan beberapa tahun lalu.

“Maafin gua ya, Cha. gak seharusnya gua bilang. Tapi walau bagaimanapun, gua yakin semua pasti bakalan terungkap. Gua harap setelah kepergian gua hari ini, hidup Lo jauh lebih bahagia, dan Gua harap saat gua kembali nanti, Lo bisa kasih Gua kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya." lirih nya dalam hati.

Jason pun membalikkan tubuh nya dan berjalan menjauh meninggalkan Taman tersebut.

-----

Suasana hari ini tampak lebih sejuk dari hari biasanya. Langit yang sedikit mendung dengan hembusan angin membuat rasa dingin mulai terasa menyentuh kulit lembut milik Dara.

Dara tengah duduk di kursi tepat di halaman rumah nya. Seseorang yang duduk di samping nya kini sedikit tertoleh melihat dara dengan senyum samar.

Dara yang merasa di perhatikan ia pun ikut menoleh dan melihat Evan yang tengah menatap nya juga.

Keduanya saling menatap tanpa ada pergerakan. Namun tak lama Dara memutuskan kontak mata nya saat ada daun kering yang jatuh mengenai tangannya.

“Jadi hari ini Jason jadi pergi ke Singapura?" tanya Dara memecahkan keheningan di antara mereka.

Evan mengangguk pelan, kepala nya tertunduk dengan kedua tangannya yang saling bertautan erat.

“Gua beneran gak tau harus seneng atau sedih. Di satu sisi gua akhirnya merasa lega , karena gak akan ada lagi salah paham antara Chaca dan Jason. Tapi di sisi lain Gua sedih karena setelah hari ini, gua gak bisa ketemu dia lagi." ucapnya melirih.

Dara paham dengan situasi kali ini. Dan mungkin saja ini adalah sebuah jawaban yang paling tepat. Karena mau bagaimanapun ini semua juga akan terjadi. Dan semuanya hanya tentang waktu.

Tangan Dara terulur menggenggam tangan Evan. Genggaman hangat tangan Dara membuat Evan sedikit kaget. Ini kali pertama ia merasakan genggaman hangat dari seseorang yang tak pernah ia harapkan sebelumnya, seseorang yang ia anggap sebagai orang yang tidak tau simpatik,namun ia baru menyadari bahwa di balik sikap dingin nya , ternyata Dara punya sisi hangat nya,

“Lo yang sabar ya, Kak. Gua tau berat banget buat Lo harus ngeliat kepergian Jason dari sisi kalian. Tapi ini udah jadi jalan terbaik. Gua yakin setelah ini Jason akan memperbaiki dirinya dan kembali dengan lembaran baru." ucap Dara menenangkan Evan. “Dan lagipula Jason cuma pergi untuk beberapa waktu kok. Kalian bisa ketemu saat semuanya udah benar benar selesai." lanjut nya dengan senyuman tipis yang tercetak jelas di bibir Dara.

Evan ikut tersenyum dan mengangguk pelan, “Makasih ya, Lo udah mau dengerin cerita gua."

Dara terkekeh hingga matanya sedikit menyipit, “Santai aja kali, Kak. Gak usah sungkan kalo sama gua."

Kedua nya pun tertawa , entah sejak kapan mereka mulai sedekat itu, hanya mereka berdua dan Tuhan lah yang tau.

----

Hari sudah semakin sore, langit sudah semakin menggelap, matahari pun sudah mulai terbenam hanya menyisakan semburat jingga yang menghiasi langit sore hari ini.

Jason tengah duduk di kursi sambil menatap Billy yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

Air mata itu kembali menetes, ia tak tau harus bagaimana menghadapi semuanya, ia merasa semuanya sangat berat untuk di jalan kan, dan ini semua adalah salah nya. Ia yang menyebabkan orang tua nya terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit seperti sekarang ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 10, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Chalista (Slow Update)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang