Bagian - 24

1K 88 8
                                        

Dara memutuskan untuk pulang ke rumah ayahnya.

Sudah terdeteksi alasan yang menyebabkan tubuhnya lemah beberapa hari terakhir. Untuk saat ini, Dara tidak sanggup jika harus bertemu muka dengan Raga di dalam satu atap yang sama.

Sebenarnya, ini kali pertama Dara menginap di rumah orang tuanya. Terlebih tanpa seizin suami. Dara memiliki nomor telepon Raga, tapi tidak berniat untuk mengabari lelaki itu. Toh, pasti Raga akan mengabaikannya lagi. Terakhir, tadi pagi Dara menawarinya sarapan, lelaki itu sama sekali tidak memghiraukan dan langsung pergi begitu saja. Raga sudah benar-benar menjelma seperti makhluk adam dingin dan menyebalkan. Yang sejak kenal, tidak Dara ketahui bagian sifatnya itu.

"Kamu bertengkar sama suamimu?" Tanya ayahnya pelan, saat Dara sudah beberapa jam berada di rumah ini. Dan sekarang sedang duduk santai di sofa keluarga, sedang menonton tayangan televisi, sambil menikmati camilan kentang goreng.

"Ada cekcok sedikit." Jawab Dara jujur. "Wajar kan kalau suami istri punya masalah, Pak? Dulu Bapak juga begitu sama ibu."

"Iya, Nduk. Wong Bapak cuma tanya kok." Sahut ayahnya. "Tapi, Raga tahu kan, kalau kamu lagi di sini?"

Tidak tahu. "Tahu." Dara memilih tidak membagi info perihal kealpaannya yang satu ini. "Setelah bareng-bareng selama satu bulan lebih, kadang istri juga butuh waktu sendiri. Biar hubungan nggak jenuh."

Ayahnya ikut mencomot camilan kentang goreng, dimasukkan ke mulutnya. "Baru juga jadi pengantin baru, masa sudah jenuh toh, Nduk?" Responnya.

"Ya nggak, tapi kan bisa aja jenuh itu muncul kalau terus-terusan bareng." Sahut Dara sekenanya. Mungkin alasan yang ia lontarkan pada ayahnya terdengar tidak masuk akal. Tapi bodo amat, Dara berusaha abai.

"Aturan Raga kamu ajak nginap sekalian di sini. Biar bisa temani Bapak main catur. Kalau bisa, tiap akhir pekan begini, kalian nginap di sini. Nanti akhir pekan selanjutnya kalian nginap di rumah mertuamu." Saran ayahnya cukup horor.

Saat ini hubungan keduanya saja sedang berantakan. Alih-alih memikirkan jadwal gilir untuk berkunjung ke rumah orang tua, dalam rangka membuat Raga tidak cuek lagi saja susahnya minta ampun. Dara baru tahu jika marahnya orang yang sabarnya seperti Raga, bisa sangat mengerikan.

"Tadi Bapak baru aja ditelepon Bulik Siti. Minggu depan calonnya Ninis datang ke rumah. Bapak disuruh jadi yang nerimo pasrah." Informasi dari ayahnya cukup mengejutkan. Pasalnya Ninis sendiri yang cukup terbuka padanya, sama sekali tidak memberitahu.

"Serius, Pak? Ninis sudah punya calon? Tumben, dia nggak cerita sama aku!" Ketimbang membahas Raga, lebih baik memang harus mengganti topik.

"Bukan sama pacarnya. Ninis dijodohkan." Beber ayahnya.

"Apa?!" Teriak Dara kaget.

"Pacarnya Ninis kan mirip-mirip Gabriel. Nggak buru-buru ngelamar. Bulik Siti wes kesel ngenteni. Akhirnya ada anak temannya nanyain, ya sudah, sama itu saja. Toh, Bulik Siti dan Paklikmu sudah tahu kalau anak temannya itu baik. Pekerjaan sudah mapan banget. Yang penting kan itu."

Astaga, astaga, astaga. Semoga saja kelak Ninis tidak berujung seperti yang Dara alami.

"Ninis sempat nolak. Tapi sekarang wes pasrah dia." Imbuh ayahnya.

"Dalam segi apapun, pacarnya Ninis memang sudah nggak jelas, Pak. Jangan dibandingin sama Gab dong. Jauuuuh!" Dara tak terima saat Gabriel dibawa-bawa. "Kerjaannya aja nggak jelas. Ninis yang bego, mau pacaran sama laki-laki kayak gitu!"

"Minggu depan kamu ikut, ya. Ajak Raga sekalian." Ayahnya masih berlanjut.

"Ngapain sih, Pak? Rombangan gitu. Masih lamaran juga." Dara buru-buru menghindar. Tentu saja karena komunikasinya dengan Raga yang belum membaik.

"Loh, Ninis itu kan sepupumu. Nggak ada salahnya kamu temani dia pas dilamar. Waktu keluarganya Raga datang melamar, Ninis juga datang ke rumah toh, bantu-bantu malah." Ayahnya mengingatkan saat sepupunya itu begitu bersemangat mendapati Dara akhirnya dilamar. "Ninis ikut seneng waktu kamu dilamar Raga. Katanya lega. Pacaran tujuh tahun sama Gabriel tapi jalan di tempat."

"Apaan sih Ninis!" Dengus Dara. "Kurang ajar banget loh, Pak, Ninis itu! Suka ngatur." Terlebih saat tadi pagi ia mengeluhkan tentang kondisi badannya yang kurang sehat. Bocah itu tidak berhenti mengoceh.

Berbicara tentang makhluk lain yang sedang bergantung hidup di tubuhnya, Dara sudah memperingatkan Ninis untuk jaga rahasia. Termasuk kepada ayahnya. Biarkan Dara memberitahu Raga terlebih dahulu, sebelum ia mengumumkan kondisi ini pada semua orang. Dan semoga saja Ninis tidak ingkar janji. Mengingat kelakuan sepupunya itu yang sangat menyebalkan dan cerewet, terkadang Dara sangsi Ninis bisa menutup mulut.

"Nggak biasanya kamu ngemil sore-sore. Sekarang sudah nggak takut gemuk, ya." Ayahnya kembali bersuara. Kebiasaan Dara yang mengharamkan makanan masuk ke dalam mulutnya saat sudah lebih dari jam empat sore.

"Sekali-kali, Pak. Tadi siang nggak sempat makan. Sibuk lembur. Sekarang laper. Lagian, aku sudah lama juga nggak makan jam segini. Nggak apa-apa lah, sekali-kali."

"Iya, nggak apa-apa. Dari dulu kan Bapak sudah bilang kalau kamu itu nggak gendut. Nggak usah diet-dietan."

"Tapi kalau keterusan bisa bengkak juga, Pak. Tahu sendiri kan kalori camilan kayak gini berapa?! Nggak kebayang kalau terus-terusan dikonsumsi."

"Bapak ibumu nggak ada yang gendut. Jadi, kamu juga nggak akan gendut."

"Tetap saja, harus bisa jaga badan."

Ayahnya undur diri ke teras. Pasti merokok sambil main catur. Kebiasaan yang dilakukan tiap sore.

"Bapak mau aku bikinin kopi?" Teriak Dara dari dalam rumah.

Tapi, ayahnya menolak. Katanya tadi sudah minum manis. Sejak ibunya tiada, ayahnya menjadi cukup selektif dengan yang dikonsumsi. Kesehatan mahal harganya.

Terikat Janji (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang