Bagian - 25

1K 92 3
                                        

Astaga, meresahkan banget suami orang! Sepupunya yang kurang ajar itu mengirim gambar punggung seseorang berpakaian dinas polri beserta keterangan yang berada di bawahnya. Siapa lagi jika bukan Ninis, sang biang kerok sejati?!

Menggeleng dua kali, Dara segera mengetikkan pesan balasan. Berhenti jelalatan sama suami orang!

Tidak menunggu lama, bocah itu pun membalas. Terserah kami dong! Mumpung lagi nggak ada istrinya.

Dara mengerutkan kening. Dilajukan kedua jempolnya pada layar ponsel. Kami?

Astaga! Situ tetap nggak sadar aja punya suaminya spek Henry Cavill. Jangan salahkan mata-mata kami yang nggak berhenti melotot. Kami kan nggak seperti situ yang tiap jam detik menit bebas memandangi, bahkan menyentuh.

Bersyukur Dara tidak langsung muntah setelah membaca pesan berlebihan sepupunya yang gila ini. Dara memilih tidak menanggapi. Tapi, bukan Ninis jika menyerah begitu saja. Bocah itu terus mengirimkan pesan-pesan yang membuat Dara berdecak remeh.

Kenapa cuti sih, Mbak? Hamil itu kan buka sakit. Ya kali sampai nggak bisa dipakai keluar rumah. Lanjut Ninis berkirim pesan.

Padahal bocah ini mendengar sendiri saran dari dokter Luga. Ninis yang mengantar Dara ke dokter kandungan, setelah dari IGD yang merujuknya ke spesialis.

Yaudah deh, kamu istirahat aja. Ikhlaskan kami cuci mata sejenak. Jangan pelit-pelit. Lagi-lagi, muncul satu pesan Ninis.

Keberadaan Raga di sana pasti untuk mengamankan jalannya acara anniversary rumah sakit tempat Dara bekerja. Saat ini, Dara sedang melakukan cuti, sehingga tidak tahu menahu dengan segala keriuhan yang ada di tempat acara.

Itu badan bisa tegap dan berotot gitu yang dimakan apa sih? Pasti bikin nyaman banget pas dipeluk. Beruntung banget sih kamu, Mbak!

Tingkat kecerewetan Ninis benar-benar sudah tidak tertolong lagi. Bocah itu tetap membombardir room chat dengan kalimat tak bermutu yang membuat Dara tak habis pikir saat membacanya. Seharusnya memang Ninis segara dinikahkan. Supaya bisa lebih kalem dan waras.

Saat Dara baru saja menyeduh susu hamil, ayahnya masuk dapur dan kembali menginterogasi tentang keberadaannya di rumah ini tanpa suami. Ayahnya seakan tidak puas dengan alasan yang Dara lontarkan kemarin. Dan kemunculan Raga yang hanya memastikan keberadaan Dara tanpa bersusah menemuinya di kamar, membuat lelaki paruh baya ini semakin curiga.

Dara sedikit merutuki sikap Raga yang sok cuek tapi perhatian. Buktinya lelaki itu masih mau repot-repot mencari keberadaan istrinya. Memastikan bahwa Dara baik-baik saja, sebelum kembali ke setelan diam.

"Kalau marah jangan lama-lama. Sebaiknya nanti sore kamu pulang saja. Besok lagi, kalau mau nginap sini, ajak Raga sekalian. Bapak nggak enak sama Raga. Kamu nginap di sini, sementara dia di rumah sendiri." Ayahnya ini, sejak kapan jadi gemar memikirkan perasaan orang lain? Oh, Raga bukan lagi orang lain. Dia sudah menjadi menantu kesayangan ayahnya. "Ternyata kamu bohongi Bapak. Katamu sudah izin sama suamimu, ternyata belum. Makanya Raga nyariin kamu ke sini. Jangan bikin Bapak malu, Dar. Kalau sikap kamu kayak gini, kesannya Bapak nggak pernah ngajarin kamu sopan santun."

"Ya ampun, Pak. Kan aku juga sudah jelasin ke Bapak. Yang namanya masalah rumah tangga itu biasa terjadi. Bapak sendiri juga paham karena dulu pernah mengalaminya. Jadi yaudah dong. Nanti kalau kami sudah baikan, juga bakalan kembali seperti awal." Dara membalas perkataan ayahnya dengan kalimat panjang pula.

"Tapi sikap kamu ini nggak menyelesaikan masalah, Nduk. Kamu pergi dari rumah nggak izin sama suamimu. Harusnya kalau memang ada masalah, selesaikan masalahmu dulu, sebelum kamu nginap di rumah Bapak."

"Astaga! Jadi, aku beneran diusir nih?" Sentak Dara kesal.

"Nggak ada yang usir kamu!" Ralat ayahnya cepat. "Kamu ini kalau dinasihatin sama orang tua selalu ngebantah terus!"

"Bapak nyuruh aku pulang, apa dong kalau bukan ngusir?!" Dara tak tinggal diam. "Aku pikir, dengan pulang ke rumah orang tuaku, tidur di rumah ini, merasakan nyaman yang selama ini nggak pernah aku dapatkan di tempat lain, lalu setelah ini aku akan siap kembali menghadapi kerasnya dunia luar. Kalau saja Bapak paham, aku lagi berusaha untuk bisa beradaptasi dengan keadaan. Dengan sosok baru di hidupku. Tempat tinggal baru. Aku sedang berusaha untuk semua itu. Nggak mudah loh, Pak. Hubunganku sama Raga juga terjalinnya bukan karena pacaran. Ikatan kami belum sekuat itu, Pak. Kadang aku masih ngerasa asing, jaga jarak dan aku yakin Raga juga begitu."

Ayah Dara hanya menghela napas, lalu berbalik meninggalkan Dara seorang diri. Setelahnya, Dara meneguk segelas susu dengan tenggorokan yang susah payah menelan. Ada lubang besar tak kasat mata di dalam dadanya. Teramat sakit hingga Dara tak mampu jelaskan secara detail.

Hidupnya mungkin tidak sesulit ini jika ibunya masih ada di sisinya. Lagi-lagi, Dara merindukan sentuhan penuh kasih itu.

"Bu, aku kangen banget ...." Gumamnya sakit.

"Aku lagi hamil, Bu. Sebentar lagi ibu bakal jadi nenek. Tapi, aku sendirian, Bu. Aku harus gimana?" Lanjut Dara bermonolog. "Andai saja, ibu masih ada, pasti aku nggak akan sesusah ini menghadapinya, Bu."

Suara pagar rumah yang dibuka mengalihkan atensi Dara dari mendiang ibunya. Deru mesin kendaraan yang berhenti di depan sana, membuat Dara harus bangkit dari tempat duduk, untuk mengintip. Siapakah gerangan yang datang berkunjung di kediaman orang tuanya? Ayahnya sedang tidak ada di rumah. Dara sendiri yang harus menyambut si tamu.

Laki-laki yang tidak diharapkan kehadirannya sekarang sedang berdiri di teras rumah. Dara mematung di ambang pintu. Hening. Pandangan keduanya bertemu.

Untuk beberapa saat, sepasang suami istri itu tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Hingga Dara memilih untuk mengalah dan mempersilakan suaminya masuk ke dalam.

"Bapak lagi di masjid." Ujar Dara, setelah lelaki itu menempatkan diri di sofa ruang tamu. Tidak dipungkiri kecanggungan terasa membungkusnya. Baru kali ini Dara merasakan mati gaya di hadapan laki-laki. "Kamu mau minum ...."

"Kita tunggu Bapak kembali ke rumah, lalu pamit pulang." Potong lelaki itu sebelum Dara menyelesaikan tawarannya membuatkan minum.

Dara tidak bisa membantah, sehingga ia mengangguk sebagai respon. Setelahnya, Dara memilih masuk ke dalam kamar dan berkemas. Dara berharap kemunculan Raga sekarang menjadi solusi atas masalahnya kemarin.

Lebih dari satu jam menunggu kepulangan ayah Dara dari masjid. Dara sudah coba menawarkan makan siang, atau camilan pada lelaki yang mendadak sedingin kutub utara, tapi selalu dibalas dengan gelengan. Total sudah satu bulan lebih keduanya saling diam. Dara tidak terlalu betah berkonflik, terlebih pada suaminya sendiri. Tapi, agaknya Raga beda, kelakuan Dara mungkin cukup membekas di hati lelaki ini.

Dara tidak heran karena memang salah. Posisinya kalah, sehingga ia yang harus berinisiatif untuk memperbaiki hubungan.

"Insya Allah, minggu depan kami akan menginap, Pak." Ujar Raga setelah ayahnya menawarinya untuk bermalam di sini.

Dengan senyum tidak pernah surut Ayahnya mengangguk. "Sekali-kali, ajak Dara juga nginap di rumah ibumu, Ga. Pasti ibu seneng banget dikunjungi menantu." Ayah Dara benar-benar sangat berdedikasi dalam melancarkan misi mengakurkan keduanya.

Raga mengiyakan. "Mama juga sudah chat terus dari kemarin, Pak. Ibu-ibu memang begitulah, sedikit cerewet."

"Nggak apa-apa. Itu tandanya beliau masih peduli." Sahut ayah Dara.

"Kami pamit dulu ya, Pak. Bapak sehat-sehat. Kalau ada sesuatu, langsung hubungi kami." Raga pun tidak kalah luwes saat terlibat komunikasi dengan ayahnya. Ciri khas menantu idaman masa kini.


NOTE:
Story ini sudah tamat di Karyakarsa. Buat yang pengin baca kelanjutannya, silakan melipir ke sana. Username: @ruangsari / Hapsari Rokhimatussolikah. Terima kasih.

Terikat Janji (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang