Royal Knights?
Aku tidak tahu apa arti istilah itu. Tiga orang di sekitarku juga sepertinya sama. Tapi, kurasa kami paham akan satu hal: kami akan menjadi rekan satu tim. Menjadi entah pasukan gerak cepat apalah itu. Direkrut bukan sebagai pasukan kerajaan biasa.
“Royal Knights?” pemuda di sebelahku—Henry?—akhirnya angkat bicara pertama setelah hening. “Tuan Saryu … i—itu sungguhan?”
Saryu mengangguk mantap, tatapannya teduh. “Itu benar, Henry. Kalian berempat sudah kami nilai dengan seksama di sepanjang seleksi, sebab seleksi ini juga mencakup perekrutan terselubung untuk anggota Royal Knights. Karena kami sepakat untuk merahasiakan eksistensi Royal Knight dari masyarakat umum, kami sengaja tidak menyebarluaskan pengumuman perekrutan melainkan menilai sendiri kinerja para peserta. Dan di antara calon lainnya, kalian adalah kontestan terbaik sehingga kami memutuskan untuk merekrut kalian sebagai Royal Knights alih-alih prajurit biasa. Ada yang keberatan?”
Tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang menyanggah. Semuanya mematung, namun aku bisa memastikan kalau tidak ada yang sudi berkeberatan. Bukankah tujuan kami di sini memang untuk menjadi prajurit Olvia? Terpilih sebagai prajurit pasukan khusus, apalagi di bawah komando Kesatria Legendaris itu sendiri? Kenapa tidak!
Namun, aku merasa gamang. Kesannya seolah-olah bukan ini tujuanku, bahkan aku ikut seleksi hanya karena dorongan Tuan Alvaro, bukan untuk menjadi pejuang nasionalis. Hal terakhir yang kuinginkan di sini adalah menjadi prajurit kerajaan, mengenakan zirah resmi konyol setiap hari, dan berdiri menjaga perbatasan yang tidak ada apa-apanya sepanjang waktu. Sekadar membayangkan akan berurusan dengan para bangsawan, dengan segala tetek bengek sopan santun dan tata krama yang membuat gerah, sudah merupakan pengalaman yang tidak ingin kualami lagi. Berurusan dengan beberapa bangsawan rendahan dalam sebagian misi guild saja sudah menyebalkan, bagaimana dengan sang raja, penguasa seluruh negeri sekaligus pemegang kasta tertinggi?
“Jadi, tidak ada yang keberatan,” simpul Sang Raja. “Baiklah. Dengan ini, kuresmikan kalian berempat sebagai Royal Knights Spade. Ace, King, Queen, Jack. Embanlah tanggung jawab ini dengan segenap jiwa raga kalian.”
-
Ospek panjang mengenai tugas-tugas dan tanggung jawab pasukan pendamping kesatria benar-benar sebuah penutup sempurna untuk hari yang merepotkan. Posisi masing-masing personil ditetapkan, perkenalan singkat antar anggota dan kesatria dilangsungkan. Dan tentu saja karena aku sangat beruntung, aku mendapatkan posisi sebagai Ace of Spade, posisi tertinggi yang sekaligus membuatku tak ubah tangan kanan dan wakil sang kesatria, Saryu. Oh, semenjak sekarang aku adalah bawahannya, aku harus menambahkan imbuhan Tuan pada panggilannya. Betapa menyenangkan.
Satu hal bagus dari hari yang panjang itu adalah aku diberikan kamar pribadi baru yang nyaman. Mungkin tidak semewah kamar si raja tua GM sang penguasa, namun itu sudah cukup asalkan aku punya ruang untuk menepi sendirian dan menyegarkan otak.
Segera setelah aku menyimpan barangku—meski satu-satunya yang kubawa hanyalah pedang sementara barangku yang lain masih ada di kamar asrama guild—dan berganti pakaian, aku menelaah isi ruangan ini. Kamar standar dengan perangkat normal,tanpa ada sesuatu pun yang mencurigakan. Aku melihat keluar jendela, kemudian kusadari kalau kamarku berbatasan langsung dengan lapangan latihan, membuatku selalu punya kesempatan melompat keluar dari jendela dan bermain-main di lapangan kapanpun itu. Lalu, baru aku tersadar akan apa yang telah benar-benar terjadi hari ini. Semua kejadian yang belum sempat kurenungkan masak-masak.
Aku mengikuti seleksi masuk prajurit kerajaan Olvia. Aku dinyatakan lulus dan kemudian diminta menunggu sang raja dan kesatria bersama tiga orang yang tidak kukenal. Lalu, kami diberitahu kalau kami dipilih sebagai Royal Knights, bawahan rahasia para kesatria, diospek berbagai materi perihal tugas-tugas kesatria dan bagian kami, dan diakhiri dengan perkenalan singkat antar anggota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Labrador: The Empathless Harbinger
FantasyLabrador, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Ace of Spade, itulah jabatan yang dipegangnya di usia belia. The Harbinger, itulah julukan yang disematkan kerajaan padanya. Mesin Pembunuh Tanpa Empati, itulah reputasi berdarahnya yang...
