7. Uncured Ace

169 18 3
                                        

“Labra—tunggu dulu!”

Aku melesat. Pedang di tanganku berselimut kobaran kabut biru, mengerih rendah sementara fokusku terpancang pada satu-satunya bayangan bergerak di antara badai salju. Aku menyabet, namun makhluk itu menghindar lincah dan terus berlari.

Indra sihirku mendeteksi pergerakan Mitha di belakang, menyusul sama cepat dengan panah siap di tangan. Dalam dua hitungan, panah sihir itu meluncur, melesat membelah udara mengejar si sosok bayangan. Ketika jaraknya tinggal dua meter, panah itu meledak menjadi jalinan rantai yang ringkas membelit targetnya. Membuat sosok yang masih berselimut bayang itu terpancang kaku ke tanah.

Dan aku tidak membuang waktu. Begitu sosok itu masuk dalam jangkauan seranganku, aku segera memperbesar cakupan energi sihirku, menebasnya dalam sekali sentak.

Seharusnya, makhluk itu terpotong dua dengan isi perut terburai, menyingkap wujud sejati sosok berselimut bayang itu.

Namun, makhluk itu justru melebur lenyap menjadi kabut, sementara rantai-rantai Mitha berdentingan di tanah seolah bukan baru saja menahan sebuah makhluk solid.

“A—apa yang—?” cengang Mitha yang baru bergabung di belakangku. Aku berjongkok, meraba sisa residu sihir kehitaman yang melebur dalam salju. Sisa residu sihir yang familiar.

Davin dan Henry baru bergabung ketika aku tersentak, menyadari apa yang sejatinya terjadi. “Tunggu, jangan bilang—”

“Mundur!” persis Henry berseru, tanah di hadapan kami merekah. Aku bisa mendengar mereka melompat mundur dan menjauh, namun aku tetap di tempat. Seiring bangkitnya monster setinggi empat meter di hadapanku, aku merasakan desiran yang melemparkanku kembali pada ingatan itu.

“Gawat, lokasi ini dekat dengan pemukiman!” Mitha berpaling pada kami, “Henry, Labrador, tahan diri kalian sebelum—"

Terlambat. Sebelum aku tahu apa yang terjadi, energi sihirku telah membumbung, menyelubungiku berkali-kali lipat lebih tebal. Aku bisa merasakan gairah menggebu di pedangku, begitu menarik dan gatal untuk segera ditebaskan.

Tatapanku terpancang pada makhluk di depanku. Monster dengan tubuh yang seolah terdiri dari susunan kabut dan tulang. Monster Kegelapan.

Sayup-sayup, aku mendengar suara Mitha dan Henry, memperingatkan agar aku jangan melakukannya lagi. Namun, suara mereka seolah terdengar dari dalam air, buram dan tidak cukup kuat untuk menarikku. Bisa kurasakan sihirku memanas siap, bersama segenap indra sihir yang menajam.

Aku masih bisa mendengar suara Mitha yang memerintahkan Davin untuk bersiap. Aku bisa mendengar Davin mengumpat pelan bersama suara gesekan tanah yang tergurat tongkatnya, sementara ia mengucapkan kata perintah untuk perlindungan.

Aku tidak merasakan apa-apa lagi. Yang kutahu, aku sudah menebaskan pedangku membelah si monster, dan satu-satunya yang kuingat adalah sebuah dentuman berskala dahsyat sebagai penutup hari itu.

-

“Labraaa! Kau mau membunuh kita, hah?”

Suasana sepi nan sunyi lapangan istana seketika pecah begitu suara yang teramat kukenali itu menyeruak.

Bergegas aku mempercepat langkah, namun Davin lebih gesit. Ia mencengkeram dan menarik pundakku paksa, memaksaku bertatap muka dengan raut geramnya yang agak didongakkan.

Dengan sebelah tangan, aku balas mencengkeram kepalanya yang agak terlalu dekat dan mendorongnya menjauh. “Apa maksudmu, King?” sahutku rendah.

“Kau bertanya apa maksudku?” rautnya yang kelewat ekspresif jelas tidak bisa menyembunyikan gurat kekesalannya, apalagi dengan sikapku yang merendahkannya (secara harfiah). “Tentu saja maksudku adalah misi kemarin! Apa-apaan kau yang mengamuk dan meledakkan separuh bukit dan hampir membantai seisi warga desa?!”

Labrador: The Empathless HarbingerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang