19. Descendant of Crow

119 11 0
                                        

Aku ingat. Masa-masa awal ketika aku baru pertama kali bergabung dengan guild. Kali pertama aku bertemu dengan Tuan Alvaro, sekaligus kali pertama aku melihat Lucian.

Tujuh tahun lalu, dua minggu setelah tragedi di gunung bersalju membuat ricuh seluruh kerajaan.

Di antara seluruh huru-hara, aku membawa langkahku yang bergetar hingga akhirnya menjejak sebuah pemukiman. Setelah dua minggu luntang-luntung di alam liar, kelaparan dan kelelahan, menantang ancaman hewan-hewan buas di sepanjang langkah, juga syok akibat perbedaan iklim mendadak yang langsung menghantam, akhirnya tubuhku mencapai batasnya. Tubuhku ambruk di antara rerumputan rapi, terlalu digerogoti letih hingga tak sanggup bergerak lagi.

Di ujung penglihatanku yang mengabur, aku sepintas melihat sebuah bangunan kokoh dengan papan nama yang sepertinya bertuliskan Guild Petarung Corvus.

Ketika membuka mata, yang pertama kusadari adalah wajah Tuan Alvaro yang menampilkan riak tak terbaca, berikut seorang anak laki-laki di sebelahnya sementara aku tengah terbaring berbalutkan macam-macam perban dan obat.

Tuan Alvaro membantu memulihkan kondisiku, setidaknya hingga aku tidak lagi terancam sekarat. Beliau tidak banyak bertanya mengenai asal-usulku atau kenapa aku bisa terkapar sekarat di pekarangan guildnya, terutama karena aku hanya menyahut sekenanya kapanpun kalimatnya yang berakhiran tanda tanya ditujukan padaku.

Setelah kondisiku pulih, aku mengamati lobi utama guild yang pada waktu itu masih belum terlalu besar. Kemudian, aku bertanya apa yang dilakukan mereka di tempat ini.

“Tempat ini adalah guild petarung, Labrador. Kami menampung mereka yang memiliki kemampuan dalam bertarung, sementara kami juga menerima misi yang diberikan para penduduk sekitar. Kalau para penduduk membutuhkan bantuan yang hanya bisa dilakukan oleh kami, kami akan menolong mereka. Dengan cara itulah kami mencari nafkah.”

Ketika mendengar paparan itu, sebuah gejolak psikis meletup dalam dadaku.

“Kalau begitu, biarkan aku bergabung dengan guild ini, Tuan.”

Mulai dari hari itu, semuanya berjalan dengan semestinya hingga hari ini.

Namun, ada sebuah kepingan kecil yang hampir benar-benar kulupakan.

Itu adalah Lucian.

“Mulai mengingatku, huh?” di hadapanku, Lucian menampilkan seringai pongah, tidak sesuai dengan dirinya yang dulu. “Tentu saja, kau pasti sudah melupakanku. Semua orang melupakanku. Aku sudah dilengserkan dari ingatan orang-orang sejak lama.”

Tatapan kejamnya terpancang lurus padaku. “Karenamu, Kak Labrador.”

Sementara tubuhku masih dikuasai kaku, dunia berubah wujud di sekelilingku.

Aku kembali ke hari itu, ketika aku mengajukan diri untuk bergabung dengan guild.

“Bergabung, hm?” Tuan Alvaro menyentuh dagunya, mengamati keseriusan dalam tatapanku—yang masih menyimpan sisa riak kesakitan selepas pemulihan. “Hmm, kau punya tekad, Labrador. Tapi aku rasa kondisimu masih belum memadai benar. Menjadi anggota guild tidak selalu merupakan sesuatu yang indah ataupun mudah, loh.”

“Aku bisa melakukannya,” ucapku yakin. “Kondisi begini bukan masalah. Berikan aku sebilah pedang, dan biar kutunjukkan apa yang bisa kuperbuat untukmu.”

Kami akhirnya berderap menuju gudang senjata. Tuan Alvaro menimang beberapa pedang cadangan, kemudian memberikannya padaku dan putranya—Lucian, yang hari itu usianya sepuluh tahun. “Baiklah kalau kau seyakin itu, Labrador,” tutur Tuan Alvaro, “bertandinglah dengan putraku. Aku akan menilai kemampuanmu. Dan kuperingatkan, jangan merasa di atas angin hanya karena usiamu lebih tua, Labrador.”

Labrador: The Empathless HarbingerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang