Epilogue: Renewal

222 13 8
                                        

3 tahun setelah perang besar melawan Herobrine.

“Jadi, Henry,” aku memanggil, sementara sosok berjubah hitam sama sepertiku itu berjengit pelan. “Jelaskan kecerobohan macam apa yang membuatmu bisa-bisanya kehilangan topeng. Kalau Alesia sampai marah, kau tahu kau tidak akan mendapat sebatas amukan ringan saja.”

Henry mengeluarkan suara tercekik, kemudian berbalik menatapku tegang. “Sudah kubilang! Aku disera—”

“Kubilang jelaskan, bukan ocehkan. Jelaskan serinci-rincinya apa yang sudah kau temui sampai-sampai topengmu hilang dan kau tidak sempat mengambilnya kembali, padahal sudah kubilang sebaiknya malam ini aku saja yang mengurus Olvia.”

Henry mendebas frustasi, kemudian menarik napas panjang. “Oke. Jadi, malam ini aku menjalankan bagianku seperti biasa. Aku sudah bersiap seperti biasa, kau tahu, jangan salahkan aku untuk itu. Pemerintah Olvia mengeluarkan aturan jam malam baru-baru ini, jadi aku agak kesulitan mencari korban. Beruntung aku melihat dua orang tanpa pengawasan, jadi aku langsung saja mengeluarkan quartz dan mengambil sihir mereka. Sialnya, salah satu dari mereka sempat menjerit begitu nyaring sampai telingaku hampir pekak, kemudian seseorang muncul memergokiku.”

Aku masih menatap Henry tajam. Kami sudah beberapa kali berhadapan dengan pasukan patroli kerajaan, lantas apa? Kami adalah pasukan Royal Knights. Setelah delapan belas tahun pun, kami masih lebih kuat dibanding mereka. Tidak ada rumusnya Henry bisa kalah begitu saja kecuali kemampuannya mulai menumpul gara-gara penuaan dini.

Henry sepertinya bisa membaca kalimat itu dari raut wajahku. “Ini beda. Bukan pasukan kerajaan, tapi seseorang … pemuda berambut ungu bermata hijau, mengenakan jubah putih berlogo Spade.”

Aku terkesiap sekejap, kemudian melafalkan nama itu hati-hati. “Spade.”

Henry mengangguk, meyakinkan. “Dengar-dengar beberapa waktu lalu pihak kerajaan memang melantik Kesatria Legendaris baru. Aku cuma tahu kalau Clover yang dulu masih ada di sana, tidak berubah posisi—sungguh bocah malang—tapi tidak kusangka bahwa pengganti Spade adalah anak itu.”

Mataku mendelik. “Tunggu. Siapa dia?”

Henry terperangah menatapku. “Kau tidak ingat? Putra Tuan Saryu, Marvel. Lahir tepat sebulan sebelum penyegelan Herobrine. Aku yakin itu adalah dia.”

“Tunggu dulu. Bagaimana kalau itu adalah orang lain? Penyegelan Herobrine, berarti delapan belas tahun. Kau mau bilang dia kehilangan kedua orang tuanya sejak bayi dan masih hidup sampai sekarang?”

Henry menggeleng yakin. “Tidak. Dia benar-benar putra Tuan Saryu. Aku tidak tahu pasti bagaimana dia selamat, tapi rambut ungu dan mata hijau zamrudnya mustahil salah dikenali. Aku tahu mata itu, lentera zamrud Tuan Saryu yang adalah satu-satunya di seluruh Olvia. Juga sihir hitamnya, itu jelas-jelas sihir hitam Tuan Saryu. Aku sempat terguncang gara-gara hal itu, dilihat dari sisi manapun … anak itu jelas mewarisi karakter Saryu. Auranya, semangatnya. Kemampuannya juga tidak main-main, dia berhasil membantingku hingga topengku lepas dan hampir menamatkanku kalau aku tidak cepat-cepat kabur menggunakan sihir teleportasi.”

Aku menyimak penjelasannya sembari berpikir. Aku sudah lama bekerja sama dengan Henry, dan aku tahu pasti tidak ada yang dapat menggentarkan anak ini kecuali ada kaitannya dengan Saryu. Apakah si anak baru itu memang benar sehebat itu?

“Tadi kau bilang namanya Marvel?” tanyaku. Henry mengangguk singkat. “Kau tahu ke mana dia pergi?”

“Aku tidak membuntutinya.” Henry mengangkat kedua tangannya pasrah. “Tapi, kuperkirakan dia pergi ke istana Olvia, melaporkan temuannya soal topengku. Astaga, sial sekali. Bagaimana aku menjelaskan ini pada Alesia?”

Labrador: The Empathless HarbingerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang