Aku membuka mata dan seketika menyadari bahwa kesadaranku sudah kembali seutuhnya ke tubuhku. Sihir yang mengitari tubuhku hilang, digantikan sebuah perasaan ringan yang merayapi punggungku, dan entah bagaimana aku merasa lebih baik setelah apa saja yang terjadi. Kelihatannya aku berhasil lepas dari kendali Lucian maupun Lunaloor, meski aku tidak yakin bagaimana itu bisa terjadi.
Sebuah ingatan menghantam belakang kepalaku, menyadarkanku akan apa yang telah terjadi tepat sebelum ini.
“Davin—!”
Aku menoleh ke segala arah, hingga akhirnya menemukan sosok yang kucari. Davin terengah berat setengah bertumpu pada tongkatnya, sementara Mitha di sisinya tidak tampak lebih baik. Aku bergegas menghampiri mereka.
Davin terhuyung limbung, namun berhasil mengangkat kepalanya. “Labr—”
“Bodoh kau, Davin?” aku menyambar tanpa menunggu kalimatnya selesai. Apa yang telah kualami membuatku tidak bisa menahan diri lagi. “Aku sudah bilang jangan bangunkan aku! Kau mau melepaskan Lunaloor sekalian, hah?! Semua ini—"
“Itulah kenapa kau seharusnya bersyukur aku mendalami sihir anti-ritual kontrak, Bocah Anjing.” Meski lemah, Davin masih sanggup mempertahankan tatapan tegasnya. “Aku mengikat ulang segel entitas sialan itu lewat alam bawah sadarmu. Dia tidak akan bisa muncul dalam wujud utuhnya sekarang ini.”
Aku terdiam untuk sesaat. “Tapi tetap saja—”
“Hoi, Bocah Anjing. Aku sudah menyelamatkan hidupmu dari diterkam makhluk bulan itu. Atau kau lebih suka mati saja di bawah sana? Oh, benar juga. Kau lebih ingin aku saja yang mati di sana, kan? Posisimu digantikan olehku, sementara kau bisa melenggang bebas tanpa beban membelakangi kekacauan akhir dunia. Kelihatannya, dari awal, berniat menyelamatkanmu memanglah sebuah kesalahan dalam cara berpikir.”
Pandanganku mengabur sesaat. Sebuah rasa tertohok melesak di dadaku tanpa sebab, dan aku harus menahan diri untuk tidak memutus kontak mata atas perasaan ragu. Kalimat Davin barusan entah bagaimana mencegat napasku secara refleks, padahal bukan itu maksud ucapanku. Sebelum aku sempat memikirkan kalimat balasan, Henry muncul entah dari mana dan menengahi.
“Woy, woy, woy! Tahan! Jangan bertengkar, Tuan-Tuan!” Henry berseru dengan napas tersengal, upaya yang gagal untuk mencegah sebuah kobaran antara aku dan Davin. “Ingat kita masih punya misi yang belum selesai! Musuh masih ada di depan sana! Jangan sia-siakan waktu dan tenaga kalian untuk bertengkar di sini!”
Davin menebas tangan Henry dan menatapku nyalang. “Aku menyia-nyiakan usahaku untuk menyelamatkan Anjing tidak tahu terima kasih ini,” desisnya dengan kebengisan yang terpantul nyata di rautnya. “Terima kasih, Ace. Kau sudah membuat pengorbanan sihir Mitha menjadi tidak berarti. Minggir sana, biar aku bunuh sendiri Bocah Gagak Herobrine itu.”
Sebelum aku bisa mencegah, Davin berbalik dan memapah Mitha yang sepertinya sudah kehilangan tenaga, kemudian bergerak menjauhi posisiku. Aku memperhatikannya tanpa sanggup mengeluarkan reaksi.
Henry menatapku dan Davin bolak-balik dalam raut panik, kemudian berucap terburu. “Katakan sesuatu, Labrador! Jangan jadi pengecut dengan temanmu sendiri!”
Teman?
Kucoba mendalami kata itu, tapi yang bisa kutemukan hanyalah sebuah rasa hampa. Aku tidak diperkenankan memahami kata itu, aku sudah kehilangan bagian dari diriku yang mampu mengartikulasikannya. Aku hanya tahu bahwa kata itu adalah sesuatu yang penting, namun aku tidak bisa berpegang padanya.
“Labrador!” Henry menyentak sekali lagi.
Aku menegakkan pandangan. Davin masih ada dalam jangkauan mataku, sedang berusaha memosisikan Mitha untuk duduk bersandar di pohon.
Lidahku kelu, namun aku mencoba merangkai kalimat. “Maaf, Davin. Aku tidak—”
Kekehan hambar terloloskan dari napas Davin, jenis tawa yang mengindikasikan kondisi muak yang meruah saking kelewatannya. “Seorang Labrador meminta maaf? Untuk apa? Memangnya dia pernah melakukan kesalahan? Memangnya dia bisa sadar kalau perbuatannya salah? Apakah dia membutuhkan kata maaf itu sendiri? Bukannya dia bisa mudah saja berpaling tidak peduli, seperti bagaimana dia hidup selama ini?” Davin berbalik, matanya mendelik tajam sementara ia menarik napas menjeda tawanya. Ujung bibirnya tertarik sekilas, menantang.
Tanganku menahan kepalan, namun aku berusaha menahan diri. “Davin, kumohon. Bukan saatnya untuk—”
BUUM!
Sebuah ledakan berskala besar menghancurkan wastu di belakang punggungku, memotong ucapanku. Seseorang terlempar dari ledakan itu ke dekat kakiku, posturnya yang familiar segera tertangkap mataku dan merebak dalam ingatanku.
“Tuan Saryu!” Henry bergegas mendekat, berusaha memeriksa kondisi Saryu. Yang diperiksa hanya mengangkat sebelah tangan, isyarat bahwa dirinya tidak apa-apa dan tidak perlu dicemaskan.
“Aku … baik-baik saja,” ujarnya payah. Ia bangkit perlahan sementara kami menengadah, menatap ke arah ledakan barusan.
Bangunan wastu telah hancur lebur, menyisakan puing-puing dan kepulan asap. Dari reruntuhan itu, Lucian melangkah pelan, kekehannya merobek udara malam. Ada sesuatu yang berbeda darinya, dan rasanya familiar denganku.
“Sudah kubilang, kalian tidak akan bisa mengalahkanku. Lemah. Benar-benar sebuah kemunduran. Saksikan ini!”
Aku menyiagakan pedang di tanganku, namun itu tidak berarti apa-apa. Dalam gerakan yang tangkas, Lucian bergerak secepat kilat ke belakang barisan, dan aku baru sempat melihat kilatan abu-abu perak saat terdengar suara benda tajam mengoyak daging disusul dengan cipratan darah.
Mitha tergeletak dengan perut terburai, tewas seketika. Darahnya menggenangi tanah sementara Lucian menyeringai tajam di belakang posisinya.
“Mitha!” Davin memekik, namun aku nyaris tidak mendengarkannya. Fokusku terpancang penuh pada Lucian, atau lebih tepatnya, jalur sihir di tubuh Lucian yang memancarkan sebentuk aura kekuatan nan familiar.
“Lunaloor,” desisku pelan.
Lucian menepukkan tangannya sekali. “Bagus sekali. Kau masih mengenali sihir yang sudah bukan milikmu lagi?”
Davin terbeliak sedetik. “Tunggu, bagaimana mungkin? Aku sudah menyegelnya—”
“Menggunakan sihir gadis muda ini?” Lucian menyepak tubuh Mitha di kakinya seperti seonggok serangga dengan gestur mengejek. “Kuakui, mantramu kuat dan tidak begitu buruk. Tapi, sebuah kesalahan untuk memakai sihir seseorang yang sudah sekarat dan kini tergeletak tewas. Kalian benar-benar sudah tidak punya kesempatan, Kesatria.”
“Keparat!”
Secepat kilat, Davin merangsek maju dengan ujung tongkat bercahaya. Namun, Lucian tidak tampak tertarik, melainkan meliuk melewatinya dan bergerak lebih cepat. Aku nyaris terlambat mengangkat pedangku demi menahan serangan Lucian.
Sialan. Entah bagaimana kekuatan Lucian meningkat drastis, hingga aku nyaris tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Beruntung, di detik terakhir aku berhasil mengunggulinya dan mendorong Lucian hingga mundur tiga langkah. Meski begitu, dia masih tampak baik-baik saja dan memasang kuda-kuda baru sebelum kemudian kembali lanjut menyerang.
“Percuma saja,” ucapnya di antara denting pedang. “Aku hanya perlu membunuhmu, memutus koneksimu dengan Lunaloor, dan kekuatannya akan utuh menjadi milikku. Kalian tidak akan bisa melakukan apa-apa!”
Dasar terkutuk, geramku dalam hati. Sepertinya, aku memang tidak bisa kabur dari maut sejak awal.
<><><><><>
Lil author’s note:
Kalau misalkan ada yang peduli, maaf karena bab ini keluarnya lama sampai butuh tiga minggu. Aku tidak bisa beralasan sibuk, sih, karena kenyataannya keseharianku kalau tidak dihabiskan di kamar, ya di kebun atau dapur. Tapi katakan saja author ini habis mengalami existensial crisis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Labrador: The Empathless Harbinger
FantasiaLabrador, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Ace of Spade, itulah jabatan yang dipegangnya di usia belia. The Harbinger, itulah julukan yang disematkan kerajaan padanya. Mesin Pembunuh Tanpa Empati, itulah reputasi berdarahnya yang...
