16. A Sudden Meet-Up

76 9 0
                                        

Bagianku adalah tembok belakang wastu, yang praktis terdiri dari tembok tebal tanpa pintu ataupun jendela terbuka di lantai bawah. Aku mendongak, menatap bangunan lima lantai yang masih mampu berdiri meski semestinya sudah ditelantarkan itu. Di lantai kedua dan seterusnya terdapat beberapa jendela yang sebagian kacanya sudah berlubang atau kehilangan kosen, sementara tembok tempatnya tertanam sudah dijalari retak setengah mengelupas kendati masih sanggup berdiri kokoh.

Kuraba tembok besar itu, merasakan permukaannya yang kasar dan samar-samar mendengungkan aura sihir, meski mungkin saja aku hanya mengkhayalkannya. Saryu di depan sana barangkali sudah mendapatkan perhatian seluruh penghuni wastu seandainya mereka benar-benar ada, tapi aku tidak mau nekat memancing keributan hingga malah terarah padaku.

Tapi, tidak ada jalan lain, kan? Ya sudahlah.

Aku menajamkan indra sihirku sekali lagi, memastikan posisi Saryu yang terpaut jarak sekitar tiga puluh meter dari tempatku. Kemudian, aku mengeluarkan kekuatan Auraku, sedikit saja, untuk membantuku melompat setinggi enam meter hingga mencapai kosen jendela terdekat yang masih utuh. Sedikit dorongan tenaga tambahan, dan aku berhasil melompat melewati lubang jendela dengan aman.

Kusiagakan pedang di tanganku dan mengamati sekitar. Tempat ini lengang dan sunyi mencekam, persis seperti yang diharapkan dari sebuah wastu tua yang telah lama ditelantarkan. Sisa pecahan kaca jendela bertumpuk, kebanyakan perabotnya entah sudah rusak dan terguling atau bertahan dalam keadaan antara lapuk dan bisa patah dua hanya dengan disentuh. Tumpukan debu dan sarang laba-laba memenuhi setiap penjuru, begitu juga kotoran dan sisa keberadaan binatang yang pernah menyinggahi tempat ini. Kalau para teroris atau bawahan Herobrine itu benar-benar tinggal di sini, mereka pastilah bukan tipe orang yang menyukai kebersihan.

Aku melangkah menyusuri sisa-sisa perabotan, berusaha mengabaikan jejak kaki nan jelas yang kutinggalkan di hamparan debu dan memfokuskan diri pada hal lain. Suasana kumuh nan sumpek ini terang saja menguarkan aroma khasnya sendiri, tapi aku merasakan hal lain yang membuat tempat ini jadi lebih temaram dan mencekam.

Aura sihir nan pekat menyelimuti tempat ini luar dalam. Dan bukan sihir biasa, melainkan sihir yang jauh lebih menggentarkan dan terlarang, bertentangan jauh dari aliran yang dilegalkan kerajaan. Kalau Davin si pakar sihir bersamaku sekarang ini, bisa kubayangkan dia sudah muntah-muntah dan panas dingin gara-gara jenis sihir yang bertabrakan dalam tubuhnya.

Tapi gara-gara aura mencekam ini, aku jadi sulit mengidentifikasi hal lain. Apa ada sihir yang berbeda di satu tempat ini? Apa ada ancaman yang mendekat? Apa pengguna sihir ini di tempat ini lebih dari satu orang? Apa memang ada seseorang di dekat sini? Apa bangunan ini memancarkan kekuatan itu sendiri dan bukan karena seseorang yang meninggalinya? Dalam kondisi seperti ini, dimana sihir pekat itu memenuhi setiap relung napasku, semua hal itu bisa kucari tahu semudah bernapas dalam air. Dan aku bukan Atlantian, maaf saja.

Gara-gara sibuk memikirkan hal itu, aku terlambat menyadari pergerakan selintas bayangan di belakangku sebelum dia mendekat. Refleks, aku berbalik dan menebaskan pedangku, namun hanya mengenai udara kosong di hadapan sosok itu.

Sosok itu berkelebat, namun pencahayaan yang lebih dari tidak mumpuni ini membuatku tidak bisa menilai wujud aslinya. Maka, sebagai pertahanan pertama, aku melemparkan sebuah kalimat. “Siapa kau?”

Aku bisa merasakan sosok itu menatapku langsung. “Kau tidak mengingatku, Labra? Yang benar saja?”

Bahuku melemas. Aku sangat mengetahui suara itu. Versi lawan jenis dari diriku. Suara yang telah kudengar dan kukenali sejak lahir, yang tidak pernah kudengar lagi selama tujuh tahun.

Aku beringsut perlahan. “Ti—tidak mungkin.”

Selintas cahaya menyapu dari jendela, membuatku bisa melihat pupil bintang identik yang tengah bertatapan langsung denganku bagaikan proyeksi diri. Kemudian seluruh wajahnya, tubuhnya, dan seluruh sosok utuhnya. Membuatku tidak bisa menahan diri kecuali menyebutkan satu nama.

“Kiara?”

Ia menyunggingkan senyum. Sebuah senyum simpul sepaket tatapan geli yang berkilat-kilat, persis seperti yang ia tampilkan saat aku melakukan sebuah kecerobohan sementara ia menahan tawa.

“Tentu saja ini aku. Tega sekali kau melupakan kakak kembarmu sendiri, Labra?”

Bahkan cara bicaranya juga sama. Bahkan gestur tubuhnya—melipat lengan, bertumpu lebih pada satu kaki, memiringkan kepala sedikit sehingga rambutnya terkibas lepas. Rambut ungu gelap dengan segaris warna merah yang persis dengan milikku.

Tapi aku menggeleng pelan, menjejak mundur selangkah. “Itu mustahil kau. Kiara sudah tewas tujuh tahun lalu. Di tangan Monster Kegelapan itu.” Aku mengangkat pandanganku, seketika berserobok dengan iris ungu tajam yang benar-benar bagaikan replika cermin. “Kakakku sudah mati remuk gara-gara monster di malam itu!” desisku tajam.

Ia menggeleng pelan dengan tatapan maklum. “Untungnya tidak, Labra. Aku berhasil selamat saat itu. Lihat? Aku ada di sini sekarang.”

Aku bergeming, masih dalam kondisi waspada. Ini pasti ilusi. Kiara sudah mati. Ini ilusi ini ilusi ini ilusi—

“Aku paham kau tidak memercayaiku, Labra. Tidak bersua selama tujuh tahun, sementara ingatanmu menggaungkan bahwa aku sudah mati. Tapi ini aku, Labra. Aku bisa menjelaskan bagaimana dan kenapa untukmu.”

KIARA SUDAH MATI.

“Kiara mustahil masih hidup!” potongku lekas, memanggil kembali ingatan itu. “Aku melihat sendiri Kiara bersimbah darah pada malam itu! Hancur remuk! Organ dalamnya terburai! Mustahil ada yang bisa selamat dari kondisi itu!”

Aku maju, menyabetkan pedang. Dia menghindar sama lihainya, tidak tampak terguncang ataupun terkejut melihatku mengonfrontasi langsung. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang dikatakan Saryu beberapa waktu lalu, saat aku menceritakan masa laluku padanya.

“Kalau mereka benar-benar menargetmu, kau harus siap siaga. Mereka bisa saja mengirimkan ilusi lagi, lalu menyetirmu hilang kendali. Aku bukan pakar ilusi seperti Genah atau Davin, tapi aku tahu satu hal untuk jadi pegangan mentalmu.”

Aku mengayunkan lagi pedangku, memotong dua sebuah meja lapuk. Sejauh ini, sosok ‘Kiara’ hanya menghindar dan masih belum menyerangku, tapi kewaspadaanku masih membumbung tinggi.

“Yang paling dasar adalah menilai aura sihir mereka, pasti terasa beda antara makhluk hidup asli dengan yang bukan. Tapi karena kau bukan ahli sihir seperti Davin, kau butuh cara lain.”

Sebuah bangku panjang hancur menjadi remukan kayu. Aku berfokus pada ‘Kiara’, yang juga berlumur debu di tempat ini. “Apa?” ia bersuara. “Apa yang harus kukatakan agar kau memercayaiku, Labra?”

Aku memancangkan tatapanku padanya. “Mengakulah kalau kau itu palsu, ilusi.”

“Bagaimanapun, ilusi adalah tipuan mata yang membuatmu melihat apa yang sejatinya tidak ada. Fokus pada cara geraknya, bentuknya yang nirsolid, bayangannya. Ilusi seharusnya tidak memiliki bentuk fisik, jadi bayangannya juga pasti tidak koheren. Atau kau mungkin bisa melihat bayangan atau cahaya yang melingkupinya, yang sesedikitnya pasti memberikan efek menyerpih. Kau bisa membayangkannya?”

Aku terus menyerang sembari mengamati, sesuai dengan instruksi Saryu. Aku berusaha berfokus pada cara geraknya, pengaruh lingkungan pada kondisinya, apapun itu yang tidak alami. Namun, aku justru mendapati perhatianku terpancang pada bagaimana gerakannya benar-benar persis seperti yang kuingat, teknik yang diajarkan Ayah pada kami. Aku justru berfokus pada bagaimana dia menatapku sementara sarang laba-laba dan bekas serpihan kayu mengotori tubuhnya, kakinya yang meninggalkan jejak pada debu di lantai.

Ilusi … mustahil bisa senyata ini, kan?

Bayangannya?

Pencahayaan minim membuatku sulit menilai, namun aku berusaha mengira-ngira. Cahaya samar dari jendela yang kulalui mewarnai sebagian lantai yang dipijaknya, dimana siluet gelap mengikuti bentuk pijakannya.

Saking fokusnya menghitung hal itu, aku luput menangkap pergerakannya. Ia mendadak melesat maju, dalam sekejap mata sudah berada tepat di hadapanku. Aku mengangkat pedangku, namun gerakanku tidak cukup cepat.

Kukira dia akan membunuhku, namun tangan itu justru menyentuh pundakku, menarikku dalam dekapannya.

“Tenang saja, tidak ada apa-apa dengan bayanganku, kok.”

Kemudian, tepat di telingaku, ia membisikkan sebuah kalimat.

Labrador: The Empathless HarbingerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang