11. Shared Memories

136 12 0
                                        

Kami tengah berderap menjauh ketika bangunan itu runtuh dalam ledakan besar dan sesosok makhluk berbayang merangkak keluar dari puing-puingnya.

Davin bersikeras agar kami lari, dan karena aku tidak pernah melihatnya seserius dan sepanik itu, aku menggunakan kekuatan Aura untuk melontarkan kami berdua dari jendela, lalu berpacu di tanah hingga kejauhan sekitar dua ratus meter ketika entah makhluk apapun itu terbangkitkan.

Kekuatan Auraku sudah tidak menyelubungi kami berdua, namun Davin masih memacu langkahnya di depanku dengan tangan menyeret sebelah lenganku. Ternyata anak itu bisa berlari cepat jika ingin, bahkan aku agak kerepotan menyamai langkahnya.

Aku merasakan tanah di bawah kakiku bergetar. Tanpa perlu diberitahu, aku sadar bahwa monster apapun itu di belakang tengah mengejar kami. Davin bahkan sama sekali tidak melambat untuk menoleh, larinya semakin berpacu dengan raut terguncangnya yang sama sekali tidak dikondisikan.

Aku sendiri sebenarnya lebih terganggu oleh ucapan pria tadi, Drystan. Orang itu terus saja mengulangi betapa Davin telah menjadi penyebab dari hancurnya tanah kelahirannya, bla, bla, bla, juga soal monster ini yang bangkit akibat Davin. Juga menyebut Davin sebagai penerus Archendiaz. Itu nama yang juga disebutkan di potongan koran yang kutemukan, nama yang dicurigai sebagai asal dari kutukan yang melanda. Aku tidak memahami sebagian besar ucapannya, tapi kondisi ini belum memungkinkan untuk sesi tanya-jawab.

Davin menambah kecepatannya dan menarikku ke bawah sebuah tebing. Di dinding tebing, terdapat sebuah ceruk mendalam yang menyerupai gua sempit. Davin mendesakku ke dalam sana dan mengaktifkan sihirnya menghalangi mulut gua, selapis sihir keemasan redup menutup satu-satunya jalan keluar masuk. Ia menurunkan tangannya dan menarik napas, ekspresinya masih kelihatan jerih seakan baru saja dihadapkan dengan trauma mimpi buruknya.

Seolah aku akan peduli saja.

“Davin,” panggilku penuh penekanan. “Jelaskan apa maksud semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Kau mengenal bawahan Herobrine itu?”

Davin mengatur napasnya sekali lagi sebelum menjawab. “Drystan. Dulunya dia tetanggaku. Dia dan orang tuaku punya hubungan yang cukup baik. Tapi …”

“Sesuatu terjadi,” aku menyimpulkan. “Monster itu?”

Davin menunduk. “Mereka adalah kutukan yang menyerang Tanah Minoir dua belas tahun lalu. Kau mungkin tidak pernah dengar, tapi kalau kau membuka peta lama dua puluh tahun lalu, kau akan menemukan nama Tanah Minoir di sisi barat Zerberus, menguasai setidaknya sepertiga luas pulau. Sayangnya, kutukan yang menyerang membuatnya menjadi tanah mati, kini diresmikan sebagai area terlarang. Kalau kau membuka peta sekarang, daerah itu sudah tidak lagi tercantum di sana, hanya tanah kosong.”

“Dan kau berasal dari sana?”

Ia mengangguk. “Drystan mengatakan soal penerus Archendiaz. Sejatinya, itu adalah nama keluargaku. Keluarga pedagang terkaya di Tanah Minoir. Kami punya kehidupan yang makmur saat itu.”

“Jadi, namamu Davin Archendiaz?”

Hembusan napas berat terloloskan dari mulutnya, menggeleng singkat. “Aku sudah menghapus nama itu dari identitasku. Masalahnya, orang-orang seperti Drystan masih sering mengungkit hal itu. Sedari awal, aku sudah tidak menyukai nama itu. Mereka diisi orang-orang yang rakus, tamak akan kekayaan tiada akhir kendati apa yang mereka miliki saat itu jauh lebih berlimpah dibanding pejabat kota.”

Davin menoleh sedikit, menatapku dari sudut matanya. “Mereka gila,” dia menekankan. “Aku sudah berusaha mengingatkan mereka, tapi mereka tidak pernah mendengarkan. Puncaknya, dua belas tahun lalu, ketika usiaku tujuh tahun, mereka menggunakan ritual terlarang yang berbahaya. Ritual itu gagal, makhluk dunia bawah yang mereka panggil menyebar kutukan ke seluruh kawasan. Menewaskan seisi penduduk dalam semalam. Semuanya lenyap, sama sekali tidak menyisakan bahkan mayat mereka sekalipun. Makhluk dunia bawah melahap habis segalanya.”

Labrador: The Empathless HarbingerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang