Aku terbatuk pelan dan merutuk dalam hati. Sialan, bahkan dalam pelataran kepalaku sendiri saja, aku bisa dikalahkan dengan mudah. Sekujur tubuhku dikunyah kaku dan lelah, sementara perwujudan manusia si entitas sialan yang bercokol dalam kepalaku itu masih prima dan sama sekali tidak terganggu.
Lebih parahnya lagi, di setiap serangannya, aku seakan melihat kilasan memori—singkat dan terpotong-potong, tapi menyampaikan inti pikirannya lebih baik dari ceramah sepanjang apapun. Aku bukan penggiat cerita rakyat, namun kisah itu melebur dalam ingatanku, merembes dalam pikiranku yang sekarang.
Legenda mengenai sebuah Entitas yang menjiwai sinar bulan purnama, Lunaloor Sang Pelindung Snowpine.
-
Dua ribu tahun lalu, ketika manusia masih belum menyentuh sihir, terdapat sebuah konflik besar di alam supranatural yang tak terjamah oleh manusia.
Masing-masing panteon saling sikut. Dewa-dewa besar berseteru memperebutkan posisi dewa utama. Dewa-dewa minor berusaha menyalip kesempatan untuk mendapatkan pengikut lebih. Sisanya, makhluk-makhluk supranatural lain, yang lemah dan hanya dikenal sebagai bawahan, seperti iblis dan entitas lainnya, hanya bisa berpasrah ditindas sana-sini, tanpa bisa mengais asa untuk meraih lebih.
Lunaloor adalah salah satu yang terdampak. Tugas awalnya sederhana, memastikan bulan tetap dalam posisinya mengitari bumi. Kelihatannya sepele, tapi penting. Gravitasi dan posisi bulan berdampak banyak pada keberlangsungan kehidupan di bumi, seperti gelombang pasang dan navigasi bagi hewan yang bermigrasi. Lunaloor mencintai pekerjaannya, namun konflik di lingkungan para dewa memaksanya mengambil sikap.
Lunaloor berusaha tidak terlibat, namun sengketa yang semakin sengit membuat makhluk-makhluk supranatural lain mengincar posisi apapun demi bertahan, meski itu berarti mereka harus menyingkirkan dewa yang sebelumnya menempati posisi itu. Suka tidak suka, Lunaloor harus berhadapan dengan dua pilihan: bertahan seteguh mungkin atau merelakan eksistensinya dilenyapkan dari sisa peradaban untuk selamanya.
Sudah tentu, Lunaloor bersikeras mempertahankan posisinya. Namun, sekuat apapun ia bertahan, semakin hari lawannya semakin banyak dan kuat sementara ia akan kewalahan pada akhirnya. Penentu kekuatan seorang dewa bukan hanya kemampuan fisik, tapi juga pengikut mereka dari kalangan manusia. Semakin banyak manusia yang mengikuti jalan mereka, eksistensi mereka akan semakin kuat dan sukar dihapuskan, lain dengan entitas-entitas kecil yang hanya diketahui satu-dua orang tidak berguna. Walaupun manusia belum mengenal sihir seutuhnya, mereka masih memegang kepercayaan akan dewa-dewa dan segelintir dari mereka mungkin memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan dewa, yang disebut perantara manusia meski orang awam lebih sering mengecap mereka sebagai penyihir.
Itulah kenapa, selain menindas dan melahap kekuatan dewa lain untuk memperkuat diri, para dewa juga berusaha mengumpulkan lebih banyak pengikut di kalangan manusia untuk memperkuat keberadaan mereka. Sebagai entitas dewa minor, Lunaloor hanya memiliki pengikut di kalangan penduduk Snowpine, menjadikannya kalah jumlah. Ia akhirnya tersingkir dari langit, tersegel dalam cahaya bulan dan tidak diperkenankan menginjakkan wujudnya kembali ke bumi.
Terbimbing oleh amarah, Lunaloor akhirnya mulai menyusun sebuah skema. Di antara pengikutnya yang segelintir, dia akan membuai mereka dengan perlindungan, sementara dirinya tengah mencari sebuah tubuh perantara. Seseorang yang cukup pantas dan kuat untuk bisa dia jadikan boneka kostum yang dikendalikannya dari dalam. Dengan begitu, dia bisa berjalan di muka bumi tanpa benar-benar menginjakkan wujudnya, memberikannya akses untuk membukakan sendiri gerbang segel abadinya lewat huru-hara dan kekacauan di antara manusia.
-
Aku bangkit perlahan, berusaha mengatur napas meski paru-paruku seakan baru digencet habis-habisan. Mataku terasa berat, tapi kupaksakan menatap langsung Lunaloor yang masih mengamatiku di tempat. Tatapan dingin menyala dari iris bloodmoon memotong tajam pandanganku, mengembalikan kenangan tidak menyenangkan akan saat-saat terakhir kali aku melihatnya di langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Labrador: The Empathless Harbinger
FantasíaLabrador, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Ace of Spade, itulah jabatan yang dipegangnya di usia belia. The Harbinger, itulah julukan yang disematkan kerajaan padanya. Mesin Pembunuh Tanpa Empati, itulah reputasi berdarahnya yang...
