Cinta Semesta 04

161 8 3
                                        

"Dedaunan di pohon tidak risau ketika tubuhnya mulai rapuh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dedaunan di pohon tidak risau ketika tubuhnya mulai rapuh. Dia rela luruh demi tunas baru yang akan tumbuh."

Song recomendation - We Were Never Really Friends by Bruno Major

***

Motor Harley warna hitam milik Arsenio membelah jalan raya dengan kecepatan sedang. Sesekali sudut mata cowok itu melirik ke arah spion untuk mengecek keadaan penumpangnya yang duduk diam di belakang.

Bulan tak banyak bicara hari ini, membuat Arsenio diselimuti tanda tanya. Selama jam pelajaran berlansung hingga mereka pulang gadis itu tampak murung dan selalu menekuk wajahnya.

"Kok, ke sini?"

Arsenio menepikan motornya di dekat sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai jernih dengan hiasan tanaman pohon bungur. Laki-laki itu membuka kaca helm kemudian menoleh ke belakang. "Turun!"

Bulan mendelik malas. "Apa, sih?"

Arsenio menarik pergelangan Bulan, membawa gadis itu berdiri lebih dekat ke tepi pembatas besi. "Lo kenapa?" tanyanya terus terang. "Dari tadi diem mulu, gue bingung."

Bulan mengalihkan pandangan, melihat ke arah arus air yang tenang serta beberapa helai daun bungur yang berguguran jatuh ke bawah lalu terbawa aliran sungai hingga hilang.

Masa abisi daun tiap tumbuhan berbeda-beda, tapi cepat atau lambat pasti akan gugur juga. Kadang, Bulan berpikir, apakah dedaunan yang mulai rapuh itu tidak merasa sedih dengan kenyataan bahwa ia akan meninggalkan rantingnya suatu hari nanti, dengan kenyataan bahwa dia akan hilang lalu tergantikan?

Faktanya tidak. Daun tidak pernah khawatir dengan tubuhnya yang mulai menua dan tidak marah pada hempasan angin yang membuat tangkainya melemah. Daun rela luruh demi tunas baru yang akan tumbuh.

Namun, satu yang membuat daun bersedih; dipaksa gugur sebelum waktunya.

Filosofi itu ibarat Bulan sekarang. Dirinya ibarat sehelai daun pada sebuah ranting yang bernama Arsenio. Meskipun berat, dia sangat rela jika suatu hari nanti takdirnya adalah gugur dan Arsenio akan bersama dengan daun barunya yang ia cintai.

Hanya saja, tidak sekarang.

Bulan masih diam, bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini. Kejadian tadi pagi sungguh membuat suasana hatinya berantakan.

Arsenio meletakkan kedua tangannya di bahu Bulan, memutar pelan hingga posisi mereka menjadi saling berhadapan. "Bilang sama gue, Lan, cerita," kata Arsenio dengan nada suara yang menenangkan. "Masalah papa sama mama lo?"

"Bukan." Bulan menggeleng pelan, menunduk tak berani menatap mata lawan bicara.

"Terus kenapa?" Dengan telunjuk dan ibu jarinya Arsenio mengangkat dagu sahabatnya itu. "Liat mata gue kalau lagi ngomong."

Cinta SemestaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang