8

3.1K 275 6
                                        

Happy Reading.

.

Setelah menghabiskan energi dari beberapa batu energi, Samuel berubah kembali ke bentuk manusia, mematikan gelang yang memutar akhir kartun yang ditonton dan mulai menatap Caitlyn yang masih bergulat dengan berkas-berkasnya.

"Baby butuh sesuatu?" Tanya Caitlyn dan memandangnya dengan mata penuh kelembutan walaupun wajahnya tanpa ekspresi.

"El bermain diluar boleh?" Tanya Samuel sambil menggunakan jurus pamungkas yang sering digunakan untuk membujuk keluarganya, puppy eyes.

"Biar ajudan kakak temanin." Caitlyn menyalakan gelang untuk memanggil ajudannya, tetapi Samuel terlebih dahulu mencegahnya.

"Tidak, kan banyak prajurit diluar, El mau bermain sendiri, boleh ya kakak? Ya ya?"

Bagaimana mungkin Caitlyn tega menolaknya? Jadi dia hanya bisa mengangguk menyetujui sikecil.

"Kakak akan menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin dan menyusulmu."

"Oke! Terima kasih kakak!"

Samuel melemparkan diri kepelukan Caitlyn dan mencium kedua pipi Caitlyn, kemudian berlari keluar dengan penuh semangat, sebelum keluar Samuel tidak lupa mengambil botol susu dan menggantungnya dileher.

"Hati-hati jatuh sayang!"

"Tidak akannnn!"

Caitlyn hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya dan melanjutkan perkerjaan yang sempat tertunda.

Tapi Caitlyn rela menundanya tidak peduli seberapa lama, asalkan orang yang menundanya Samuel.

Sedangkan diluar.

Samuel melompat-lompat kecil dengan penuh semangat sambil menyanyikan lagu tidak jelas.

Dia menyelusuri beberapa lorong sambil mengamati lingkungan sekitar, sesekali akan berhenti untuk meminum susu, dan saat bertemu dengan para prajurit Samuel akan berhenti sebentar dan memberi hormat militer.

Kelakuannya yang mereka anggap sangat menggemaskan berhasil merebut banyak hati para prajurit, terutama para wanita yang sebagian besar menyukai hal-hal yang imut.

Samuel tidak menghiraukan mereka yang memandang orang dari fisiknya saja, dan dia hanya melakukan apa yang ingin dia lakukannya.

"Hei lihat, kita kedatangan adik Marsekal, hm... Tapi dia terlihat tidak berguna, seharusnya limbah keluarga Gregorius kan? Hahaha."

Samuel menoleh ke sumber suara, dia mengernyit heran saat melihat pria muda dan beberapa antek-antek yang memandangnya menghina dan meremehkan.

Samuel merasa bingung, sepertinya dia tidak pernah menyinggung siapapun.

Samuel memilih mengabaikan mereka dan berbalik untuk lanjut berkeliling, tapi pria itu malah merangkul bahunya, bertingkah sok akrab namun menggunakan kekuatan yang kuat untuk menghentikannya.

Kambing.

"Lepaskan." kata Samuel tenang dan menatap mereka dingin, tapi mata bulatnya tidak bisa tidak bisa membuat takut siapapun.

Tapi Samuel tidak tau tentang hal itu.

Samuel memindahkan tangan yang berada dipundaknya, hanya manusia biasa berani sekali mengganggunya, kalau mereka bukan bawahan kakak sudah dia patahkan tangan mereka.

Pria yang merangkul Samuel kini beralih memegang pergelangan tangannya dan menariknya paksa menuju kesuatu tempat, wajah pria itu dihiasi senyum licik.

"Tenang saja tuan muda, aku hanya ingin mengajari tuan muda beberapa hal sebagai perlindungan diri, apalagi sekolah akan dibuka sebentar lagi, omong-omong tolong kirimkan salamku untuk Rebecca, kami sudah lama tidak bertemu, aku jadi merindukannya."

Samuel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang