Samuel merasa dirinya sedang berbaring di atas rumput kasar, kicauan burung bergema di telinganya, dan suara air yang mengalir juga memasuki pendengarannya.
Eh... Tunggu!
Suara burung?! Suara air?!
Samuel tiba-tiba membuka matanya, dan merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
Samuel terpaku dengan pemandangan di depannya, matanya melotot, dan mulutnya terbuka lebar.
"Ugh... Kenapa aku disini? Seharusnya aku di rumah sakit. Kenapa pula tempat ini rasanya sangat familiar." Samuel bergumam pelan sambil menelisik ke kanan kiri dengan tangan yang menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal.
Saat sedang menatap pemandangan disana, penglihatan Samuel tiba-tiba menangkap beberapa sosok manusia yang berjalan ke arahnya.
Saat sosok-sosok itu menjadi jelas, mata Samuel langsung berbinar. Ia berdiri, lalu segera berlari dan melemparkan dirinya ke sosok yang berada di tengah.
"Kakek!"
Sosok yang dipanggil kakek membalas pelukan Samuel, tangannya menepuk-nepuk punggung remaja itu, dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Bocah, apa kau hanya mengenali kakek mu hah?!"
Pria yang umurnya kira-kira empat puluh tahun menarik telinga Samuel hingga empunya mengaduh kesakitan sambil melepaskan pelukannya.
Samuel tersenyum lebar, kemudian dirinya memeluk lengan pria itu sambil mendongak untuk melihatnya dengan ekpresi manja.
"Paman~ kau semakin tua."
"Bocah nakal!"
Pria itu memukul kepala Samuel pelan, namun ia orangnya berhati lembut dan mengusap kembali kepala Samuel.
Samuel tertawa keras, lalu mulai menyapa sosok-sosok lainnya yang tak lain tetua dari klannya.
Namun-
Kenapa mereka disini? Kenapa aku disini?
Atau, mungkinkah yang selama ini ia jalani hanya mimpi?
Tidak tidak! Semuanya tidak mungkin palsu.
Mata Samuel dengan cepat menjadi merah.
Memikirkan kalau semua yang dia jalani di dunia lain itu kemungkinan palsu, air matanya segera berjatuhan bagai manik-manik yang terlepas dari benang.
"Huaaaa!"
Samuel memeluk pamannya erat sambil memukul-mukul dadanya
Sang paman hanya memasang wajah memanjakan, mengusap lembut punggung Samuel namun tidak menghentikannya untuk menangis.
Baru setelah mata Samuel bengkak dan hanya isak tangis yang sesekali terdengar, ia membuka mulutnya untuk menjelaskan.
"Tenang saja bocah, ini alam khusus buatan kami, semua yang kau jalani selama ini nyata."
Samuel yang ingin menangis lagi langsung berhenti dan cegukan dengan keras, matanya membelalak kaget. Setelah mencerna perkataan pamannya, senyum sumringah langsung mekar diwajah Samuel, dia melepaskan pelukannya, mengepalkan tangan dan meletakkan didepan mulutnya lalu berdeham pelan dengan mata yang menatap kesana sini tidak fokus.
Sungguh memalukan.
Dia menangis seperti anak kecil.
Untung saja abang-abangnya tidak ada disini atau mereka akan mengejeknya.
"Kenapa paman tidak mengatakannya dari awal." Samuel berbisik di telinga pamannya sambil memukul lengan pria itu, lalu ia kembali berdiri dan mengalihkan topik pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Samuel [END]
FantasiSamuel, seorang kutivator iblis, lebih tepatnya iblis rubah yang akan menghadapi petir surgawi untuk menerobos ke tahapan selanjutnya. Namun sungguh disayangkan, Samuel harus tewas akibat kecerobohannya. Tetapi ini adalah awal dari kehidupan barun...
![Samuel [END]](https://img.wattpad.com/cover/358515793-64-k871439.jpg)