49

737 39 2
                                        

Dua tahun kemudian.

Didalam kamar sebuah mansion yang didominasi oleh warna biru dengan bintang-bintang di langit-langit kamar, dua anak manusia dengan wajah yang seakan dibentuk dalam satu cetakan yang sama sedang tidur bersebelahan, yang membedakan mereka hanya warna rambutnya; Caius mempunyai surai seputih salju, dan Caio mempunyai surai hitam legam. Jika mereka terjaga, warna mata mereka juga berbeda, Caius dengan pupil biru, dan Caio dengan pupil abu-abu.

Disofa, duduk seorang pria yang memakai kacamata berbingkai emas, yaitu Darius, rambut pria itu dipotong pendek, kakinya bersilangan dan sebuah buku terletak di tangannya.

"Darius, aku akan membuatkan susu untuk anak-anak."

Samuel keluar dari kamar mandi setelah menyiapkan perlengkapan mandi baru untuk anak-anak dan menghampiri Darius, dia memeluknya dari belakang, dan mencium pipi suaminya sebentar.

"Biar aku saja."

Darius memalingkan wajahnya ke arah Samuel, dia menarik tangan ramping pria yang memeluknya, memegang tengkuknya erat dan mencium kuat bibir mungil pria itu.

Ciuman keduanya berlangsung lama, dan Darius baru melepaskan Samuel saat pria itu hampir kehabisan nafas.

"Tidak, biar aku saja, kau tunggu disini, mau ku bawakan kopi?" Samuel dengan pipi yang memerah bertanya.

"Baiklah."

"Oke, tunggu sebentar."

"Ya, gunakan liftnya, jangan lewat tangga."

"Baik."

Setelah kepergian Samuel, Darius menatap jam yang menunjukkan pukul 07.29, satu menit lagi sebelum Caius dan Caio bangun.

Darius tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang cemerlang, dia menyeringai lalu berubah menjadi ular besar dan bersembunyi di bawah ranjang.

Anak-anak ini, akan dia beri pelajaran sesekali.

Tepat pada pukul 07.00, Caius dan Caio membuka mata mereka dengan linglung.

Darius bergerak perlahan, tubuh ularnya bergerak zigzag, kemudian, dengan gerakan secepat kilat, kepala besar ular itu muncul di atas Caius dan Caio, mulutnya terbuka lebar yang bisa menelan seluruh tubuh sikembar dengan sangat mudah. Desisan kuat terdengar sangat keras di kamar yang sunyi, dan lidah ular panjang bercabang dua itu bergerak perlahan dan menjilati pipi Caius yang membeku.

"SSSST!"

"HUAAAAAA PAPAAAA!!!"

Caius dan Caio berteriak sekuat tenaga, mereka melemparkan selimut ditubuh mereka sembarangan arah, kemudian keduanya turun dengan cepat dari tempat tidur dan berlari kencang.

Caio karena tidak bisa menjaga keseimbangan hampir saja jatuh, untungnya Caius dengan cepat menangkapnya, dan keduanya kembali berlari dengan tangan bertautan.

Setelah keduanya menghilang dari kamar, Darius berubah kembali kebentuk manusia, dia tertawa terbahak-bahak, sangat senang melihat wajah ketakutan dari anak-anaknya.

Terutama Caio yang biasanya suka bertingkah seperti orang dewasa.

...

Samuel sedang membuat kopi ketika mendengar langkah kaki panik dan teriakan dari anak-anak.

Dia langsung saja meletakkan benda-benda di tangannya, bergegas keluar dan berjalan cepat pergi ke arah suara si kecil.

"PAPAA TOLONG KAMI."

Caius dan Caio, begitu melihat sosok papa mereka langsung saja melemparkan diri kedalam pelukan Samuel.

"P-PA, A-ADA MONSTER DIKAMAR KAMI! U-ULAR BESAR, SA-SANGAT B-BESAR!" Kata Caius yang menjelaskan dengan terbata-bata.

Samuel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang