17

2.1K 199 6
                                        

Happy Reading.

.

Hari-hari berlalu dengan tenang.

Dan Samuel masih melakukan kegiatan seperti biasa, pagi pergi sekolah, makan siang bersama Darius, pulang ke manor saat sore, mandi, makan lagi dan tidur saat malam.

Saat ini Samuel sudah tiba di Akademi.

Dia tidak bersama dengan Darius, karena Darius harus pergi ke tempat para instruktur dan guru.

"Saudara ipar."

Sebuah panggilan membuat Samuel yang sedang fokus berjalan melihat kebelakang ke sumber suara.

"Abang Gavriel, abang Akio." Samuel tersenyum dan menyapa kedua orang yang salah-satunya tadi memanggilnya.

Gavriel yang melihat tidak ada Darius disamping saudara iparnya tersenyum semakin lebar, dia mempercepat langkahnya, dan segera merangkul akrab pundak Samuel.

Sedangkan Akio, dia seperti biasa, hanya mengikuti dengan tenang sambil memasang wajah datar, dan memutar malas matanya saat melihat tingkah Gavriel.

Dan Akio bertanya-tanya di benaknya, apakah bibit keluarga Grace Alister seperti bunglon semua?

Cepat berubah-ubah.

"Jangan bergelantungan padaku, berat."

Samuel mencoba memindahkan tangan Gavriel dari pundaknya, tapi sang empu malah berganti posisi menjadi memeluk lengannya.

Hah.

Seperempat imajimer muncul di kening Samuel.

Tapi sebelum sempat mengambil tindakan, Akio sudah menarik kerah belakang Gavriel dan menyeret noda membandel itu dari Samuel.

Hah....

Kali ini Samuel menghela nafas lega.

Samuel tidak lupa melemparkan tatapan terima kasih kepada Akio yang telah menolongnya.

Adik suami besarnya itu memang sangat suka melekat kepadanya.

Tidak abang tidak adik semuanya sama saja.

Samuel, dan Akio yang menyeret Gavriel, berjalan menuju ke lapangan.

Disana sudah ada banyak orang, dan enam pesawat luar angkasa sudah terparkir rapi ditengah lapangan, bentuknya tidak jauh berbeda dari jet tempur, pesawat luar angkasa bahkan bisa disebut versi kecil dari jet tempur.

Karena ada sistem pertahanan dan serangan untuk perlindungan diri dari pencuri bintang yang sering merampok orang.

Samuel tidak bisa untuk tidak merasa kagum pada karya manusia disini, semuanya terutama sangat canggih, bentuknya yang indah dan kegunaannya yang serba guna.

Bahkan dia baru-baru ini mengetahui kalau pesawat yang pernah keluarganya gunakan juga bisa terbang di luar angkasa.

"Apa planet S-192 sangat jauh?" Tanya Samuel Pada dua makhluk berkaki dua yang mengikutinya dengan pandangan masih tertuju pada pesawat luar angkasa.

"Sangat jauh, tapi tenang saja, kita bisa melompati ruang, namun, karena jaraknya yang jauh kita juga perlu ketempat dimana alat yang digunakan untuk melompati ruang bisa digunakan." Akio menjelaskan dengan suara tenang dan wajah datar.

Postur Akio sangat elegan dengan satu tangan dibelakang, dan tangan lain yang masih memegang kerah Gavriel.

Menahan anak itu supaya tidak berulah lagi.

Samuel mengangguk paham dan menjadi semakin kagum.

Ternyata orang-orang Interstellar juga bisa melompati ruang dengan alat yang mereka ciptakan.

Samuel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang