Darius menginap semalaman di rumah sakit dan mengawasi istri kecilnya tertidur, mungkin karena rasa takut yang tersisa, setiap beberapa detik Darius menurunkan aura keberadaannya supaya tidak membangunkan Samuel lalu memeriksa nafasnya.
Saat merasakan nafas hangat yang menyentuh kulitnya dan denyut nadi yang normal untuk yang sekian kalinya, Darius kembali mendudukkan dirinya disamping tempat tidur.
Didalam ruangan hanya ada Samuel dan Darius, yang lain kembali untuk menyelesaikan tugas yang tadinya ditinggalkan untuk datang ke sini.
Keadaan Kekaisaran masih belum stabil, dan banyak tenaga dibutuhkan untuk menjaga keamanan.
Jadi semuanya sangat sibuk.
Sekitar 45 detik kemudian, Darius kembali beranjak dari tempat duduknya dan kembali melakukan kegiatan yang berulang.
Saat jari telunjuknya diletakkan didepan hidung Samuel, sebuah tangan ramping langsung menggenggam jari miliknya.
Samuel terbangun dengan linglung, karena setengah sadar, dia mengendus-endus jari yang digenggamnya, yang memiliki bau senjata dan darah yang tertinggal.
"Apa aku membangunkan mu?"
Darius memutar lembut tangannya dan menggengam tangan kecil itu, dia bertanya dengan rasa bersalah, sambil mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka keringat di kening dan di hidung Samuel.
"Darius?... Ugh tidak, aku terbangun karena haus." Samuel membalas dengan suara pelan.
Saat Darius mendudukkan dan memberinya minum.
"Jam berapa sekarang?" Setelah mengumpulkan semua kesadarannya, Samuel bertanya.
"Jam 3 pagi, tidurlah lagi."
"Jam tiga... Bagaimana dengan mu? Kenapa kamu belum tidur?"
"Aku menjaga mu."
"Tidak, berbaringlah disampingku, tidur, jangan begadang."
"Tidak..."
"Jangan membantah."
"... Oke."
Darius membaringkan dirinya disamping Samuel dan dengan hati-hati mengubah posisinya supaya Samuel tidak merasa tidak nyaman.
Samuel berbaring menyamping memeluk lengan Darius, matanya setengah menutup, dan dia bisa tertidur kapan saja.
"Baby, aku harus pergi besok, mungkin akan memakan waktu beberapa hari untuk kembali." Setelah terdiam lama, Darius kembali berkata dengan nada rendah. Tangannya bergerak lembut diatas pipi Samuel, dan tatapannya mengandung rasa enggan yang kuat.
"Untuk pergi ke tempatnya mantan kaisar, Katsuro?"
"Ya."
"Tapi aku sudah baik-baik saja. Ramuan itu—kamu tidak perlu mengambilnya lagi."
"Tidak, kali ini aku harus menangkapnya hidup atau mati, mari selesaikan semuanya sampai ke akar-akarnya. Jika tidak, kemungkinan besar kali berikutnya dia pasti akan mengacau di pernikahan kita. Aku tidak mau ada hal yang tidak diinginkan terjadi di pernikahan kita nanti."
Samuel membenamkan wajahnya didada bidang Darius, dia tidak langsung menjawab, pikirannya berputar memikirkan hal-hal apa yang mungkin akan terjadi.
"Mereka pasti telah mengatur jebakan untuk mu."
"Jangan berpikir negatif, walaupun ada jebakan, kali ini aku tidak pergi sendirian, beberapa legiun ikut bersama ku."
"... Baiklah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Samuel [END]
FantasiSamuel, seorang kutivator iblis, lebih tepatnya iblis rubah yang akan menghadapi petir surgawi untuk menerobos ke tahapan selanjutnya. Namun sungguh disayangkan, Samuel harus tewas akibat kecerobohannya. Tetapi ini adalah awal dari kehidupan barun...
![Samuel [END]](https://img.wattpad.com/cover/358515793-64-k871439.jpg)