Dyra duduk termengu di sofa ruang tamu rumah Wulan, tatapannya kosong. Pikirannya kembali diputar pada kejadian tadi sore yang benar-benar begitu cepat terjadi, hingga ia sendiri tidak bisa memproses semuanya.
Tubuh mungil Dyra ditarik pelan untuk lebih mendekat pada Wulan. Wanita yang tengah menggendong anaknya terlihat sangat waspada dengan kehadiran wanita asing yang berkunjung tiba-tiba.
"Lo! Mau apa lagi nemuin Jefian? Nggak cukup lo ngancurin hidup Jefian?!"
Wanita yang tadi dipanggil Talia oleh Wulan menampakkan raut marah, terkesan tidak terima oleh ucapan Wulan.
"Hidup Jefian mana yang gue ancurin, hah?! Lo kalau ngomong jangan sembarangan! Gue cuma mau ketemu tunangan gue, lo malah nyari ribut." Talia mendecak dengan tangan terlipat angkuh di dada.
"Mba?" Dyra menatap Wulan dengan tanya. Tunangan? Siapa yang tunangan siapa?
Talia yang kembali menyadari kehadiran Dyra, kini mengambil langkah lebih dekat dengan wanita yang tengah mengandung itu.
"Gue sampe lupa ada lo. Lo itu pembantu baru Jefian atau... cewe pelarian Jefian?"
"Jaga kata-kata lo! Lo pergi sekarang sebelum Jefian pulang."
"Kenapa gue harus? Lo bisa stop ikut campur urusan gue gak, bajingan!" Talia berteriak marah dengan tangan menepis kasar cengkeraman Wulan.
"Nggak! Gue ngga akan berhenti ikut campur urusan lo, sebelum lo bener-bener enyah dari kehidupan temen gue! Udah paling bener lo ngga usah balik ke Indonesia!"
Sautan saling serang dengan nada tinggi di-iringi dengan suara tangis batita membuat tubuh Dyra gemetar ketakutan, langkahnya ia ambil untuk mundur saat Wulan melayangkan tamparan keras pada pipi Talia.
Semakin lama suara teriak itu tidak terdengar di telinga Dyra, padahal ia tau mereka masih saling bersahutan kasar. Dyra sempat melihat Jefian datang dengan wajah khawatir? Entah, Dyra tidak tau akan ekspresi yang Jefian perlihatkan, begitu abu untuk ditebak.
Tubuh Dyra semakin gemetar saat suara pecahan benda terdengar nyaring, kakinya tidak kuat menopang tubuh serta nyeri yang mulai menjalar di perutnya hingga kini ia terduduk di lantai dengan erangan lirih. Terakhir yang dapat ia lihat hanya raut wajah khawatir Wulan menghampirinya.
"Dyra."
Dyra terperanjat dari lamunannya saat tepukan pelan dilayangkan pada bahunya. Mata sayunya menatap Wulan yang kini duduk di sampingnya dengan raut khawatir.
"Masih sakit perutnya?"
Dyra menggeleng pelan dengan senyum tipis. "Ngga mba."
"Maaf."
"Heum?" Dyra menatap Wulan masih dengan raut tidak berdayanya.
"Maafin mba, mba ngga tau akan kejadian kayak gini."
Dyra memutus kontak mata dengan Wulan, ia tidak mempunyai tenaga untuk marah, ingin menangis pun rasanya sangat melelahkan. Ia masih menertawakan dirinya sendiri atas kebodohannya selama ini. Semua orang sangat pintar menyembunyikan rahasia sebesar itu darinya dengan sangat rapat tanpa satupun rahasia itu ketahuan selama bertahun tahun.
Suara pintu terbuka menampakkan Kendra serta dua pria yang Dyra tau sebagai senior suaminya. Kedatangan mereka langsung disambut marah oleh Wulan.
Dyra tidak ingin lagi mendengar apapun tentang kebenarannya namun, mulut dua senior Jefian tidak bisa ia hentikan dengan hanya kedua tangan mungilnya.
"Talia dan Jefian udah pacaran dari mereka masih duduk di bangku sekolah. Bertahun-tahun bareng, mereka mutusin buat tunangan." Cerita itu mengalir begitu saja di pendengaran Dyra tanpa bisa dihentikan.
"Cerita singkatnya, mereka tunangan cuma buat mempererat status mereka karena, mereka belum mau menikah, lebih tepatnya Talia yang belum siap menikah. Kalau Jefian, udah jelas orang yang paling mau nikahin Talia secepatnya. Karena banyak tekanan dari Jefian dan keluarga Jefian buat buru-buru nikah, Talia mutusin buat break. Hubungan mereka yang sering putus nyambung emang udah gak aneh buat kita. Puncaknya, Jefian ditinggal Talia ke luar negeri buat ngejar mimpinya tanpa kabar dulu ke Jefian. Dua tahun Jefian ditinggal tanpa kabar, kita sebagai teman saranin buat dia lupain Talia dan mulai hidup baru. Emang agak brengsek saran dari kita buat Jefian dengan embel-embel taruhan demi liat Jefian punya semangat hidup lagi."
Dyra sudah mulai pusing mendengar penjelasan mereka yang semakin bertele-tele. Kepalanya semakin berdenyut saat kelanjutan dari cerita mereka sangat menghancurkan perasaannya.
"Dan awal semua ini bisa terjadi, Jefian yang mulai deketin lo di cafe saat itu atas taruhan kita. Kenapa lo? karena cuma lo cewe yang masuk kriteria Jefian dari seluruh pengunjung cafe waktu itu."
Sampah! Dyra ingin sekali berteriak dihadapan mereka. Tindakan, sifat, otak mereka seperti sampah. Namun, pikiran dan hatinya bertolak belakang, Dyra tidak bisa melakukan keinginannya, semua tubuhnya bergetar. Takut, kecewa, marah, semua hanya bisa Dyra tumpahkan pada air matanya.
"Dyra, yang harus lo tau, Jefian bener-bener sayang sama lo. Awalnya kita pikir Jefian emang jadiin lo lampiasan aja selama nunggu Talia balik. Tapi semua perkiraan kita dibantah langsung sama Jefian waktu dia jujur ke kita tentang perasaannya dan mau nikahin lo."
Dyra menggeleng dengan wajahnya yang masih tertunduk. Ia tidak bisa mempercayai semua informasi saat mereka sudah menyembunyikan rahasia itu bertahun tahun, Dyra tidak mau terjebak pada kebodohannya lagi.
"Dyra, gua yakin Jefian sayang dan cinta sama lo. Apalagi ada anak yang lagi dia tunggu-tunggu, udah ya jangan nangis." Kendra memang turut andil dalam menyembunyikan semua kebohongan, tapi ia sangat tau perasaan terdalam sahabatnya itu. Jefian tidak akan pernah bisa bohongin perasaannya sendiri.
Kendra tau sulitnya perjuangan Jefian agar bisa menikahi Dyra, sahabatnya memulai lagi semuanya dari nol untuk menyiapkan tabungan nikah, tabungan setelah menikah, tabungan masa depan mereka, serta tabungan anak-anaknya kelak. Kendra menemani sahabatnya disaat Jefian jatuh di titik terendah, hingga kini menemukan bahagianya pada Dyra.
Dyra menepis tangan Wulan yang mengelus bahunya. "Tunangan dia dimana?" Tanya Dyra dengan suara kecil yang tercekat.
"Talia? udah kita amanin di rumah lain. Masalah Jefian sama Talia, mereka lagi selesai—"
"Saya permisi pamit pulang." Dyra memotong ucapan pria dewasa di hadapannya. Tubuh lelahnya ia paksa bangkit dan berjalan meninggalkan kediaman Wulan. Sempat dicegah, namun dengan kasar ia tepis.
"Saya cuma mau pulang ke rumah, saya cape." Mendengar keputus asaan dari suara Dyra, mereka menyingkir dan memberikan Dyra jalan.
👣👣👣
"Jangan ganggu istri aku, aku mohon sama kamu." Jefian tertunduk dengan tubuh terduduk di lantai. "Jangan ganggu keluarga aku." Lirihnya.
"Kamu jahat! Kita masih tunangan dan kamu nikah sama cewek lain. Dimana hati nurani kamu!"
"Ta, aku tau salah. Tapi aku mohon jangan sakitin istri aku, dia lagi hamil besar." Jefian terlihat seperti orang bodoh saat ini, menjatuhkan harga dirinya demi sang istri karena sejak tadi Talia terus mengancam dengan nyawa.
"K-kamu janji mau nik-kahin aku kalau aku udah puas gapai cita-cita aku, ta-tapi apa? Hiks.. hiks.. kamu jahat Je."
Jefian menggenggam erat kedua tangan gemetar Talia, wajahnya ia sembunyikan di genggaman erat itu.
⌒ ⌒ ⌒ ⌒
Haii, bisa nembus 100 like kah
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Clue
Fanfiction●Jaedo Dyra sangat bersyukur mempunyai Jefian dalam hidupnya. Pria kaya raya yang sudi menjadi kekasih dan akan menikahi orang biasa seperti dirinya, pria yang menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Namun, apakah Dyra selalu akan mengucap syuk...
