Berangkat sekolah adalah hal yang selalu Jefian tunggu. Bukan untuk mengambil ilmu dari guru, melainkan bertemu sang pujaan hati.
Talia namanya, gadis manis idola banyak pria. Parasnya yang ayu, tutur katanya yang lembut serta tingkahnya yang sopan membuat Jefian langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Banyak cara Jefian lakukan sampai bisa menjadikan Talia kekasihnya. Wanita itu sulit sekali diluluhi dengan kalimat manis yang biasanya selalu membuat wanita manapun luluh oleh Jefian. Sebab itu, adrenalinya terpacu untuk bisa mendapatkan gadis primadona sekolah.
Semakin dibuat jatuh cinta Jefian oleh Talia setelah mereka resmi menyandang status pacar. Perhatiannya gadis itu, mandiri, ceria dan sifat yang selalu bisa membuat Jefian berkali-kali merasakan jatuh cinta.
Rasa sayang Jefian semakin tinggi saat kekasih hatinya itu memperjuangkan cita-cita Jefian yang ditentang keras oleh orangtuanya. Gadis itu meyakinkan orangtuanya bahwa Jefian bisa dan suatu saat akan menjadi arsitek hebat.
Rasanya Jefian tidak ingin kehilangan Talia, sebab itu setelah kelulusan sekolah dan kuliah di jurusan yang sangat ia idamkan, Jefian mengajukan keinginan untuk mengikat Talia oleh cincin pertunangan. Ditentangnya keinginan Jefian tidak membuat pria itu langsung menyerah.
Talia itu gadis mandiri, memperjuangkan dirinya sendiri untuk bisa hidup dengan bekerja keras. Gadis yang ditinggal oleh kedua orangtuanya dan dititipkan seorang adik yang terpaut dua tahun darinya. Sebab itu, Jefian ingin sekali melindungi kekasihnya, ingin membangun rumah tangga yang selalu mereka ceritakan setiap kali berkencan.
Namun, semua berubah setelah pertunangan mereka lakukan. Talia berubah menjadi kasar dengan cepat, sampai otak Jefian tidak bisa memproses semuanya dengan nyata.
"Kamu tol*l banget sih, goreng telor aja ngga bisa!"
"Maaf sayang, aku belum biasa sama dapur."
Umpatan kasar Talia selalu Jefian abaikan seperti angin lalu, sebab ia pikir kekasihnya memang tengah lelah. Kuliah sambil bekerja memang tidak mudah, jadi Jefian mencoba untuk memaklumi.
Plak
"Anj*ng! Kamu bisa ngga sih, sehari aja jangan ganggu?! Liat! Pecah parfume baru aku beli."
"Maaf, aku ngga sengaja loh. Nanti aku beliin lagi ya. Udah, kamunya jangan marah terus."
Tangan Talia mulai bermain kasar. Lagi, Jefian memaklumi dengan segala kebaikan gadis itu yang selalu ia ingat agar kejahatan kecil tidak membuatnya langsung membenci. Bodoh, ya katakan Jefian bodoh karena menaruh seluruh hatinya untuk Talia.
Semampu mungkin, Jefian akan membahagiakan Talia sekalipun kekasihnya meminta hal yang paling mahal. Jefian kuras banyak tabungan hanya untuk memuask ego kekasihnya, juga menguras banyak tabungan dari orangtuanya hanya untuk mempercantik kekasihnya yang ingin menjadi model.
Sampai pada titik lelahnya, Jefian menyatakan pada kekasihnya ingin mengakhiri hubungan mereka. Namun, yang Talia lakukan adalah membuat Jefian merasa bersalah dan berhutang budi.
"Kamu jahat ninggalin aku, Je. Kamu ngga inget ya, aku perjuangin mimpi kamu sampai jatuhin harga diri aku di hadapan keluarga mu? Kamu ngga akan bisa sampai titik ini kalau bukan karena aku!"
Semua perkataan manipulatif Talia membuat Jefian bungkam. Apa lagi, kini Jefian terlihat seperti pria paling jahat di hadapan keluarga besarnya. Kekasihnya itu selalu bisa membuat dirinya sendiri menjadi orang yang disakiti, membalikkan cerita dan keadaan yang membuat Jefian tersudut. Ingin membela diri pun tidak diizinkan karena mereka sudah tersulut cerita Talia yang dibuat begitu menyedihkan.
Jadi, apa yang Jefian lakukan? Diam. Kembali menerima makian merendahkan serta tangan kasar Talia. Jefian seakan sudah mati rasa, tidak bisa merasakan kembali cinta yang menggebu gebu saat pertama mereka bertemu.
Hingga Jefian kembali merasakan kasihnya saat kabar duka datang dari adik laki-laki Talia. Kecelakaan yang merenggut adik kekasihnya saat berkendara bersamanya. Jefian kembali harus menopang gadis yang kini beranjak menjadi wanita dewasa. Talia dulu seakan kembali, gadis manis dengan sejuta kelembutan. Jefian luluh kembali pada pesona Talia. Sampai Jefiam tidak sadar bahwa dirinya kembali dimanfaatkan oleh Talia.
Kekayaan Jefian menjadi batu loncat Talia untuk mewujudkan mimpinya menjadi model. Wanita itu menjadi sering meninggalkan Jefian dengan ancaman yang membuat Jefian tunduk.
"Aku besok mau ke paris."
"Mendadak banget?"
"Sebenernya ngga mendadak, udah dari dua minggu lalu rencananya. Aku dipilih jadi model di Paris." Nada ceria itu mengurungkan niat Jefian untuk marah, padahal mereka baru saja memulai pembicaraan tentang pernikahan.
"Aku di Paris sekitar dua bulan, jangan ganggu aku selama aku disana."
"Itu lama, gimana sama persiapan nikah kita? Orangtuaku udah tanyain terus loh, Ta."
"Ck, aku ngga ada bilang mau nikah didekat-dekat ini. Karir aku masih panjang, kalau aku nikah kesempatan buat jadi bintang bakalan ilang, tau?!"
"Tunggu waktunya aku puas sama impian aku. Sampai situ, kamu jangan berani-berani main belakang! Inget, kamu hutang nyawa adik aku."
Ancaman itu yang membuat Jefian selalu dihantui mimpi buruk yang membuat ia selalu rutin kontrol dengan ahli kejiwaan. Kejadian kecelakan saat itu tidak pernah hilang disetiap tidurnya, teriakan, makian serta darah seakan betah memutari isi kepalanya.
Bukan Jefian yang membunuh adik Talia, ia juga korban. Saat itu Jefian tidak tau bahwa Kevin– adik Talia, tengah dalam pengaruh obat, Jefian yang lelah setelah seharian berkutat dengan segala tugas, menyetujui ajakan Kevin yang ingin menjemputnya dan kebetulan, mobil miliknya tengah dipinjam oleh adik dari kekasihnya.
Namun, perasaan bersalah selalu menghantuinya. Kalimat, mungkin jika ia tidak menyetujui ajakan Kevin, tidak akan seperti ini. Mungkin jika ia tidak meminjamkan mobilnya pada Kevin, tidak akan seperti ini. Dan apakah mungkin jika ia tidak jatuh cinta pada Talia, semua ini tidak akan terjadi?
Dua bulan tanpa Talia membuat hidup Jefian tenang sesaat, kini wanita itu kembali. Kembali hanya untuk membuat Jefian gila.
Bagaimana tidak, wanita itu menyebar foto serta video mereka yang tengah make out dan menangis di hadapan keluarga besarnya. Mengaku bahwa dirinya telah merenggut mahkota yang sangat dijaga itu.
Jefian mengakui mereka memang pernah melakukan make out, tapi hanya sebatas itu, tidak lebih, itupun atas consent keduanya. Pacaran bertahun-tahun, sesekali tidur di satu ranjang yang sama, memungkinkan bagi mereka untuk terbui nafsu setan. Jefian mengakui perbuatannya tersebut tetap brengsek, tapi tidak dengan berhubungan badan, ia tidak pernah melakukannya dan tidak ingin. Ia berani bersumpah.
Hal itu menjadi kartu AS Talia untuk terus mengikatnya, karena wanita itu tau Jefian tengah melakukan pendekatan pada wanita lain untuk pelarian.
Ia hanya lelah, butuh penyanggah yang bisa menopang dirinya. Setelah ditinggal lagi dua tahun tanpa kabar dari Talia, Jefian menemukan penyanggah untuk tubuhnya itu.
Dyra namanya, gadis lugu berkucir kuda yang ia ajak kenalan waktu itu.
Gadis yang membuatnya tidak membutuhkan bantuan psikolog lagi, gadis yang kembali mewarnai harinya serta mengembalikan kepercayaan dirinya yang dikubur dengan rasa takut.
Hubungan mereka matia-matian Jefian sembunyikan. Ia tidak mau hal tidak diinginkan terjadi sebab, untuk kali ini jefian benar-benar mencintai Dyra, tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Dibantu keluarga serta sahabatnya, Jefian bisa menyembunyikan kebohongan ini tanpa terbongkar dan ketahuan oleh Talia maupun Dyra.
"Minggu depan mas harus balik lagi Ke Kalimantan. Mas tanya sekali lagi sama kamu. Mau nikah dengan mas? Mau buat keluarga kecil harmonis bersama mas? Mau bangun rumah berdua yang diisi teriakin anak kecil, bersama mas?"
Binar mata bulat itu tidak akan pernah Jefian lupakan, senyum malu-malunya dibarengi anggukan yakin, tidak akan pernah Jefian lupakan. Jefian terlalu bahagia saat itu, sampai melupakan masih ada masa lalu yang belum ia selesaikan.
⌒ ⌒ ⌒ ⌒
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Clue
Fanfiction●Jaedo Dyra sangat bersyukur mempunyai Jefian dalam hidupnya. Pria kaya raya yang sudi menjadi kekasih dan akan menikahi orang biasa seperti dirinya, pria yang menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Namun, apakah Dyra selalu akan mengucap syuk...
