Hari ini tiba. Hari di mana keempat siswa yang melanjutkan lomba lokakarya UNICEF akan terbang ke Okinawa. Perjuangan melanjutkan lomba untuk sampai ke babak final yang berlangsung selama empat hari.
Naruto, Sai, dan Sasuke sudah tiba di Bandara Internasional Tokyo didampingi oleh Kakashi dan Yamato. Mereka menunggu Sakura di pintu keberangkatan. Naruto, Sai, dan Sasuke semalam menginap di apartemen Kakashi supaya lebih mudah mempersiapkan keberangkatan. Yamato menyusul langsung menuju ke bandara. Karena salah satu peserta ada yang perempuan, mereka menunggu kehadiran Sakura yang diantar oleh kedua orang tuanya.
Lima menit kemudian, Sakura datang menyeret koper didampingi kedua orang tuanya. Senyuman lebar Sakura menyapa teman laki-lakinya dan guru pendampingnya.
"Maaf lama menunggu. Tadi sedikit macet di jalan," kata Haruno Kizashi, ayah kandung Sakura.
"Tidak apa-apa, Haruno-san. Kami belum lama tiba di sini," ucap Kakashi sopan. "Terima kasih sudah mengantar Sakura."
"Sama-sama, Kakashi-sensei. Saya senang Sakura dan temannya lanjut ke tahap berikutnya. Sungguh kebanggaan bagi kami sebagai orang tua mendukung prestasi anak-anaknya," terselip nada bangga Kizashi di hadapan Kakashi.
"Doa orang tua adalah doa yang terbaik, Haruno-san. Mohon doanya supaya anak-anak diberikan ketenangan dan kelancaran mengikuti lomba."
"Tentu, Kakashi-sensei."
"Oh iya, ada sarapan untuk kalian semua. Nanti Sakura bagikan untuk dimakan di pesawat," pesan Mebuki.
Mengingat sebentar lagi waktu keberangkatan tiba, Sakura berpamitan memeluk kedua orang tuanya. Wajah Sakura tidak luput dari kecupan kasih sayang kedua orang tuanya. Naruto, Sasuke, dan Sai juga mendapatkan pelukan hangat dari ayah dan ibu kandung Sakura. Tidak lupa mereka diberikan ucapan semangat dan minta tolong untuk menjaga Sakura selama di Okinawa. Setelah berpamitan, mereka melanjutkan pemeriksaan koper dan check-in menuju pesawat.
***
Di dalam pesawat, Sakura duduk di dekat jendela. Dalam satu baris, Sakura duduk bersama Sasuke dan Naruto. Sedangkan di belakang mereka ada Sai bersama Kakashi dan Yamato. Mereka berada di dalam pesawat selama dua jam tiga puluh menit perjalanan menuju Okinawa.
"Sandwich buatan ibumu enak, Sakura-chan !" kata Naruto sambil mengunyah sandwich yang diberikan Sakura saat di dalam pesawat. "Di bandara tadi belum sempat beli sarapan. Padahal aku ingin makan ramen dulu sebelum check-in."
"Perutmu bisa bermasalah kalau pagi-pagi sarapan ramen. Jangan terlalu sering makan ramen jika kau mau berumur panjang," omel Sakura ke Naruto.
"Heehh, memangnya sarapan pakai ramen bikin cepat mati ? Kau menakutiku saja, Sakura-chan."
"Terserah. Kalau kau sayang ususmu yang bekerja keras untuk memproses ramen yang kau konsumsi, Tuhan akan memperpanjang umurmu."
"Kau savage sekali, Sakura-chan."
"Aku akan mengawasimu selama di Okinawa untuk mengurangi makam ramen, mau yang instan atau bukan."
"Padahal kalau aku mulai stres, pelampiasanku hanya melalui ramen. Empat cup ramen sudah cukup buatku kembali bersemangat," ucap Naruto meratapi nasib jika sehari tanpa ramen.
"Aku usahakan kau memakan makanan yang menyehatkan, Naruto."
Sasuke yang duduk diapit Sakura dan Naruto tidak tahan untuk tertawa pelan. Obrolan mereka bagai ibu dan anak. Saling menyanggah, mengomel, dan menasehati.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVING HIM WAS RED
FanfictionKetika aku menyadari ada perasaan yang mulai masuk dan menjalar ke seluruh tubuh, aku merasakan semua hormon ini berkerja berlebihan. Pipiku bersemu merah, jantungku berdegup lebih cepat, perutku serasa dipenuhi kupu-kupu, dan di kepalaku berputar-p...
