Pesta itu cukup elegan, seperti pesta-pesta orang kaya pada umumnya. Walau diselenggarakan di rumah pribadi, ruang serbaguna yang digunakan mirip sebuah aula besar. Yang berbeda adalah dua tangga yang menuju ke lantai dua, tempat kamar dan ruang pribadi.
Arthit berdiri di dekat tangga kiri, masih bergandengan tangan dengan Mick. Ia tersenyum pada semua orang. Pamannya sedang sibuk dengan para tamunya, begitu juga sang ayah. Sementara itu, mempelai pria masih berada di ujung ruang dekat pintu masuk.
Arthit menilik situasi dan menemukan dua orang juniornya. Itu bukan masalah.
"Arthit, kemarilah..." suara pamannya memanggil. Ini adalah tanda bahwa permainan akan dimulai.
Arthit melihat ke arah suara pria itu. Ada empat orang yang berdiri di dekat Krishna: Cherry, serta pasangan *feminine male* dan *super male*, dan seorang pemuda *super male* yang tak asing baginya.
Arthit berjalan mendekat sambil tetap bergandengan tangan dengan Mick. Ia mengerutkan kening melihat Jay di pesta ini.
Jay juga terlihat terkejut saat melihat Arthit.
"Ini anakku..."
"Oh, aku anakmu?" kata Arthit memotong ucapan Cherry. "Aku ingat kita bertemu tiga atau empat tahun lalu saat kau menikahi ayah."
"Kau..." Cherry mulai memanas.
"Arthit!!"
"Apa, ada apa, Paman?" suara Arthit terdengar manja dan main-main.
"Jangan kurang ajar..."
Arthit mengedipkan mata dan berakting tak mengerti. "Dia yang mengaku-aku ibuku, padahal dia hanya istri ayahku..."
"Sudah... Sudah... Nak, kamu harus menghormati orang tua, walau bukan ibu kandungmu," kata pria *feminine male* itu dengan lembut dan tutur kata yang tertata rapi.
"Paman... Tak perlu sesopan itu," Arthit tersenyum manis. "Kita berhak berkata apapun, seperti mereka mengatakan apapun pada kita."
"Maksud..."
"Arthit, ibuku tidak terpaksa..." Jay berbicara.
"Oh ya? Yakin?" Arthit meragukan. Ia membawa Mick berjalan mendekati Jay. "Aku tahu kenapa pamanku memanggilku. Ini... baju untuk bertemu dengan calon pasangan, untuk setiap *feminine male* di keluarga ayahku."
Arthit menunjuk baju yang ia kenakan. "Namun... Aku tidak tunduk pada keluarga ayahku..."
Semua terdiam. Krishna terlihat marah besar. Ia tak pernah menyangka keponakannya akan bersikap tak terkendali seperti ini. Dalam kemarahannya, Krishna ingin menarik Arthit, namun berhenti ketika Korn menangkap tangannya. "Apa maksudmu ini?"
"Perintah. Tidak ada yang bisa menyakiti Tuan Muda."
"Aku per--"
"Ini perintah teratas. Tidak ada yang bisa membatalkannya kecuali jika ia melanggar hukum," kata Korn dengan tenang.
Krishna menatap dengan bingung pada prajurit muda itu. Ia tak mengerti kenapa keponakannya begitu penting bagi militer, bagai seorang pemimpin negeri. Sebenarnya, siapa anak ini?
Namun itu bukan hal penting untuk sekarang. Ia harus meminta maaf atas kejadian yang disebabkan Arthit. "Mick, temui Carlos. Dan Arthit, jangan cari gara-gara lagi..."
Arthit mengangkat bahu tak peduli dengan pamannya, lalu menjauh dari Jay dan para orang tua sambil membawa Mick kembali. "Korn, jaga Mick dan pacarnya," katanya sambil meminum jus yang ia ambil dari nampan yang dibawa pelayan. Ia menyerahkan tangan Mick kepada pelayan berkulit cokelat gelap itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Weak Feminine
Science FictionArthit adalah senior tingkat 3 yang menjadi ketua panitia ospek yang galaknya minta ampun, orang mengira ia adalah super male yang memiliki lebih dari satu kromosom Y. Tapi ada satu anak baru yang cukup gila menggodanya dan ingin menjadikannya ibu d...
