Munculnya sang pelakor

2K 210 88
                                        

Jam sudah menunjukan pukul sembilan namun kamar rawat v di lantai empat yang bertuliskan nama Arthit itu masih sangat lenggang, satu pasien dan dua penunggu masih terlelap. Walau ada beberapa orang masuk ke dalam mereka tak terusik sama sekali.

Pria paruh baya dan berjas putih yang baru saja masuk dengan para android menghela napas. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Pria itu ingin memeriksa pasien, tapi semua orang di kamar ini masih nyenyak tidur.

"Ehem!!" pria itu berdehem keras. Berharap itu cukup untuk membangunkan salah satunya. Dan harapan itu terkabul, satu yang berada di sofa mulai menggeliat, dengan perlahan membuka mata indahnya. Eijun melihat sekeliling, agak terkejut melihat dokter paruh baya yang berdiri di ambang pintu.

"Oh. Mau periksa?" tanya Eijun sembari bangun dari duduknya, berjalan ke arah Noh yang masih tertidur. "Hei!! Noh! Bangun!!"

Eijun membangunkan Noh dengan kasar, teriakannya bukan hanya membangunkan Noh tapi juga sang pasien. Arthit mengeram, perlahan membuka matanya bersamaan dengan noh yang mendudukkan diri.

"Ada dokter yang mau periksa." kata Eijun seraya menunjuk pria berjas putih yang masih berdiri di depan pintu bersama dua android yang berada di sisi kiri dan kanannya.

"Pagi. Saya dokter Aghasa, dokter kandungan feminin male." ucap pria itu tersenyum seraya mendekati ranjang Arthit.

Arthit terbangun dengan rambut tergerai dan beberapa helai rambut menutupi sebagian wajahnya yang cantik dan tampan secara bersamaan. Seandainya dokter itu lebih muda bisa dipastikan ia akan tergoda oleh pemuda yang terlihat masih linglung itu. Arthit duduk di ranjang dengan raut yang masih mengantuk.

"Apa masih sakit?" tanya dokter itu sembari mendekat dan mulai memeriksa Arthit. Para android memeriksa tekanan darah pemuda itu.

Arthit menggeleng. "Sakit biasa, dok."

Dokter paruh baya itu mengangguk, mengerti.

Eijun dan Noh duduk di sofa memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Arthit, suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka berdua. Tiga orang memasuki ruangan itu, satu orang pria tampan dengan sedikit kerutan di wajahnya, ia tegap memakai pakaian ketat berwarna biru putih, ada lima bintang di kedua pundaknya, gelang biru metalik nya terlihat makin menunjukkan aura dominasinya. Di sisi kanannya seorang wanita berumur empat puluh akhir, cantik namun wajahnya bagai memakai topeng, ia memakai gaun pesta yang mencolok. Dan terakhir seorang gadis yang memakai baju simpel, terlihat polos. Berumur dua puluh tahun.

Saat melihat siapa yang masuk Noh langsung berdiri memberi salam pada pria tegap itu. "Oh. Paman datang?" sapa Noh, mendekat ke arah pria itu.

"Aku baru bisa datang sekarang, ada pertemuan dengan perdana menteri−paman Mick di luar kota."

Arthit yang mendengar suara yang dikenalnya langsung tersenyum senang. "Ayah!!" seru manja sambil merentangkan tangannya, minta dipeluk.

Ayahnya tersenyum ramah, ia mendekati ranjang Arthit dan memeluk sayang anaknya. Dokter yang ada di sampingnya tersenyum simpul, lucu. Pikirnya.

"Apa yang terjadi pada anakku, dok?" pria itu bertanya pada dokter paruh baya yang berada di seberangnya.

"Dia mengalami pendarahan hebat pada rahimnya dan−"

"Apa dia hamil!?" tiba-tiba wanita yang bermake up tebal berseru, marah. Tak tahu dari mana ia mengambil ide itu. Arthit ingin sekali melempar bus atau perahu titanic ke arah wanita itu, kali saja bisa jadi gunung jadi saat perahu itu terbalik akan mengubur nenek sihir itu.

"Yak! Aku tidak pernah melakukan itu. Jangan sembarangan, nenek!!" teriak Arthit, tak terima. siapa yang terima dibilang hamil, memang dikira diri mau di bawah? Hah? Dia memang tak masalah jika nanti dia jadi seperti ibunya yang juga seorang feminin male. Walau ibunya lebih memilih untuk berpenampilan feminin dan menikah dengan pria, tapi ia lebih suka maskulin dan ia juga tak mau berkencan dengan pria sembarangan, ia masih bingung dengan orientasi seksualnya.

Weak FeminineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang