"Raja keluar? Ke mana dia pagi-pagi begini?" Ucap Rey setelah Bejo mengatakan bahwa Raja keluar pagi pagi buta.
"Kami belum bisa memastikannya Tuan, saya sudah menyuruh orang untuk terus mengawasi pergerakan Tuan Raja. "
Rey mengangguk, "Raka dan Arja?"
"mereka menunggu anda untuk sarapan bersama, Tuan."
••••••••••••••••••••••••••••••
Arka mengerjap, tubuhnya terasa sulit digerakkan. Ia mencoba menghalau tangan berat yang berada di perutnya.
Sayangnya, tangan itu malah semakin memeluk Arka erat. Pinggang Arka di tarik, sosok itu memeluk Arka erat
Bahkan tanpa menatap wajah sosok tersebut Arka sudah tau. Siapa lagi yang posesif begini di keluarga Maheswara kalau bukan Bang Ion (Benedict). Apalagi badan kekarnya yang membuat Arka tak dapat bergerak.
"ugh, Bang Ion.., sesak"
Arka benar-benar sesak. Sosok itu memeluknya terlalu erat, bahkan Arka sampai dibuat tak bisa bergerak karenanya.
Tak lama, pelukan itu mengendur, Arka langsung melepaskan diri dari jeratan itu dan kembali tidur dengan membelakangi si empu.
Namun, rupanya sosok itu tak mau melepas pelukan Arka. Dari belakang, ia menarik pinggang Arka dan memeluknya. Arka tak berontak. Setidaknya ia masih bernapas.
"baby, ayo bangun. Ini sudah pagi"
Suara itu membuat Arka mau tak mau membuka matanya. Didapatinya Benedict duduk di sampingnya dengan mengelus rambut Arka.
Tunggu, jika itu Benedict, lantas siapa yang memeluknya? Arka langsug berbalik ke belakang. Ia tersentak lantaran langsung disuguhkan dengan tatapan sayu Raja. Pria itu tersenyum melihat wajah adiknya yang berjarak beberapa centi saja.
Cup
"ee-i-itu A-Arka ke kamar mandi dulu" anak itu segera berlari menuju kamar mandi, wajahnya merah menahan rasa malu. Siapa yang tau kalau itu ternyata Raja?
Berbeda dengan dirinya, Raja Dan Benedict terbahak melihat adik mereka yang salah tingkah.
Selang beberapa waktu, Arka sudah siap dengan setelan santainya. Namun ketika ia hendak turun, ponselnya bergetar menampilkan panggilan grup dari Harris dan Gevan.
"Hey, baby man kemana? Sudah rapi begitu?"
"Jalan-jalan tuh dad, tapi Gevan ga diajak"
Bibir bocah itu mengerucut." Ughh, yaudah deh, Arka balik aja sekarang"
Mendengar penuturan tersebut membuat tawa ketiganya tergelak. Mudah sekali menjahili si bungsu ini.
"No baby, Abang hanya bercanda. Lagipula hari ini abang juga ada rapat."
FYi, Sejak setahun lalu, Gevan sudah diajari untuk mengelola perusahaan cabang milik Haris. Awalnya Haris hanya menyerahkan 1 cabang kecil perusahaannya saja, namun setelah kemampuannya meningkat, perusahaan cabang yang awalnya kecil itu berkembang dan Haris juga menambahkan tugas untuk putranya, ia memberikan ¼ dari perusahaannya untuk dikelola Gevan hingga saat ini. Tentu saja Haris melakukan ini untuk bekal Gevan melanjutkan bisnis sang Ayah.
"Adek udah siap?" Tanpa mengetuk pintu, Raja memasuki kamar sang Adik. Buru-buru Arka mematikan ponselnya dan berjalan menuju Raja.
Keduanya memutuskan turun menggunakan lift. Hanya keheningan yang mengisi ruang sempit itu. Arka yang memainkan ujung bajunya dam Raja yang terus memperhatikan Arka.
Ting!
Arka hendak melangkah keluar, namun tangannya tertahan. Raja menarik bocah itu dan mengangkat Arka ke dalam gedongannya, kamudian berjalan keluar menuju meja makan.
Benedict, Brama, Bara, dan Karan sudah siap disana. Ada 2 kursi kosong yang tersisa, 1 disamping Karan dan satu lagi disamping Benedict. Raja mengambil kursi disebelah Karan, pria itu menempatkan Arka dalam pangkuannya mengundang decakan kesal dari Benedict.
"Arka, kemari. Duduk di samping Abang." Titah Benedict tak terbantahkan.
Namun tangan kiri Raja masih tetap melingkar di perut Arka. "Disini saja bersama Abang, hmm" bisiknya pelan pada Arka.
Arka menatap Raja, kemudian menatap Benedict kembali, wajah abang sepupunya terlihat tak bersahabat, tapi dia juag tak bisa melepaskan cekalan Raja.
Ya Tuhan, bagaimana ini 🥲
"Biarkan Arka bersama Raja, mereka baru saja bertemu" akhirnya Karan bersuara, membela Raja yang membuatnya tersenyum menang.
"ck. Lihat saja nanti" cibirnya tak terima karena harus mengalah pada sepupunya.
•••••••••••••••••••••••••••••••••
Seharian ini Raja mengajak Arka jalan-jalan ke berbagai tempat. Mulai dari taman, wahana permainan, dan mall. Raja bersyukur karena Arka tak terlau canggung bersama dirinya.
Dan di sini lah mereka berakhir, sebuah restoran mewah pilihan Raja. Sebenarnya Arka mengajaknya makan malam di pinggir jalan saja, namun Raja menolak dengan halus. Kurang higenis katanya.
Beberapa saat kemudian, beberapa hidangan mewah datang. Arka menatapnya terpana. Sepiring steak dihidangkan dihadapannya. Setelah pelayan tersebut pergi, Raja mengambil alih piring Arka, membuat steak tersebut menjadi beberapa bagian kecil yang sekiranya cukup masuk ke dalam mulut Arka.
Piring itu disodorkan lagi, Arka menatapnya berbinar, "trimakasih, Abang"
Ketahuilah, meski sering bersama Haris yang merupakan kelaurga kaya, Arka belum bisa menggunakan pisau dengan baik ketika makan.
Arka melahap daging itu, menikmati kelezatan disetiap gigitannya. Raja yang memandang sang adik begitu menikmati makanannya tersenyum senang, dan tanpa mereka sadari, seseorang memotret mereka berdua dari sudut ruangan.
•••••••••••••••••••••••••••••••
Bejo menyodorkan beberapa lembar foto kegiatan Raja hari ini. Rey yang menerima dan melihat foto-foto itu mengernyit bingung, siapa remaja di dalam foto itu?
Pikiran Rey meliar, putranya bukan seorang pedofil, kan?
Sayangnya foto remaja itu tak terlalu jelas. Mereka hanya mendapatkan foto punggung sempit yang selalu digandengn Raja.
Hingga di foto terakhir, foto di sebuah restoran, mereka mendapatkan pitret dari samping, memperlihatkan bagian samping wajah remaja itu.
"Siapa dia? Kenapa, kenapa tidak asing?"
••••••••••••••••••••••••••••••••
Jangan lupa vote nya man teman 🌟🌟🌟
Lanjut ga?
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka Putra
बेतरतीबNO BXB! JUST BROTHERSHIP!!! Luka, penolakan, Kehidupan Arka kecil memprihatinkan, dimana ia tak diterima oleh sang ayah, dan dibenci oleh saudaranya. Berharap disayang tentu, namun apa daya, bagi mereka, Arka hanyalah benalu yang tak seharusnya ada...
