H A P P Y R E A D I N G
JANGAN LUPA VOTE DULU!🌟
_______________________________________
Raja mengajak adiknya tidur di rumah miliknya. Ya, rumah, bukan mansion. Raja sendiri memang menyukai sesuatu yang simpel dan minimalis, seperti rumah sederhananya.
Walau tidak bisa disebut sederhana juga.
Pasalnya Raja membangun rumah kecil yang cukup mewah. Memiliki 4 kamar, sebuah dapur, ruang makan, ruang tamu dan ruang keluarga. Jangan lupa ada taman yang cukup luas di belakang rumah itu.
Sebuah rumah yang tenang untuk keluarga kecil.
Raja mengangkat tubuh Arka keluar dari mobil. Anak itu tertidur dalam perjalanan pulang. Maklum, seharian tanpa istirahat mereka menghabiskan waktu dan rindu.
Raja merebahkan adik bungsunya di kasur king size kamarnya. Setelah melepaskan sepatu Arka, Raja menyelimuti adiknya sampai sebatas dada dan mengatur suhu ruangan agar tidak terlalu panas atau dingin.
Pria itu memasuki kamar mandi yang tersedia di dalam ruangan untuk membersihkan diri. Setelah mengganti baju, ia mengambil tempat di samping Arka.
Raja menatap wajah damai adiknya yang telah menghilang selama beberapa tahun. Raja masih tak percaya hari ini telah tiba, hari dimana ia bersama adiknya lagi.
Cup
Kecupan hangat itu mendarat di kening Arka. Raja tersenyum tipis, adiknya sangat menggemaskan.
"Jangan pergi lagi, okey?"
•••••••••••••••••••••••••••••
Rey masih termenung di sofa ruang tamu. Ia masih syok dengan berita yang dibawa orang tuanya tadi.
Tidak, itu tidak mungkin.
Rey berusaha menepis kemungkinan buruk yang melayang di pikirannya. Pria itu menatap ponsel di genggamannya. Ia menekan tombol panggilan, berusaha menghubungi Raja untuk mencari kebenaran, namun nihil. Raja tak dapat dihubungi.
Tentu saja, selarut ini, mungkin putra sulungnya itu sudah tidur.
Flashback.
Kedua orang tua Rey dan Aaron berkunjung ke kediaman Rey. Mereka berdua menyuruh seluruh anggota keluarga untuk datang termasuk Raka, Arja, dan putra Aaron ; Felix.
Mereka berkumpul tanpa Raja tentunya. Raja sendiri yang menolak menghadiri pertemuan itu. Alasannya karena pekerjaannya terlalu menumpuk. Raka sudah bilang jika ini menyangkut Bunda mereka namun Raja memutus panggilan itu.
"Tak apa. Mungkin Raja sudah tau," ucap oma menenangkan Raka.
Raka mengernyit, "maksud Oma?"
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, menggiring Raka untuk duduk.
"Kalian tau anak buah kami terus mencari jejak Karin dan Arka."
Rey mengangguk. Bukan hanya orang tuanya. Rey, bahkan Aaron juga turut membantu pencarian itu.
"Minggu lalu anak buah Daddy melaporkan sesuatu, ia tak sengaja melihat Raja mengunjungi sebuah makam"
Pria tua itu menarik nafas panjang, "dan tentu itu bukan makam kakek dan nenek kalian dari Karin, karena makam mereka ada di Solo"
"Setelah Raja pergi, anak buah Daddy memutuskan untuk memeriksa itu makam siapa, dan di batu nisannya tertulis-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka Putra
CasualeNO BXB! JUST BROTHERSHIP!!! Luka, penolakan, Kehidupan Arka kecil memprihatinkan, dimana ia tak diterima oleh sang ayah, dan dibenci oleh saudaranya. Berharap disayang tentu, namun apa daya, bagi mereka, Arka hanyalah benalu yang tak seharusnya ada...
