Genre : fantasi-mistery-thriller
****
"Jangan pernah sesekali tunjukkan kelemahan kamu kepada siapapun, kita ga pernah tau yang mana teman dan lawan."
****
"Musuh paling berbahaya ada orang terdekatmu dan kejahatan akan selalu mengikutimu."
****
ALI...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Semakin dalam kamu menggali suatu rahasia maka semakin besar pula bahaya yang akan menunggumu"
_ALICEZA_
Aliceza meraih ponselnya, menatap layar sejenak sebelum menekan nama Aska di daftar kontak. Panggilan tersambung, ia menghela napas pelan lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Aska," suaranya terdengar lirih namun tegas.
"Iya, ada apa, Za?" suara Aska di seberang terdengar biasa, belum menyadari kegelisahan yang menyelimuti Aliceza.
Aliceza menelan ludah. "Kamu tahu di mana letak ruang CCTV sekolah?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Hmm, tahu. Kenapa rupanya?"
Aliceza menarik napas dalam sebelum menjawab, "Temenin gue, ya? Ke sekolah. Gue harus ngecek rekaman CCTV."
Aska terdiam sejenak, lalu bertanya, "Kapan?"
"Malam ini," jawab Aliceza cepat. "Bisa, kan?"
Aska yang baru keluar dari kamar mandi, terdengar menghela napas. Lalu, tanpa ragu, ia menjawab, "Bisa."
"Kita jumpa di gerbang belakang sekolah ya," ucap Aliceza dengan tegas.
"Oke."
Aliceza menutup ponselnya, menggenggam erat perangkat itu di tangannya. Tatapannya tajam, tekadnya semakin kuat. Malam ini, ia harus menemukan jawaban.
****
Aska menuruni tangga rumahnya dengan langkah mantap. Jaket hitam membalut tubuhnya, serasi dengan kaos gelap yang dikenakannya dan topi hitam. Begitu sampai di lantai bawah, ia berhenti sejenak di depan kamar adiknya. Dengan tangan yang sedikit lelah, ia mengetuk pintu pelan.
"Rora," panggilnya. "Aurora."
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, menampakkan sosok adiknya yang berdiri dengan wajah malas, matanya setengah mengantuk.
"Bang Aska mau keluar sebentar," ujar Aska, suaranya terdengar tenang tapi tegas. "Mama lagi pergi, Papa juga belum pulang. Kamu jangan ke mana-mana, ya? Tetap di rumah. Udah malam."
"Hm," gumam Rora singkat, wajahnya terlihat kesal seolah tak ingin diganggu.
Aska menghela napas kecil. "Kalau ada apa-apa, langsung telpon Abang," tambahnya.
"Iya," sahut Rora dengan nada datar, tatapan malasnya tak berubah.
Aska tersenyum tipis. Dengan gerakan lembut, ia mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Rora, mengacak rambut adiknya dengan sayang.
"Yaudah, Abang pergi dulu," ucapnya pelan sebelum berbalik, meninggalkan Rora yang masih berdiri di ambang pintu.
"Hati-hati," gumamnya pelan saat melihat Aska yang sudah keluar dari rumah.