{35} Tertusuk

361 22 3
                                        

"Gue nggak peduli seberapa parah gue terluka, bahkan kalau nyawa taruhannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue nggak peduli seberapa parah gue terluka, bahkan kalau nyawa taruhannya. Selama adik gue selamat, gue nggak akan mundur untuk melindunginya."

_Alaska Chandrawan_
WATTPAD ALICEZA

Aska memasuki ruang makan, tangannya sigap menuangkan nasi goreng ke atas empat piring yang sudah tertata di meja. Satu untuk dirinya, satu untuk adiknya, dan dua untuk orang tuanya. Aroma nasi goreng masih mengepul hangat, bercampur dengan wangi kopi yang sudah diseduh oleh bibi—ART mereka yang baru kembali bekerja.

Hari ini sekolah Aska libur karena masih dalam masa berkabung. Rasanya sedikit lebih santai, setidaknya ia bisa mengantar Rora ke sekolah tanpa harus terburu-buru.

Aska menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri, lalu melirik jam dinding. Tak lama, suara langkah turun dari tangga terdengar. Mama dan Papanya sudah datang.

Mamanya duduk di kursinya, menatap Aska yang hanya memakai kaos hitam dan jaket putih, bukannya seragam sekolah.

"Kamu nggak sekolah?" tanyanya sambil menyendok nasi goreng ke piringnya.

Aska mengunyah pelan sebelum menjawab, "Sekolah diliburin dua hari, Ma. Masih masa berkabung."

Mamanya mengangguk, tapi ekspresinya tetap serius. "Mama udah denger berita di sekolah kamu. Makanya, kamu harus lebih ketat lagi jaga adik kamu," ucapnya, meletakkan sendok ke piring. Tatapannya tajam ke arah Aska. "Lihat kejadian kemarin, Mama nggak mau itu kejadian ke Rora juga."

Aska menelan suapannya, sedikit menghela napas. Ia sudah tahu arahnya ke mana.

"Karena kamu libur, kamu antar Rora ke sekolah. Jangan ditinggal, tunggu dia sampai pulang," lanjut Mamanya, nada suaranya tegas, tidak bisa dibantah.

Belum sempat Aska merespons, suara Rora tiba-tiba muncul dari belakang mereka.

"Nggak mau ah, Ma."

Rora berjalan mendekat, menarik kursinya dengan sedikit kasar lalu duduk di meja makan. Wajahnya sudah menunjukkan tanda-tanda protes sebelum perdebatan dimulai.

"Gak usah ditungguin gitu, aku bisa jaga diri sendiri, kok," lanjutnya, mengambil sendok tapi belum menyentuh makanannya.

Mamanya melipat tangan di dada, ekspresinya tidak berubah. "Nggak. Kamu nurut sama Mama. Mama nggak mau kamu kenapa-kenapa. Biar dia tungguin kamu sampai selesai."

Rora mendengus pelan, memasang ekspresi tidak terima. "Ma, jangan gitu deh. Bang Aska juga punya kegiatan lain, bukan cuma jagain aku doang."

"Tapi prioritasnya kamu," balas Mamanya cepat.

Aska yang dari tadi hanya mendengar, akhirnya meletakkan sendoknya dan menatap adiknya yang jelas-jelas kesal.

"Udah, Rora," katanya, suaranya lebih tenang. "Abang juga lagi nggak ada acara hari ini. Ya udah, Ma, aku tunggu di sekolah Rora."

ALICEZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang