Sesampainya ditempat yang ia tuju yaitu kantor pos bulbury atau biasa disebut bulbury post office. Aliceza datang kekantor itu dengan di ikuti para pengawalnya seperti biasa.
Aliceza berdiri didepan kantor post tersebut. Ia mengikuti mpas yang ada di hp nya.
"Permisi." Aliceza menjumpai bapak-bapak dengan seragam polisinya yang tengah duduk dibalik kaca.
Ya karena pembunuhan yang semakin merajalela, polisi memilih untuk stay di kantor post sampai pelaku ditemukan. Bukan hanya polisi, para detektif juga ikut tinggal disana guna untuk memudahkan mencari tahu pelaku pembunuhan itu.
"Iya ada apa? Ada yang bisa dibantu?" Tanya polisi tersebut kepada Aliceza.
"Apakah detektif Zayn ada? Saya mau bertemu dengan detektif Zayn," Jawab Aliceza. Untung saja saat kemarin malam ia dan sang detektif tak sengaja bertemu dirumah Krey Aliceza matanya melihat ke name tag yang dikalungkan dileher sang detektif tersebut, jadi ia tidak susah-susah untuk mencari tahu siapa nama dan dimana sang detektif itu bekerja.
"Apakah sudah ada janji?"
Aliceza menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belum."
"Kalau boleh tau ada keperluan apa dengan detektif Zayn. Kami akan segera memanggil detektif Zayn apabila kamu memberi tahu alasannya."
"Saya kemarin malam bertemu dengan detektif di rumah korban yang bernama Krey. Saya ingin membahas tentang Krey."
"Owh oke baiklah silahkan ditunggu diruang tunggu," ucap Polisi mempersilahkan Aliceza untuk duduk diruang tunggu
Pukulan meja yang terdengar cukup kuat dari ruangan kantor utama. Pria dengan kemeja putih memukul meja yang ada di hadapannya dengan kedua tangannya, terpancar wajah amarah dari pria itu kepada seorang pria berjaket hijau yang berada di depannya.
Pria kemeja putih itu adalah kepala penanggung jawab atas kasus pembunuhan di desa Bulbury. Pria itu meletakkan beberapa kertas ke atas meja.
"Kamu ini bagaimana, saya tugaskan kamu untuk menangani kasus ini, cari tahu sedetailnya. Tapi apa yang kamu dapatkan tidak ada bukti dan petunjuk yang mengarah ke sang pelaku," ucap pria itu dengan suara sedikit teriak. Untung ruangan yang kedap suara jadi Mai teriak-teriak bagaimanapun tidak ada yang dapat mendengar suara marah-marah itu.
"Karena emang kasusnya sangat bersih, sulit untuk menemukan bukti," ucap Zayn, pria dengan jaket hijaunya.
"Yasudah kalau kesulitan ganti ajaa dengan orang lain."
"Jangan pak, kasih saya kesempatan untuk mencari petunjuk tentang kasus pembunuhan itu."
"Dari kemarin kamu selalu bicara begitu kasih sayang kesempatan -kasih saya kesempatan. Sudah saya kasih loh padahal tapi kamu ga bisa memanfaatkan kesempatan itu."
"Saya yakin kali ini saya akan menemukan petunjuk," ucap Zayn meyakinkan kepala penanggung jawab itu.
Kepala penanggung jawab itu menghela nafas ringan. "Oke saya akan berikan kamu kesemepatan."
"Terima kasih, saya akan berusaha untuk memecahkan kasus ini."
"Yaudah sana-sana pergi pusing saya liat kamu," ucap kepala penanggung jawab itu mempersilahkan Zayn untuk keluar dari ruangan kantornya itu.
Zayn mengeluarkan ponsel dari saku bajunya karena ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan teleponnya. "Ya kenapa?"
"Owh oke saya akan kesana segera kesana." Zayn menutup panggilan ponselnya memasukkan kepala kesaku bajunya.
Aliceza masih menunggu di ruang tunggu dengan pandangan melihat sekeliling ruangan. Ruangan tunggu tidak ramai hanya ada beberapa orang. Dirinya baru pertama memasuki kantor post.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALICEZA
Mystery / ThrillerGenre : fantasi-mistery-thriller **** "Jangan pernah sesekali tunjukkan kelemahan kamu kepada siapapun, kita ga pernah tau yang mana teman dan lawan." **** "Musuh paling berbahaya ada orang terdekatmu dan kejahatan akan selalu mengikutimu." **** ALI...
