{38} ASKA

610 28 9
                                        

"Dibalik matanya yang tenang ada badai yang tidak pernah reda, ada perang yang tidak terlihat-bukan dengan dunia, tapi dengan dirinya sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dibalik matanya yang tenang ada badai yang tidak pernah reda, ada perang yang tidak terlihat-bukan dengan dunia, tapi dengan dirinya sendiri."

Wattpad ALICEZA

Aliceza menghampiri Rora yang tengah duduk di deretan kursi tunggu dekat meja administrasi rumah sakit. Kursi berwarna biru kusam itu terbuat dari rangka besi dengan dudukan plastik dingin yang tak nyaman. Suara mesin antrean, ketikan petugas, dan deru langkah kaki silih berganti, tapi semuanya terdengar jauh teredam oleh kepanikan yang menggantung di udara.

Rora menundukkan kepalanya, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Tubuhnya bergetar pelan seiring dengan isak yang ia tahan. Ia tampak kecil dan rapuh, tenggelam di tengah hiruk-pikuk rumah sakit yang seolah tak peduli pada kesedihannya.

Aliceza duduk perlahan di samping gadis mungil itu. Tangannya terulur pelan, menyentuh bahu Rora dengan lembut-usapannya hangat, seperti pelukan tanpa kata-kata.

Rora menoleh, matanya yang sembab bertemu dengan sepasang mata teduh dan senyuman hangat milik Aliceza. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan ujung jemarinya.

"Maaf, Ka Eza," ucapnya pelan, suaranya serak karena tangis yang belum benar-benar reda.

"Gak apa-apa... nangis aja, biar lega." Aliceza tersenyum kecil, tak berniat menanyakan apa pun yang bisa membuat gadis itu semakin tak nyaman. Baginya, kalau Rora ingin cerita, itu haknya. Kalau pun tidak, kehadirannya tetap utuh di samping gadis itu.

Beberapa detik sunyi mengisi ruang di antara mereka, sampai akhirnya Rora kembali membuka suara.

"Ka Eza denger ya... yang tadi di ruangan. Maaf ya, Kak, udah bikin suasananya jadi gak enak..."

Aliceza menggeleng pelan. "Gak apa-apa," ucapnya lembut.

"Aku cuman kasihan aja sama Bang Aska," Rora menunduk. "Sejak kejadian delapan tahun lalu, Mama jadi kayak gak suka sama dia. Padahal... itu bukan salah Bang Aska."

Aliceza menatap Rora penuh tanya, namun tetap diam. Ia ingin mendengar cerita itu langsung tanpa harus memaksa. Wajah Rora terlihat mulai ragu, tapi ada sesuatu yang sepertinya sudah lama ingin ia sampaikan.

"Waktu itu delapan tahun lalu, ada kecelakaan. Kembaran aku, Rara namanya, meninggal dalam kecelakaan itu." Rora menghela napas berat. Matanya mulai berkaca-kaca lagi, suaranya menurun.

"Hari itu Mama dan Papa lagi di dalam rumah. Aku, Rara, dan Bang Aska lagi main di halaman. Rara lagi main sama kucing kesayangannya, terus kucingnya lari ke jalan. Rara spontan ngejar kucing itu dan ada truk."

Rora memejamkan mata sejenak. Tangannya mengepal di atas pangkuan, seolah membayangkan ulang kejadian pahit itu.

"Bang Aska lari buat menyelamatkan Rara. Tapi truknya terlalu cepat, Ka Eza. Rara yang kena. Bang Aska terlambat." Suaranya tercekat. "Sejak saat itu Mama terus-terusan nyalahin Bang Aska, seolah Bang Aska pembawa sial yang gak bisa jagain adiknya sendiri."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ALICEZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang