Ruangan rawat itu senyap.
Aska masih terbaring dengan tatapan kosong menembus tembok, pikirannya melayang entah ke mana. Cahaya lampu rumah sakit memantulkan bayangan samar di matanya yang sayu.
Di sebelahnya, Aliceza menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur. Suasana terasa canggung dan berat.
Aliceza menggigit bibir, merasa tidak nyaman dengan keheningan ini. Aska terlihat seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan entah kenapa, itu membuatnya risih.
Ia menoleh ke arah perut Aska yang masih diperban, lalu tanpa banyak berpikir, mengetuk-ngetuk pelan area dekat lukanya dengan ujung jarinya.
"Aska," panggilnya sambil mengetuk lagi, sedikit lebih keras.
Aska tersentak dari lamunannya. Seketika rasa perih menusuk perutnya.
"Awuff-!" Aska meringis, buru-buru memegangi luka tusuk di perutnya. Ia menoleh dengan tatapan tidak percaya ke arah Aliceza, yang kini duduk dengan ekspresi polos seolah tidak merasa bersalah.
Aliceza hanya menyengir, matanya berkilat jahil.
Aska mendesah, mengangkat tangannya yang bebas dari infus, lalu tanpa peringatan mencubit hidung Aliceza.
"Ih!" Aliceza langsung menjauh, wajahnya merengut kesal sambil memegangi hidungnya. "Sakit tahu!"
Aska tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya ke bantal. "Gantian."
Aliceza mendecak kesal, memanyunkan bibirnya. "Jahil banget sih!"
Aska hanya tertawa kecil, suara tawa yang nyaris tidak terdengar, tapi entah kenapa membawa sedikit kehangatan di antara keheningan tadi.
Aliceza sedikit lega melihatnya tidak lagi melamun, meskipun di balik matanya, masih ada bayangan kesedihan yang belum pudar.
Aliceza melipat kedua tangannya di atas tempat tidur, menyandarkan dagunya di sana, lalu menatap luka di perut Aska dengan ekspresi campur aduk.
"Gue kira lo bakal ingkarin janji lo," gumamnya pelan.
Aska yang sejak tadi menatap langit-langit kini melirik ke bawah, menatap Aliceza dari sudut matanya.
"Gue bukan tipe orang yang gampang janji," ucapnya lirih. "Tapi kalau gue udah janji... apa pun bakal gue lakuin buat nepatinnya."
Aliceza mengangkat kepalanya, menatap Aska dalam-dalam.
"Takutnya aja," suaranya sedikit bergetar, "kalau suatu hari gue harus kehilangan lagi..."
Aska terdiam. Matanya terfokus ke wajah Aliceza, seolah sedang berusaha membaca sesuatu di sana.
"Owh," gumamnya akhirnya, sudut bibirnya sedikit tertarik. "Jadi lo juga bisa takut ya?"
Aliceza menatapnya tajam. "Gue manusia, Aska. Jelas gue punya rasa takut."
Aska hanya tersenyum samar, seulas senyum yang terlihat lebih dalam daripada sebelumnya.
"Di antara banyaknya ancaman dan bahaya yang ada di sekitar gue, satu-satunya hal yang paling gue takutin cuma satu." Aliceza menarik napas, menatap Aska dengan mata yang lebih jernih.
"Kehilangan."
Aska merasakan sesuatu mencubit dadanya. Ia mengerti perasaan itu.
Karena dia juga... takut kehilangan.
"Gue juga takut," suaranya lebih pelan, tapi jelas. "Takut kehilangan orang-orang yang berarti buat gue. Takut kehilangan Mama... Papa... Rora..."
Aska terdiam sejenak, menahan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Matanya mengarah ke Aliceza sebentar, tapi kemudian ia kembali menatap langit-langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALICEZA
Mystery / ThrillerGenre : fantasi-mistery-thriller **** "Jangan pernah sesekali tunjukkan kelemahan kamu kepada siapapun, kita ga pernah tau yang mana teman dan lawan." **** "Musuh paling berbahaya ada orang terdekatmu dan kejahatan akan selalu mengikutimu." **** ALI...
