{36} Sebuah Fakta Terungkap

475 25 8
                                        

"Buat mereka gue bukan seorang anak melainkan sebuah masalah yang kebetulan lahir ke dunia ini"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Buat mereka gue bukan seorang anak melainkan sebuah masalah yang kebetulan lahir ke dunia ini"

_Alaska Chandrawan_
WATTPAD ALICEZA

Aliceza membuka dompet milik Clara dengan hati-hati, jari-jarinya menyusuri bagian dalamnya, mencari sesuatu yang mungkin tersembunyi. Ia mengeluarkan beberapa kartu-kartu ATM, kartu pelajar, KTP, Kartu beasiswa dan beberapa kartu lainnya. Tidak ada yang mencurigakan.

Keningnya berkerut. Apa benar ini yang ingin Clara berikan padanya sebelum meninggal?

Aliceza membalikkan dompet, mengguncangnya pelan, berharap ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Tiba-tiba, benda kecil jatuh ke atas meja belajarnya.

Sebuah kartu memori berwarna hitam tipis dan kecil dengan tulisan yang sangat kecil kecil yang hampir tidak terbaca.

Matanya membesar. Ia menatap benda itu dengan perasaan bercampur aduk-bingung, penasaran, dan sedikit cemas. Kenapa kartu memori ini ada di dalam dompet Clara?

Perasaannya semakin tidak enak. Ia mengambil kartu memori itu dengan jemarinya yang sedikit gemetar, lalu memasukkannya ke dalam ponselnya.

Layar ponsel menampilkan beberapa file. Ada satu video berdurasi enam menit. Aliceza langsung menekan tombol play.

Layar menampilkan rekaman Glen dan Rangga yang tengah berbicara serius di tempat yang sama seperti yang ia lihat di CCTV kemarin malam.

Jantung Aliceza berdegup lebih cepat. Ia mendekatkan wajahnya ke layar, matanya menatap tajam setiap pergerakan dalam video itu.

Di dalam video, Glen tampak gelisah, berjalan mondar-mandir dengan wajah panik.

"Kita nggak bisa biarin ini," ucap Glen, suaranya terdengar tegang.

Di sampingnya, Rangga bersandar di dinding dengan ekspresi tajam. Mata Aliceza menyipit saat melihat ekspresi itu.

"Gak ada cara lain," suara Rangga terdengar dingin. "Kita harus lakuin sesuatu... Kita harus bunuh gadis itu."

Jantung Aliceza berhenti berdetak sesaat.

Matanya membesar, napasnya tercekat. Apa yang baru saja ia dengar?

Tangan yang menggenggam ponselnya terasa kaku, dadanya mulai sesak.

"Gak bisa!" Glen menunjukkan ponselnya. "Nama dia ada dalam daftar orang yang harus dilindungi. Kalau kita bunuh dia, malah kita yang bakal mati!"

Rangga melirik Glen dengan ekspresi tajam. "Terus lo mau gimana?"

Glen menggigit ujung kukunya, gelisah. "Siapa sih yang masukin dia ke daftar aman?"

Rangga mendecakkan lidahnya. "Yang pasti, orang yang paling takut kehilangan dia."

Glen mendengus pelan, lalu menyeringai. "Kalau gitu, kita buat dia nyesel karena ikut campur dalam masalah ini."

ALICEZACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang