23. Surat pengunduran diri

873 52 0
                                        

"Bu, di depan ada tamu yang cari ibu"

"Siapa Len?"

"Ngga tau bu, baru pertama liat datang kesini"

Jam 12.30 menunjukan waktu jam makan siang, gue suruh Lena buat istirahat makan siang, kasian dia dari pagi udah gue bikin susah gara-gara hape rusak. Walaupun sebagian file tidak bisa terselamatkan, tapi gue harus bersyukur karena sisa nya masih bisa dicari. Ini pelajaran buat gue, Besok-besok kalo emang itu penting, mending langsung disalin ke laptop.

"Abang?"

Kok tiba-tiba ada di sini calon laki gue? Padahal udah dibilangin buat jangan nyusul, dasar ngeyel. Ilham berdiri, lalu berjalan menghampiri gue, seperti biasa, selalu dengan senyum yang begitu manis.

"Abang ngapain di sini? Kan udah aku bilang ngga usah nyusul"

"Sibuk ngga? Ikut Abang yuk..."

"Ngga terlalu sih, kemana?"

"Udah ikut aja yuk, abang punya sesuatu buat kamu"

Tangan gue di genggam, diajak keluar kantor, disana sudah terparkir mobil sedan hitam. Ngga ada drama dibukain pintu, buka sendiri ngga usah manja.

"Mobil siapa?" Setau gue sih Ilham belum punya mobil.

"Mobil Abang, bagus ngga?"

"Kapan beli nya?"

"Kemarin, mobil second sih tapi masih bagus kok, mobilnya Robin"

"Jadi kemarin tuh ngobrolin ini?" Ilham mengangguk.

"Aku mau tanya sesuatu boleh ngga bang? Tapi ini agak sensitif"

"Apa? Adek mau tanya apa?" Ilham memutar posisi duduk nya jadi menghadap ke gue.

"Dari kemarin aku perhatiin kok abang belanja mulu, terus nominal nya juga ngga sedikit, sekarang malah abis beli mobil, apa ngga sayang bang buang-buang uang?"

Bukannya menjawab, Ilham malah tertawa.

"Adek ngga usah khawatir, tabungan calon suami mu ini masih banyak, ya sayang sih hambur-hamburin uang, tapi abang lebih sayang adek, gimana dong?"

"Ck! Abanggg...aku serius tau, malah bercanda"

"Kok bercanda sih, abang serius sayang...ah jadi pengen nikah sekarang"

"Ih kenapa?"

"Biar bisa peluk cium adek, pokoknya kalo udah nikah mau abang kunciin terus di kamar, ngga akan abang kasih keluar"

"Dasar mesum!"

"Biarin. Eh iya abang hampir lupa" Ilham mengambil totebag kecil berwarna putih di jok belakang.

"Apa ni bang?"

"Buka"

"Ini buat aku?" Ilham mengangguk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ini buat aku?" Ilham mengangguk.

"Sama ini satu lagi, hape lama kamu udah abang benerin"

"Abang?"

"Kalo seneng harus senyum, ngga boleh nangis"

"Makasih abanggg...."

"Sama-sama sayang, boleh abang peluk?" Gue juga ngga bisa menahan diri buat ngga peluk Ilham, gue ngga jawab pertanyaan Ilham, tapi langsung gue peluk aja.

"I love you" bisik Ilham.

"I love you to, thank you for everything"

"anything, just for you"

.
.
.

"Bu Sandra, ada pak Indra" Karena pintu tidak ditutup, Lena masuk begitu saja. Lena langsung diam dan menutup mulutnya saat melihat keberadaan Ilham di ruangan gue.

"Maaf bu Sandra, saya ngga tau kalau ibu lagi ada tamu"

"Gak apa-apa Len, tadi kamu bilang ada pak Indra?"

"Iya bu, tadi nyariin ibu tapi sekarang lagi di ruangan pak Nino"

"Bilang aja saya lagi ngga bisa diganggu" belum selesai gue ngomong, eh orangnya udah nongol aja.

"Halo Sandra, ngopi yuk..." ucapnya sok akrab.

"Maaf pak Indra saya lagi sibuk" tolak gue.

Kayaknya dia belum ngeliat Ilham deh, dengan gayanya yang sok cool, dia masuk lalu duduk dihadapan gue, dan mengusir Lena.

"Tadi saya udah izin ajak kamu keluar sama Nino, ayolah San..."

"Saya sibuk pak Indra, kalau bapak ngga ada keperluan lagi silahkan keluar"

"Punya apa sih kamu? Sampe segitunya nolak saya, kalau bukan karna rekomendasi dari saya, kamu ngga akan duduk di sini dengan jabatan dan tunjangan besar dari perusahaan"

Ha?

Apa?

Gimana maksudnya?

"Kalau begitu tolong ACC surat pengunduran diri saya"

"Jangan munafik Sandra, saya tau kamu butuh uang, asal kamu mau ikut saya itu bisa dibicarakan, ayolah San" Ilham sudah berdiri di belakang Indra dengan raut wajah kesal, baru pertama kali liat Ilham dengan ekspresi serem begini.

"Siapa kamu? Berani-berani nya merendahkan calon istri saya!?" Ucap Ilham dengan penuh penekanan, spontan Indra menoleh kebelakang.

"Siapa kamu!?" Tanya Indra dengan nada sedikit tinggi.

"Saya? Kamu mau tau siapa saya? Perkenalkan, ILHAM ADHYAKSA calon suami Sandra"

"Saya ACC surat pengunduran diri kamu, tapi kamu harus bayar penalti dari sisa kontrak!" Ucap Indra menggebu.

"SAYA YANG BAYAR!" Jawab Ilham.

"Abang?" Lama-lama gue jadi takut liat Perdebatan Ilham dan Indra.

Brak! Indra keluar sambil membanting pintu dengan begitu keras, tangan Ilham gue tahan saat akan mengejar Indra. Gue tarik tangan Ilham agar ia kembali duduk di sofa.

"Istighfar abang, ya allah..." Ilham meminum segelas air putih yang gue berikan.

"Kamu kenapa ngga bilang sama abang kalau dia kurang ajar sama kamu!"

"Biasanya juga kalo ngga aku tanggepin dia langsung pergi abang"

"Ikut abang pulang! Ngga ada alasan apapun, lagian tadi dia udah bilang mau ACC surat pengunduran diri kamu, biar abang yang bayar penalti nya"

"Abang jangan kayak gitu, sabar dulu...biar nanti Sandra ngomong dulu sama pak Nino"

"Abang ngga suka kamu direndahin kayak tadi, abang ngga terima! Emangnya dia pikir dia siapa?"

"Abang tunggu di sini, tenangin diri dulu, aku mau temuin pak Nino dulu, pokoknya abang jangan kemana-mana"

"Kalo dalam waktu setengah jam kamu ngga balik, abang susulin!" Gue mengangguk, lalu pergi meninggalkan Ilham sendirian di ruangan gue.

Apapun keputusan nya akan gue terima, gue tau kalau posisi Indra di sini sangat berpengaruh, dan sudah bisa dipastikan pasti Nino akan berpihak pada siapa. Kalaupun gue diharuskan membayar penalti, akan gue bayar, tanpa uang dari siapapun. Apartemen yang baru gue beli bakalan gue jual lagi, harta terbesar gue satu-satunya.

~~~

Sepenuh HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang