39. Positif

1.2K 54 0
                                        

"Kangen banget abang sama adek"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kangen banget abang sama adek"

Setelah maghrib Ilham baru sampai di rumah, dan gue sengaja pulang dari sore ke rumah, mau Bersih-bersih rumah sama masak buat Ilham makan malam.

"Adek juga kangen banget banget sama abang"

"Selama abang tinggal, adek ngga nakal kan?"

"Emangnya adek anak kecil apa, nyebelin!"

"Bercanda sayang ku..."

"Abanggg..."

"Hm, kenapa?"

"Kemarin...ibu suruh adek testpack" Ilham langsung duduk saat mendengar ucapan gue.

"Adek hamil? Alhamdulillah ya allah..."

"Dengerin dulu abang, adek belum testpack, jadi belum tau hamil atau ngga nya"

"Kita periksa ke bidan Dessy sekarang"

"Udah malem abang, tapi kayaknya adek ngga hamil deh...soalnya badan adek udah ngerasa ngga enak, kayak mau datang bulan"

"Besok pagi testpack aja dulu, biar ngga penasaran"

"Kalau hasilnya negatif gimana? Nanti abang kecewa sama adek"

"Ngga akan sayang, itu tandanya kita harus berusaha lebih keras lagi"

"Beneran abang ngga kecewa kalau---"

"Jawaban abang tetap sama sayang, kamu ngga perlu khawatir ya...rasa sayang abang makin hari malah makin bertambah"

"Makasih abang"

"Sama-sama cinta ku"

.
.
.

Gue duduk di sisi ranjang, menahan gemuruh di dada yang siap meledak. Selesai sholat subuh tadi, Ilham kasih gue alat test kehamilan, gue ngga tau kapan Ilham beli alat itu. Hasilnya sungguh sangat membuat hati bergejolak, rasanya gue ngga sanggup buat menahan nya.

"Dek, udah selesai test nya?" Tanya Ilham, kemudian berjongkok di hadapan gue.

"Abanggg..." gue nangis dan langsung peluk Ilham.

"Gak apa-apa sayang, abang ngga akan marah kok sama Hasilnya" punggung gue terus diusap-usap oleh Ilham, Ilham terus mencoba menenangkan gue.

"Adek beneran hamil Abang, adek mau jadi ibu" ucap gue dengan nada bergetar.

Ilham melepaskan pelukannya, menatap gue dengan raut wajah yang sulit diartikan. Testpack di tangan gue diambil alih, lalu dilihat lagi oleh Ilham.

"Alhamdulillah ya allah" ucap Ilham kemudian bersujud.

"Sayang makasih ya" Ilham mendekatkan wajahnya ke perut gue lalu mengecupnya.

"Terimakasih telah hadir nak, sehat-sehat ya sayang di perut Mama"

"Abang, adek hamil bang"

"Iya sayang, kita mau jadi orangtua. Mulai sekarang adek ngga boleh capek-capek ya...nanti abang cari orang buat bantu beres-beres rumah"

"Aku masih sanggup abang"

"Adek fokus sama kehamilan adek aja ya sayang, abang mau yang terbaik buat kalian berdua"

"Iya abang, makasih calon papa"

"Sama-sama calon mama, nanti agak siangan kita ke bidan ya"

"Iya abang, mamah sama ibu mau dikasih tau sekarang apa nanti aja?"

"Nanti aja, pulang periksa kita mampir ke rumah mamah terus ke ibu"

"Okee"

.
.
.

Posisi tempat praktik bidan Dessy itu tepat di depan rumah mamah mertua, jadi tadi Ilham parkir motor di depan rumah mamah, terus jalan kaki ke tempat bidan Dessy. Saat gue keluar dari tempat praktik bidan Dessy, mamah sedang duduk di depan rumah, wajahnya terlihat gelisah sambil menatap kearah kami.

"Ilham, Sandra" mamah menghampiri kami berdua.

"Kalian habis ngapain?" Tanya mamah penasaran.

"Habis periksa calon cucu mamah" jawab Ilham.

Mamah diam, mencoba mencerna jawaban Ilham. Kemudian raut wajah bahagia terpancar dari wajah mamah, sambil mengucap syukur, kemudian mamah memeluk gue, mengecupi wajah gue.

"Mamah mau jadi nenek, alhamdulillah ya allah, harus kasih tau papah" mamah tak kalah antusias dari Ilham.

"Mah...jangan loncat-loncat gitu ah, nanti jatuh" ucap Ilham memperingatkan

"San, kamu lagi pengen makan sesuatu ngga? Mamah bikinin ya? Atau mau beli aja"

"Ngga mah, Sandra abis makan, masih kenyang"

"Makan buah aja kalau gitu ya? Ayo kita ke rumah, mamah siapin" Ilham tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Sesampainya di rumah mamah, mamah benar-benar menyiapkan berbagai macam buah  yang sudah di potong-potong dan beberapa camilan. Gue benar-benar dilayani seperti tuan putri, padahal udah gue larang, tapi mamah tetap memaksa.

"Assalamu'alaikum..."

"Waalaikum salam"

"Eh ada kak Sandra sama mas Ilham" Niara baru pulang sekolah.

"Ada acara apa nih banyak makanan, aku mau ya" baru saja Niara akan mengambil buah yang ada di atas piring, mamah langsung melarang nya.

"Ih mamah pelit banget sih, aku juga mau" rengek Niara.

"Itu punya kakak kamu"

"Gak apa-apa mah, makan aja Nia" ucap gue.

"Ibu hamil harus makan buah banyak-banyak San, biar bayinya sehat"

"Hah? Maksudnya apa mah?" Tanya Niara.

"Kak Sandra hamil dek, kamu mau jadi onty" jawab Ilham.

"Serius?" Gue mengangguk.

"Asyikkk....aku mau punya ponakan" Niara juga melompat kegirangan.

Kehamilan gue menjadi berita bahagia, tinggal kasih tau ibu sama bapak, penasaran sama ekspresi wajah nya pas denger kabar kalau gue hamil, pasti mereka seneng banget.

~~~

Sepenuh HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang