FW 19

100 15 15
                                        

Sesampainya dirumah Jimin mengikuti Hyuna masuk ke dalam kamar, rupanya Hyuna tengah   membuka lemari pakaian dan mengeluarkan beberapa pakaiannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sesampainya dirumah Jimin mengikuti Hyuna masuk ke dalam kamar, rupanya Hyuna tengah   membuka lemari pakaian dan mengeluarkan beberapa pakaiannya.

"Kau mau kemana?" Jimin menghentikan gerakan tangan Hyuna yang tengah sibuk merapikan pakaian ke dalam koper.

"Aku tidak kemana-mana, aku hanya pindah kamar saja ke kamar tamu. Aku tidak bisa tidur bersebelahan denganmu!"

Sebenarnya Hyuna ingin mengusir Jimin dari rumah. Akan tetapi Aerin terlintas dalam pikirannya. Bagaimana jika anak itu menanyakan keberadaan ayahnya yang tak pulang ke rumah. Hyuna tidak ingin Aerin jatuh sakit karena memikirkan ayahnya. Ia juga takut jika Aerin mengetahui prahara rumah tangganya. Sepertinya keputusan untuk menyekolahkan Aerin ke luar negeri memang tepat. Sembari menunggu berkas Aerin siap, akhirnya Hyuna menahan diri untuk tinggal bersama Jimin.

"Maafkan aku Hyuna-aah, tetaplah tidur di sini aku tak bisa tidur tanpa memelukmu."

"Hah? Apa katamu? Tak usah membual, Jim. Kau saja sudah tidur bersama wanita lain bahkan terkadang menginap bersama jalangmu! Kau bilang akan mempertahankan pernikahan kita tapi apa nyatanya?!" Rasanya kepala Hyuna seperti mengeluarkan asap karena tersulut emosi membayangkan kelakuan suaminya.

"Sungguh Hyuna, aku memang ingin mempertahankan pernikahan kita." Jimin bersimpuh di hadapan Hyuna. Wanita itu berpaling tak ingin menatap suaminya. Matanya mulai mengembun.

Hyuna menarik napas menahan air mata agar tak terjatuh, "Setidaknya untuk sementara waktu, kita masih bisa terlihat bersama saat di rumah agar Aerin tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara kita. Minggu depan Aerin aku pindahkan ke luar negeri. Setelah itu, kau bisa angkat kaki dari rumah ini." Keputusan Hyuna sudah bulat. Ia tak ingin meminta pendapat Jimin soal Aerin. Terkadang bersikap egois demi kebaikan itu di perlukan. Hyuna tak peduli lagi jika Jimin menganggap tak menghargainya. Memangnya Jimin juga menghargai perasaannya?

Jimin seketika berdiri mensejajarkan tubuh di hadapan Hyuna. "Aerin tidak akan ke mana-mana. Dia masih kecil, bagaimana jika ia merindukanku? Kau tega memisahkan kami?" protes Jimin tak terima dengan keputusan Hyuna.

"Bukankah kau yang sudah membiasakan diri dengan jarang pulang ke rumah dan bermain dengan Aerin. Aku rasa ini keputusan yang tepat. Terlebih aku tidak mau Aerin terbebani pikirannya karena orang tuannya. Kau yang memulai semua ini, Jim. Ingat itu." Saking tak bisa menahan amarahnya Hyuna sampai menunjuk ke arah Jimin dengan telunjuknya.

Jimin tertunduk sambil mengepalkan kedua tangan. Pandangannya menatap ujung jari kakinya. Rasa bersalah bercampur kecewa menyeruak memenuhi relung hati. Di satu sisi ia tak ingin berpisah dengan putrinya, di sisi yang lain ia juga memikirkan psikis Aerin jika sampai ia mengetahui semuanya. Lagi-lagi Hyuna memutuskan sepihak.

Hyuna meninggalkan Jimin di dalam kamarnya. Dengan berbagai penyesalan dan kekecewaan yang sedang ia renungkan. Semua begitu pelik, masalah berkumpul menjadi satu. Jimin telah masuk ke dalam lubang penuh duri yang ia gali sendiri. Perlahan menguburnya hidup-hidup. Jika Hyuna mengetahui soal kehamilan Jihyo, entah apa lagi yang akan istrinya lakukan untuk menghukumnya. Membayangkan soal perceraian jelas hal yang Jimin takutkan.

𝐅𝐢𝐫𝐞𝐰𝐨𝐫𝐤Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang