"Yoon."
Yoon mengangkat kepalanya, menatap lawan bicaranya lalu kembali menunduk. Tangannya kembali sibuk dengan pena dan juga tumpukkan kertas.
"Kau benar-benar aneh."
"Aku?" Yoon terkekeh, tidak merasa tersinggung.
"Apa kau tidak pernah merasa lapar jika berada di kantor? Istirahat siangmu selalu kau habiskan dengan laptop dan angka-angka menyebalkan yang tidak ada habisnya."
Namseon, pria yang memiliki kesabaran ekstra jika sudah berhadapan dengan manusia kulkas seperti Yoon ini benar-benar merasa sangat heran sekaligus takjub. Bagaimana bisa, selama hampir 9 jam kerja belum lagi jika ada lemburan yang mengharuskannya pulang pukul 8 malam, Yoon berhasil untuk tidak menyentuh atau membuat perutnya terisi oleh makanan berlemak nan menggiurkan. Disaat yang lain sibuk dengan menu harian di kantin atau hanya sekedar ingin memandangi karyawati dengan rupa elok menawan, Yoon lebih memilih untuk tetap di dalam ruangannya dan bercumbu dengan banyaknya tumpukan kertas.
"Jangan berlagak bodoh, Namseon. Kau bahkan sudah sangat hafal jika aku lebih suka dengan olahanku sendiri."
"Tapi tidak seperti itu juga, kau bahkan hampir tidak pernah berinteraksi dengan manusia hangat di luar ruanganmu."
Manusia hangat?
Yoon mengangkat salah satu alisnya, merasa tergelitik dengan ucapan Namseon. Andai saja Namseon tahu, penyebab dirinya tidak mau keluar berinteraksi atau sekedar ingin merasakan makanan enak di kantin selain dari hasil masakannya sendiri. Namun dengan resiko yang tidak bisa Yoon bayangkan, Yoon lebih memilih stres karena pekerjaan daripada stres karena harus kehilangan jejak dari seseorang dari masa lalunya.
"Berinteraksi? Bukankah mereka sendiri yang dengan suka rela datang ke ruanganku?"
Mendengar jawaban Yoon, Namseon hanya mampu menghela napas panjang guna mempertahankan kewarasan diri di hadapan Yoon.
"Itu karena mereka terpaksa, bukan suka rela. Mengahadapi manusia sepertimu ini memang seperti sedang berhadapan dengan batu."
"Ah, anggap saja aku sudah siap dengan kehidupanku selanjutnya. Aku memang berharap di kehidupan selanjutnya lebih baik menjadi batu saja. Cukup diam hingga kiamat datang."
"Dasar gila."
Yoon tersenyum tipis, pandangannya jatuh pada layar laptop yang menampilkan begitu banyak angka-angka, juga grafik pertumbuhan. Yoon juga sebenarnya tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Tapi dirinya hanya seorang pengecut yang terlalu takut untuk kembali beradu argumen dengan seseorang. Takut kembali dibenci juga takut kembali merasa sakit hati.
"Namseon."
Namseon menoleh, menunggu Yoon yang sepertinya bersiap untuk berbicara.
"Menurutmu, apa yang akan kau lakukan jika seseorang membencimu dan tidak lagi ingin bertemu?"
"Bukankah kau sudah biasa dibenci?" sindir Namseon, meski dirinya juga merasa heran dengan Yoon yang mengajukan pertanyaan itu secara tiba-tiba.
"Kau benar, seharusnya aku tidak terganggu dengan kebencian seseorang, tapi..."
Namseon semakin tertarik dengan pembicaraan menuju serius versi Yoon, sepertinya Yoon sedang berada di fase ingin-bercerita-banyak-hal.
"Tapi orang itu semakin membuatku gila." suara Yoon yang tiba-tiba meninggi berhasil membuat Namseon hampir saja tersedak ludahnya sendiri.
"Benar-benar tidak adil, aku yang hampir gila karena terlalu merindukannya tapi dia malah bersenang-senang seperti baru saja mendapatkan mainan baru."
"Tunggu dulu, kau ini membicarakan siapa? Yoon, apa kau sedang cemburu?"
"Sedang membicarakan orang gila."
Yoon bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pantry. Perasaannya selalu saja merasa tidak nyaman jika sudah membicarakan gadis itu. Pemuda bermarga Min itu mengambil salah satu botol minuman beralkohol tinggi lalu menuangkannya pada gelas berukuran mini. Meminumnya sekali teguk tanpa ada ringisan akan panasnya cairan bening itu. Tentunya dengan bibir yang masih saja menggerutu tidak jelas.
"Okay, wanita semenarik apa yang bisa membuat seorang Min Yoon menggila meski hanya memikirkannya saja? Aku benar-benar iri," gumam Namseon pelan.
°°°
'Apa kau sedang melucu? Bahkan jika waktu bisa diulang, aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenalmu.'
Yoon berdecih, meminum kembali benda cair yang ada di depannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Namseon sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Dirinya kembali dilanda sepi dan sendiri. Malamnya hanya ditemani dengan ucapan Youra yang menggema tanpa suara. Berputar-putar di kepala sampai-sampai ingin membenturkannya ke dinding apartemen.
"Aku memang benar-benar sudah gila." Yoon terkekeh dan di detik berikutnya tumbang dengan kepala bertumpu pada tangan kirinya.
Kedua manik kembarnya terpejam lalu di sekon berikutnya, sebuah cairan bening luruh dari sudut mata dan jatuh hingga mengenai jemarinya. Menahan rindu ternyata bisa semenyakitkan ini. Berulang kali Yoon mencoba untuk berusaha melupakan serta untuk tidak peduli dengan apapun yang berhubungan dengan Youra. Namun semua itu menjadi tidak berguna dan membuatnya semakin terlihat menyedihkan.
Masa lalu serta kejadian yang membuat keduanya berpisah masih saja terus menyambangi alam bawah sadarnya. Memaksa Yoon untuk bangun di tengah malam atau di sepertiga malam disertai napas tersengal. Itu membuatnya harus pergi ke spesialis psikiater dan meminum obat penenang dalam satu tahun terakhir.
Satu tahun yang lalu, saat Yoon tidak yakin apakah dirinya masih sanggup untuk bernapas dan menikmati hari dengan tenang. Tiba-tiba saja berhasil menemukan keberadaan Youra, benar-benar tidak sengaja. Youra yang saat itu tengah berbicara panjang lebar dengan seseorang tidak menyadari keberadaan Yoon. Jika bukan karena kewarasannya, Yoon pasti sudah menerjang dan memeluk Youra dengan teramat erat. Rindu sekali rasanya karena selama dua tahun penuh, Yoon menghapuskan diri dari hadapan Youra. Bukan karena keinginannya namun karena keterpaksaan dan juga ancaman dari Youra. Dan sekarang, saat semesta kembali mengizinkannya untuk bertemu dengan Youra, Yoon merasa seperti dihidupkan kembali setelah sekian lama mendapatkan kehampaan.
Saat itu Yoon segera mencari informasi tentang apapun yang berhubungan dengan Youra. Persetan dengan melanggar perjanjian, Yoon tidak mau mati mengenaskan. Yoon tidak ingin menjadi gila karena ketidaksanggupannya untuk tidak menemui Youra. Yoon tidak akan lagi mau menuruti ucapan gadis itu. Dengan mengandalkan koneksi keluarganya, Yoon akhirnya berhasil menemukan dimana Youra bekerja dan hanya membutuhkan waktu kurang dari satu minggu dirinya berhasil menempati posisi manajer di perusahaan itu. Yoon sengaja memilih divisi yang berbeda agar keberadaannya tidak diketahui oleh Youra.
Yoon mengira ini akan berjalan lancar mengingat bagaimana galaknya Youra dan tidak semudah itu untuk bisa menjalin kasih dengan gadis bermarga Jung itu. Yoon juga mengira akan tetap merasa aman dan bisa memeluk Youra dari jauh. Tapi nyatanya, ada pria lain yang berhasil mendobrak pertahanan hati dari seorang Jung Youra. Jelas saja Yoon merasa amat sangat cemburu. Apalagi saat Aera, perempuan yang mengaku dekat dengan Taehyun, memberikan akses lebih untuk mereka berdua untuk saling bertemu dan meluruskan sebuah permasalahan.
Yoon menahan diri untuk tidak langsung menghajar Taehyun karena itu merupakan tindakan yang sangat konyol. Lagipula hubungannya dengan Youra adalah sebuah rahasia yang siapapun tidak boleh mengetahuinya. Akan terasa menyakitkan jika kembali mengungkit masa lalu dengan begitu banyak kenangan manis namun menyedihkan. Youra pasti akan kembali terluka.
Tetapi setelah berpikir cukup lama, Yoon akhirnya memutuskan untuk menemui Youra, keduanya berhasil bertemu meski berakhir dengan pemaksaan di salah satu pihak. Dan sesuai dengan dugaan, Youra menolak kehadiran Yoon, keduanya juga sempat terlibat perdebatan kecil. Yoon rindu sekali, ingin menikmati lebih lama lagi momen dimana berdebat dengan Youra. Namun gadis itu memilih untuk mengakhiri semuanya dengan cepat. Youra menjauh, meninggalkan sebuah buku yang menjadi awal dari Yoon untuk tetap menjadi waras, kendati hatinya merasakan nyeri luar biasa.
°°°
KAMU SEDANG MEMBACA
Crossroads in Your Heart
General FictionJung Youra tidak tahu, jika berhubungan dengan dunia Kim Taehyun akan membuatnya berada di sebuah semesta yang berisi ribuan bintang berkerlip namun sekarat. Ketika dirinya berusaha menyembuhkan lukanya sendiri, tanpa Youra sadari dia juga sedang be...
