Repair

6 1 0
                                        

Taehyun diam dan pandangannya tertuju pada Yoon yang saat ini masih saja terlelap. Jika dalam posisi seperti ini, paras Yoon memang lebih terlihat menenangkan. Berbeda sekali jika kedua manik kembarnya itu terbuka, wajah yang tenang itu akan berubah menjadi rupa malaikat kematian lengkap dengan mulutnya yang diisi oleh kalimat-kalimat mengerikan. Taehyun mendapatkan sedikit informasi dari dokter yang menangani Yoon. Pria yang saat ini sedang terbaring lemas ternyata dalam kondisi stres.

"Kenapa sekalinya sakit, diagnosamu banyak sekali. Apa sakit yang berada di dalam tubuhmu itu melakukan reunian? Dasar menyusahkan."

Beruntung, ruangan yang Yoon tempati hanya memiliki satu pasien, yakni Yoon sendiri. Taehyun jadi lebih leluasa menggerutu dan tidak perlu merasa tidak enak pada sekitarnya. Dirinya merogoh ponsel yang berada di dalam saku kemejanya. Ada beberapa pesan dari teman-teman kantornya. Namun Taehyun enggan membalas, pertanyaan mereka sudah bisa Taehyun tebak dan Taehyun jawab dalam hati saja.

"Besok pasti akan ada wawancara dadakan. Kau harus membayarku dengan bayaran yang mahal, karena setelah hari ini aku harus berbohong pada semua orang. Termasuk pada Youra, padahal kau tahu jika aku benci pembohong, malah kali ini aku sendiri yang harus memerankannya. Aku benar-benar membencimu, Kak Yoon."

Bosan menemani orang tidur, Taehyun keluar dari ruangan, hendak mencari minuman dan menghilangkan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Tepat setelah Taehyun keluar ruangan, kedua manik Yoon yang tadinya terpejam, kembali terbuka secara perlahan. Menatap ke arah langit-langit ruangan yang saat ini dia tempati. Tangan kanan yang terpasang infus dia angkat, berdecih pelan lalu menghela napas.

"Membenciku tapi merepotkan diri untuk menjagaku."

Yoon mendengar semua ocehan yang Taehyun lontarkan, pemuda itu sudah siuman sejak ditinggal Namseon beberapa saat yang lalu. Dan memilih kembali memejamkan mata saat mendengar langkah kaki masuk ke dalam ruangan yang saat ini dia tempati. Beruntungnya Taehyun itu agak bodoh, jadi Yoon bisa lebih leluasa untuk melanjutkan memejamkan mata tanpa harus takut ketahuan.

Kali ini giliran Yoon yang berpikir banyak hal.

"Sudah berapa lama yah, kau tidak memanggilku dengan sebutan Kakak, Taehyun."

Yoon mencoba menggali ingatan di masa lalu, masa dimana dia dan Taehyun pernah seakrab dan saling bergantung. Mungkin sekitar tiga tahun yang lalu, keduanya pernah terlibat pertengkaran hebat dan membuat Taehyun berubah dingin dan begitu membencinya. Yoon tidak terlalu ingat ucapan apa yang berhasil mengubah watak Taehyun yang dulunya ceria dan penuh warna menjadi copy-an dari dirinya, dingin dan tak berperasaan.

Pertengkaran keduanya dipicu saat Yoon mengalami mabuk berat, saat itu Yoon baru saja pulang dari kelab malam. Saat pintu rumah dibuka, ada Taehyun disana yang sedang menunggu kedatangan Yoon dengan wajah cemas.

Taehyun benar-benar mengkhawatirkan dirinya, pemuda yang lebih muda empat tahun darinya itu bahkan langsung menuntun Yoon untuk segera duduk di sofa yang tak jauh dari mereka berdua berdiri. Namun Yoon membalasnya kasar sekali, Yoon mendorong Taehyun dan terhuyung jalan menuju tangga. Taehyun mencoba memberi peringatan agar tidak menaiki tangga dalam kondisi mabuk, itu jelas saja berbahaya untuk Yoon. Tapi Yoon tidak mendengarkan dan terus saja berjalan.

Yoon sempat ingat jika kala itu Yoon mengucapkan kalimat, "enyahlah dari hadapanku, brengsek! Kau pengganggu, mati saja sana."

Tapi dirinya tidak ingat lagi tentang kalimat apa lagi yang keluar dari mulutnya setelah itu. Karena keesokan harinya, Taehyun bahkan enggan bersitatap dengan Yoon. Pemuda itu sukses menjauh tanpa bisa ditanya lagi.

Saat pikirannya berkelana jauh, pintu ruang rawat yang dia tempati bergeser pelan, menandakan ada orang yang masuk.

"Loh, Yoon. Kau sudah siuman?"

Crossroads in Your HeartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang