Yoon merasakan lemas di sekujur badan, tapi mual di perutnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Perlahan kelopak matanya terbuka, menampilkan atap rumah sakit yang didominasi warna putih. Bau anti-septik menguar begitu saja dan menyambangi indra penciumannya. Yoon ingat betul ingatan terakhirnya bukanlah di atas ranjang, tapi di dalam kamar mandi. Tapi kenapa tubuhnya sudah berpindah tempat ke ranjang pesakitan ini atau mungkin dirinya sedang bermimpi tentang kamar mandi. Sibuk dengan pikirannya sendiri, Yoon bahkan tidak menyadari keberadaan seseorang yang saat ini menatapnya heran namun juga khawatir.
"Hei, kau sudah sadar? Atau belum sih?"
Yoon menoleh ke arah samping, disana sudah ada Namseon dengan pandangan penuh selidik. Keningnya berkerut lalu menghela napas lega.
"Kenapa kau yang disini? Dimana Taehyun?"
"Anak itu pagi-pagi sekali sudah meneleponku dan mendesakku untuk segera kesini. Begitu sampai disini, dia memintaku untuk menjagamu. Kau,..." Namseon terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa kalian berdua baru saja bertengkar?"
Yoon menggelengkan kepalanya pelan, saat Namseon ingin melanjutkan ucapannya, dokter dan beberapa perawat datang. Mereka datang untuk memeriksa kondisi Yoon yang baru saja siuman. Setelah memastikan kondisi Yoon baik-baik saja, barulah para rombongan berbaju putih itu pergi.
Tadi saat Yoon baru saja tersadar, Namseon diam-diam menekan tombol merah yang terletak di dekat nakas samping ranjang. Pemuda itu sengaja untuk tidak langsung menyapa Yoon dan membiarkan Yoon untuk memahami situasinya terlebih dahulu.
"Ulangi pertanyaanmu tadi."
"Kalian berdua bertengkar?"
"Tidak. Kenapa?"
"Adikmu tadi sudah seperti ingin memenggal kepala orang. Dia seperti baru saja dilempari batu dari dalam neraka. Aku kira kalian berdua kembali bertengkar, atau mungkin kau tahu sesuatu?"
Yoon terlihat bingung dengan ucapan Namseon, pemuda itu kadang menggunakan kalimat bermajas tinggi, terlalu berlebihan menilai sesuatu.
"Mana aku tahu, hei Namseon. Apa kau tidak melihat ponselku?" Yoon mulai sibuk mencari keberadaan ponselnya.
Namseon hampir lupa menyampaikan pesan dari Taehyun.
"Ah aku lupa, Taehyun berpesan jika kau sudah siuman jangan mencari ponselmu, karena ponselmu sudah disita oleh Taehyun."
"Apa?"
"Dia juga berpesan untuk jangan coba-coba mengerjakan pekerjaan kantor atau kau akan tahu akibatnya nanti."
"Hei, disini aku yang jadi kakaknya, kenapa malah dia yang mengaturku?"
"Karena kau kepala batu, bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu untuk fokus beristirahat dan jangan bekerja dulu. Lihat sekarang kondisi badanmu kembali memburuk, jangan salahkan Taehyun jika anak itu berubah menjadi anak iblis. Ckckck, kalian berdua memang sudah ditakdirkan satu paket. Satunya raja iblis satunya lagi anak iblis. Dan aku menjelma jadi pawang iblis." Namseon tertawa renyah sekali sampai-sampai Yoon ingin memukul Namseon dengan tiang infus. Biar sekalian terkapar bersama dirinya di ruangan ini.
"Taehyun tidak mengatakan apapun padamu?"
"Ada. Kau penasaran?" Namseon menggoda Yoon dengan wajah menyebalkan.
"Aku benar-benar akan memenggal kepalamu, Namseon."
"Uhhh takutnya, aku jadi merinding."
Yoon memutar bola matanya dengan malas, terjebak bersama Namseon dengan kondisinya saat ini benar-benar tidak efisien. Mengabaikan tingkah Namseon yang semakin menyebalkan, Yoon menarik selimut dan memunggungi Namseon. Kepalanya tiba-tiba menjadi pening.
"Anak itu menangis."
Yoon terkejut, saking terkejutnya sampai-sampai sempat membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Jangan mengada-ada Namseon."
"Aku serius, anak itu saat tadi pagi aku datang. Kedua matanya sudah memerah dan ada bekas air mata di seluruh wajahnya. Untung saja tidak ada ingus." Namseon terkekeh pelan.
"Aku tidak tahu kejadian pastinya, tapi ada petugas kebersihan yang membersihkan kamar mandi dan ada sedikit bercak darah di beberapa titik. Aku tidak mungkin mendesak Taehyun untuk bercerita banyak sedangkan dia sudah seperti orang linglung, kan? Aku tebak, apa kau terjatuh di dalam kamar mandi?" Namseon bertanya dengan penasaran.
Yoon yang masih dalam posisi memunggungi Namseon terdiam cukup lama.
"Aku tidak begitu ingat, tapi aku tidak jatuh di kamar mandi. Bahkan sebelum tubuhku benar-benar menghantam lantai kamar mandi, seseorang menangkap tubuhku. Aku bisa merasakannya tapi aku sudah tidak bisa membuka mata. Mungkin kau benar, anak itu menangis. Dan soal darah, sebelum berlari ke kamar mandi, aku mencabut dengan paksa selang infus dan membuat punggung tanganku terluka. Perutku mual, benar-benar mual."
"Kau benar-benar beruntung memiliki Taehyun, tapi omong-omong kemana perginya bocah itu?"
"Dia pasti sedang membuat sedikit kekacauan di suatu tempat." ucap Yoon.
"Apa ini ada hubungannya dengan ponselmu yang disita?"
"Bisa dibilang seperti itu. Aku berharap anak itu tidak berlebihan, jika tidak. Maka identitasku dan identitas Taehyun akan terbongkar. Aku masih belum siap dengan konsekuensinya."
"Kau benar-benar pria aneh, Yoon."
°°°
Taehyun menahan diri untuk tidak melayangkan setidaknya sepatunya sendiri ke arah pria paruh baya yang saat ini berada di depannya. Setelah tadi pagi dirinya harus mencoba untuk tetap mewaraskan diri, kali ini Taehyun harus bisa memantaskan diri di hadapan Min Haneul, ayah angkatnya.
"Mustahil bagi anda jika anda tidak mengetahui tentang keadaan Kak Yoon saat ini."
"Kakakmu sakit, benar bukan?"
Kenapa Taehyun mendadak menjadi orang paling bodoh sedunia jika sudah berhadapan dengan ayah angkatnya.
"Anda... tidak, ayah...." suara Taehyun melirih.
"Kau datang jauh-jauh kesini hanya demi Yoon?"
"Bisakah ayah sedikit memberi waktu istirahat pada putra ayah yang satunya?"
"Apa maksudmu?"
"Kak Yoon akan sangat sehat dan keadaannya akan terus membaik jika ayah berhenti mengiriminya banyak tugas kantor, dia bukan tumbal perusahaan ayah, dia itu anakmu, jadi berhentilah membuatnya seperti mesin pencetak uang. Bahkan disaat kritis pun kau tidak ada disampingnya."
"Jangan berlebihan, Taehyun. Itu hanya radang dan buk..."
"Hanya? Ayah bilang itu hanya? Semua itu bisa saja membunuhnya dalam hitungan jam jika tidak segera mendapatkan pertolongan. Jika ayah masih ingin aku mengawasinya, maka jangan mempersulitku dengan mempermainkan emosiku. Ayah sangat tahu bukan, jika bukan karena kak Yoon aku bisa saja berubah menjadi seorang pembunuh." dirasa cukup untuk mengungkapkan semua keluh kesahnya, Taehyun segera meninggalkan Haneul yang terlihat sedikit terkejut dengan ucapan yang Taehyun lontarkan.
Meski kejadian itu sudah sangat lama, Haneul masih tidak menyangka jika Taehyun benar-benar belum bisa membuang rasa sakit hati kepada mantan istrinya. Haneul menghela napas panjang lalu memejamkan kedua matanya.
"Hana, Taehyun benar-benar menjaga Yoon dengan baik. Dia menjalankan tugasnya lebih baik dari pada kau atau aku."
Haneul memang sengaja membuat Taehyun agar selalu berada di samping Yoon. Sejak perceraian antara dirinya dengan Hana. Yoon tidak sekalipun menampakkan diri atau sekedar bertatap muka dengan dirinya. Itu membuat Haneul diliputi rasa bersalah yang begitu besar. Haneul berharap, Taehyun bisa menjaga Yoon dengan baik sampai kapanpun.
°°°
KAMU SEDANG MEMBACA
Crossroads in Your Heart
Ficción GeneralJung Youra tidak tahu, jika berhubungan dengan dunia Kim Taehyun akan membuatnya berada di sebuah semesta yang berisi ribuan bintang berkerlip namun sekarat. Ketika dirinya berusaha menyembuhkan lukanya sendiri, tanpa Youra sadari dia juga sedang be...
