Mission Accomplished

12 1 0
                                        

Sakuya sukses berwajah masam kala Youra harus pergi hari ini karena masa cutinya sudah habis. Ditambah lagi saat dirinya tidak bisa mengantar Youra hingga ke stasiun kereta dan hanya bisa mengantar Youra dari depan rumah saja.

"Kenapa cemberut seperti itu? Kita akan bertemu lagi saat hari Chuseok nanti."

"Terlalu lama."

"Mama, lihat bayi besarmu ini. Astaga."

Sedangkan Yeona hanya bisa tersenyum geli, Yeona sengaja tidak membujuk Sakuya agar dirinya bisa melihat bagaimana cara Youra menangani emosi Sakuya yang terbilang masih labil. Apalagi saat Sakuya benar-benar merasa nyaman dengan keberadaan Youra.

Sakuya semakin menekuk wajahnya, sedih dan marah bercampur menjadi satu. Dia berusaha terlihat garang, namun bagi Youra anak itu tidak lebih seperti seekor anak itik yang menggemaskan.

"Ayah!!"

"Ayah tidak bisa mengantarmu pulang jika kau memaksa ikut, Sakuya. Ayah harus segera pergi ke rumah sakit setelah mengantar Kak Youra."

Okay, ini sudah tidak baik. Sakuya sudah bersiap mengeluarkan senjata terakhirnya yakni menangis.

"Hei, adik kecil. Dengarkan aku."

Sakuya yang tadinya menunduk, perlahan mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Youra.

"Kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau, meski tengah malam sekalipun." Youra tersenyum, dirinya berusaha bernegosiasi dengan Sakuya.

"Janji?"

Youra mengangguk, "Jadi, bisakah sekarang kau membiarkan aku pergi?"

Kali ini giliran Sakuya yang tersenyum dan membiarkan Youra pergi.

"Jadilah anak yang baik."

Sakuya mengangguk sedangkan Yeona tersenyum haru melihat interaksi antara Sakuya dan Youra. Mereka berdua terlihat sangat manis dan menggemaskan. Yeona benar-benar sangat berterima kasih pada Youra yang bersedia berdamai dengan Sakuya dan juga dirinya. Kali ini giliran Souta yang bersiap untuk kembali membangun komunikasi dengan Youra. Semoga saja suaminya itu berhasil membuat kesepakatan dengan Youra, dengan begitu rasa canggung yang selama ini mereka rasakan akan hilang dengan sendirinya.

Sakuya masih terus menatap mobil yang membawa Youra pergi hingga hilang dari balik gerbang. Meski dia akui jika janji yang Youra buat bisa membuatnya merasa bahagia, namun dia masih merasa sedih karena kebersamaan yang berhasil dia bangun harus tertunda untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Tiga hari yang membahagiakan entah kapan lagi dapat dia rasakan kembali.

"Ibu."

"Heum?"

"Apa Ayah dan Kakak akan berdamai seperti kita berdua?"

Yeona terlihat terkejut dengan ucapan Sakuya, Yeona hanya tidak menyangka jika Sakuya menyadari dengan cepat kenapa dia tidak diperbolehkan untuk ikut mengantar Youra meski Sakuya bisa saja naik taksi saat pulang nanti.

"Kau sudah tahu?"

"Ya, aku hanya takut dan masih khawatir jika Kak Youra tiba-tiba saja membenciku lagi. Meski Ayah sudah meyakinkanku jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tetap saja takut. Aku takut tidak bisa mendekati Kak Youra lagi. Aku hanya tidak ingin kejadian itu kembali terulang."

Buru-buru Yeona memeluk Sakuya, mengusap dengan sayang surai Sakuya. Yeona mencoba untuk kembali meyakinkan Sakuya jika semuanya akan baik-baik saja. Yeona yakin akan hal itu karena kepulangan Youra kali ini tidak seperti kepulangannya tempo hari. Yeona dapat merasakan jika Youra juga sedang berusaha berdamai dengan keadaannya saat ini. Youra juga pasti sangat lelah dengan posisinya kali ini. Meski gadis kecilnya itu tidak pernah sekalipun mengeluh namun perkataannya dua hari lalu berhasil menyadarkan Yeona, bagaimana tersiksanya Youra dengan keberadaan Souta dan juga Sakuya.

Crossroads in Your HeartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang