Yoon terbangun dengan kepala yang berdenyut nyeri, belum lagi dengan sensasi perutnya yang merasa tidak nyaman. Sepertinya dia terlalu banyak minum tadi malam. Yoon berdiri dengan tubuh yang terhuyung seperti tumbuhan yang tidak mendapatkan pasokan air. Sebelum akhirnya berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Akhir-akhir ini tubuhnya sedikit kehilangan energi dan menjadi lebih mudah terserang sakit, meski bukan sakit yang berat. Namun pusing di kepala, rasa mual di pagi hari dan juga napsu makan yang menurun sedikit mengganggu kinerjanya saat di kantor.
"Sepertinya lain kali aku harus mengurangi mengkonsumsi alkohol."
Yoon keluar dari kamar mandi dan langsung menuju dapur. Berniat membuat sup penghilang pengar, namun langkahnya harus terhenti kala pening di kepalanya semakin menjadi. Yoon menjatuhkan diri namun masih dalam keadaan sadar. Ponsel miliknya berada tidak jauh dari jangkauan. Dengan susah payah Yoon meraih benda persegi panjang itu dan memulai panggilan dengan seseorang.
"Bisakah kau kemari? Aku butuh bantuan."
Yoon mengabaikan suara di seberang sana, pemuda itu langsung mematikan panggilan dan sukses kehilangan kesadaran.
Di sisi lain, Namseon terlihat sangat panik dan tanpa pikir panjang langsung mencari keberadaan Taehyun. Pemuda berlesung pipi itu segera menarik pergelangan tangan Taehyun begitu berhasil menemukan keberadaan Taehyun. Mengabaikan Taehyun yang memberontak dan menjadi tontonan di sepanjang koridor kantor. Tepat setelah berhasil keluar dari lingkungan kantor, Taehyun menghempaskan tangannya dengan kuat sampai membuat pergelangan tangannya sendiri merasakan nyeri.
"Apa kau gila? Apa kau mau membuat rumor tentang Gay? Lakukan sendiri jika itu maumu, jangan seret aku, brengsek."
"Jangan berdebat sekarang, Kakakmu sedang dalam keadaan darurat."
"Aku tidak memiliki Kakak."
Taehyun berbalik dan bersiap untuk masuk ke dalam gedung lagi, namun langkahnya harus terhenti saat Namseon mengatakan sesuatu.
"Aku tidak tahu ada hubungan buruk apa kau di masa lalu dengan Yoon, tapi tidak bisakah kau bersimpati padanya sebagai seorang saudara?"
Belum sempat Taehyun menjawab, Namseon dengan cepat kembali menarik tangan kanannya dan memaksa untuk mengikutinya. Membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di apartemen Yoon, Taehyun juga yang memasukkan beberapa digit angka pada intercom milik Yoon. Begitu masuk ke dalam, Namseon segera berlari memasuki ruangan. Mencari keberadaan Yoon dengan langkah tapi juga dengan suara. Membuat Taehyun merasa sangat tidak nyaman.
Berbeda dengan Namseon yang mencari keberadaan Yoon di ruang tengah, Taehyun segera mencari keberadaan Yoon di kamar tidur. Yoon pasti tidak akan jauh-jauh dari tempat ternyaman selain sofa, apalagi hobinya yang suka sekali rebahan dan memejamkan mata itu. Dan benar saja, Yoon ditemukan tergeletak di atas alas berbulu lembut. Kedua maniknya terpejam erat dengan bibir pucat.
"Hei.... bangun, kenapa kau tidur di bawah?"
Kulit putih pualam Yoon bersentuhan langsung dengan kulit Taehyun, terasa panas dan juga deru napas Yoon yang sedikit berat. Taehyun berusaha untuk tetap tenang dan mencoba untuk mencari kesadaran dari Yoon yang mungkin masih tersisa.
"K...Kak Yoon."
Taehyun mengangkat kepala Yoon dan menyandarkannya pada paha miliknya dengan tangan kiri yang masih menyangga kepala, sementara tangan kanannya merogoh saku guna mencari ponsel miliknya. Beberapa menit kemudian, Namseon datang dan mengambil alih tubuh Yoon.
"Kita bawa dia ke rumah sakit. Aku tidak begitu paham dengan kondisinya, tapi yang pasti dia dalam kondisi yang buruk."
Taehyun memberi arahan Namseon untuk segera turu ke bawah sambil menggendong Yoon, sedangkan Taehyun sendiri akan membawa beberapa perlengkapan yang akan dibutuhkan nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crossroads in Your Heart
Ficțiune generalăJung Youra tidak tahu, jika berhubungan dengan dunia Kim Taehyun akan membuatnya berada di sebuah semesta yang berisi ribuan bintang berkerlip namun sekarat. Ketika dirinya berusaha menyembuhkan lukanya sendiri, tanpa Youra sadari dia juga sedang be...
