Jam kerja kantor sudah habis sejak dua jam yang lalu, tapi Taehyun masih bertahan untuk menyelesaikan satu berkas yang harus diserahkan hari ini juga. Haesuk juga sudah pulang karena ada acara mendadak. Sepi juga tanpa adanya manusia ceria macam Haesuk. Biasanya Haesuk yang akan berbicara panjang lebar untuk menghilangkan kesunyian, pemuda itu anti diam dan tenang jika sudah berhadapan dengan Taehyun.
Segala hal selalu bisa dijadikan bahan obrolan, sepertinya dia memang cocok jika dijadikan ketua dunia perghibahan. Informasi apapun, Haesuk akan menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Koneksinya dengan orang lain sudah seperti kecepatan sinyal 5G. Meski begitu, pemuda itu ahli dalam menjaga rahasia temannya. Bukan tipe orang yang suka menjual teman demi kepentingan pribadi.
Karena hal itu juga, Taehyun betah berteman dengan Haesukk meskipun sifatnya jauh bertolak belakang dengan dirinya. Taehyun menghela napas lega saat semua berkas selesai, dirinya merenggangkan tubuh yang sudah sangat lelah. Ah, Taehyun baru saja sadar jika kantor ternyata sudah sangat sepi.
Tiba-tiba memorinya memutar ingatan beberapa waktu yang lalu, saat dirinya menemukan Youra sendirian di tengah ruangan besar dan gelap. Jika diingat kembali, kejadian itu benar-benar sangat lucu. Bagaimana paniknya Youra yang menganggap dirinya adalah hantu. Juga saat Taehyun terlibat konversasi kecil dengan Youra. Taehyun tersenyum geli saat mengingatnya, terlebih saat melihat wajah Youra yang sudah pucat pasi.
Lamunan Taehyun teralihkan saat dirinya samar-samar mendengar suara dari dalam ruangan Yoon. Ah, dia lupa jika Yoon juga malam ini lembur, Manajernya itu terkadang bisa memforsir tubuhnya sendiri tiga kali lipat dibandingkan dengan Taehyun. Pemuda ber-marga Kim itu melirik berkas yang baru saja dia selesaikan, sedikit merasa ragu saat ingin menyerahkannya malam ini juga. Dia hanya tidak mau jika Yoon berpikir macam-macam.
Apalagi Taehyun mendapatkan kesempatan untuk kembali naik jabatan di bulan berikutnya. Terlalu mengenal orang lain juga ternyata tidak baik untuk dirinya. Bisa dibilang Taehyun mengenal dengan sangat baik seorang Min Yoon. Mungkin karena keduanya memiliki sifat yang hampir mirip.
Taehyun menatap layar laptop dan di bagian pojok kanan bawah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah menimbang-nimbang kembali niatannya untuk menyerahkan tugas, akhirnya Taehyun memilih untuk beberes dan pulang. Dirinya masih terlalu malas jika harus berurusan dengan manusia berhati batu macam Yoon. Lagipula stok kesabarannya juga tidak akan cukup untuk menghadapi Yoon malam ini.
Yoon sudah seperti hewan nokturnal saja, semakin malam maka moodnya semakin tidak jelas. Sepertinya Taehyun memiliki kesalahan fatal di masa lalu dan di masa sekarang ini semesta mengirimkan sesosok makhluk menyebalkan bernama Min Yoon. Sekali lagi menatap ke arah pintu ruang Yoon, sebelum akhirnya memutuskan untuk menuju lift. Hari ini dirinya lelah luar biasa, ingin sekali cepat sampai rumah dan merebahkan diri. Saat pintu lift terbuka pelan, ternyata dirinya tidak sendirian. Seojin yang sedang sibuk dengan ponselnya mengangkat wajahnya saat menyadari akan ada orang lain yang masuk ke dalam lift.
"Taehyun? Kau lembur? Tumben."
Taehyun memutar bola matanya dengan malas, baru saja lepas dari kandang singa malah sekarang dirinya harus terjebak satu kandang dengan buaya. Jika bukan karena waktu yang terus berputar, Taehyun lebih memilih menggunakan tangga darurat. Berbasa-basi sekali, padahal seharusnya Seojin tahu jika khusus Sabtu minggu ini, semua divisi tanpa terkecuali mengadakan lembur.
"Mau masuk tidak?"
Mendengus sebal, Taehyun masuk dengan langkah terpaksa. Sedangkan Seojin diam-diam terkekeh pelan, kebetulan sekali mendapatkan Taehyun di jam-jam seperti ini. Saat pintu lift tertutup sempurna, suasana hening meliputi mereka berdua.
"Selamat."
Taehyun menoleh pelan, merasa sedikit aneh saat Seojin mengatakan kata itu. Seingat dirinya, hari ini bukanlah hari ulang tahunnya. Meski begitu, Taehyun terlihat menunggu kalimat selanjutnya yang akan Seojin ucapkan.
"Youra berada di fase menyenangkan selama seminggu ini. Wajahnya bahkan tidak pernah murung kecuali jika ada pekerjaan menumpuk. Gadis itu sedang menjadi musim semi, jadi...."
Seojin mendekat atau lebih tepatnya menghimpit Taehyun dari samping. Taehyun yang menyadari jika akan adanya bahaya bersiap untuk menghindar namun gerakannya terbaca oleh Seojin. Dengan segera Seojin mengunci pergerakan Taehyun. Jika saja ada orang lain di dalam lift, mereka berdua pasti sudah menjadi bahan perghibahan yang sangat menggelikan. Karena posisi mereka benar-benar seperti sepasang kekasih.
"....jangan buat musim Youra berubah menjadi musim dingin."
"Kenapa aku?"
Tanpa rasa ampun Seojin menggeplak kepala Taehyun. Benar-benar merasa sangat jengkel, bagaimana bisa keduanya memiliki kepekaan yang super minim.
"Astaga bocah! Apa kau tidak sadar juga? Karena ulah siapa Youra menjadi uring-uringan macam belut listrik begitu?"
"Eyy, kau juga ikut ambil peran di dalamnya.. dasar tidak tahu diri."
"Apa katamu?"
Taehyun yang pada dasarnya tidak memiliki rasa takut pada Seojin pun menatap sengit ke arah lawan bicaranya. Jika pintu lift tidak terbuka tepat pada waktunya, mungkin saja Taehyun dan Seojin sudah baku hantam macam kucing dengan anjing. Keduanya menghentikan aksi saat suara familiar menyapa mereka berdua. Dengan gerakan lambat Taehyun menoleh terlebih dahulu, ternyata rungunya tidak pernah salah menilai suara. Disana, di jarak satu meter dari Taehyun berdiri, Youra memiringkan kepalanya dengan lucu. Menatap kelewat serius ke arah Taehyun dan juga Seojin yang saat ini berada di posisi amat sangat memalukan.
"Kalian berdua sedang apa? Bermain game?"
Demi semesta dan seisinya, Taehyun ingin melenyapkan diri sendiri ke inti bumi. Berbeda sekali dengan Seojin yang malah tersenyum lebar sambil memainkan kedua alisnya dengan genit.
"Ku kira kau sudah pulang." ucap Seojin yang sedikit terhuyung karena Taehyun mendorongnya dengan kesal.
"Ada beberapa berkas yang harus aku revisi ulang. Taehyun, kau lembur juga hari ini? Tumben?"
"Apa aku bilang, kau aneh jika harus lembur."
Youra masuk begitu saja, bergabung dengan satu ruangan dengan dua pria aneh. Pintu lift tertutup dan lagi-lagi suasana hening kembali terasa. Tidak ada yang berusaha memulai pembicaraan, Seojin juga tiba-tiba menjadi manusia pendiam. Sedangkan Youra lebih fokus pada angka tepat di atas pintu lift. Berharap angka itu segera mencapai angka satu agar dirinya segera terbebas dari situasi mencekam ini. Dan Taehyun, lagi-lagi dirinya disibukkan dengan dunianya sendiri. Sedikit menghela napas lega karena Youra lebih memilih diam daripada mengajaknya berbicara, mungkin karena keberadaan Seojin yang membuat gadis itu sedikit merasa sungkan.
Ting
Akhirnya..
Youra bersorang dalam diam, senyum seketika terbit dari kedua bibir kecilnya. Sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan Taehyun dan Seojin, Youra membungkukkan badannya dan berpamitan untuk pergi terlebih dahulu. Gadis itu juga sempat berlari kecil karena sepertinya benar-benar dikejar oleh waktu. Selepas bayangan Youra menghilang, Seojin rupanya masih belum selesai dengan kalimat petuahnya itu.
"Ingat, awas saja kalau sampai Youra menjelma jadi beruang kutub. Kau makhluk pertama yang akan aku kirim ke kutub utara."
Taehyun menunjuk dirinya sendiri dengan heran, saat dirinya bersiap untuk melemparkan ultimatum untuk yang kesekian kalinya pada Seojin. Pria itu sudah melambaikan tangannya dan melenggang pergi. Ingin rasanya mengumpat dan menendang Seojin hingga jatuh tersungkur, tapi dirinya masih sayang dengan nyawanya. Jika Seojin sampai mengadu pada Aera, maka nyawanya yang menjadi taruhan.
"Arghh,, bisa gila aku."
°°°
KAMU SEDANG MEMBACA
Crossroads in Your Heart
Ficção GeralJung Youra tidak tahu, jika berhubungan dengan dunia Kim Taehyun akan membuatnya berada di sebuah semesta yang berisi ribuan bintang berkerlip namun sekarat. Ketika dirinya berusaha menyembuhkan lukanya sendiri, tanpa Youra sadari dia juga sedang be...
