Seorang perempuan dengan rambut berwarna merah baru saja turun dari mobil mewah yang saat ini terpakir di salah satu cafe ibu kota Jakarta, jika dilihat dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki perempuan itu, barang-barang yang dikenakannya cukup terbilang mahal dan sesuai dengan mobil yang ditumpanginya.
Langkah demi langkah membawanya masuk ke dalam cafe dan benar saja dirinya menjadi pusat perhatian seisi cafe saat ini, bukan hanya rambut merah serta barang-barang mahalnya namun karena parasnya yang cantik dan tubuhnya yang sangat ideal membuat pakaian yang dikenakannya sangat terlihat cocok terpasang pada tubuhnya. Namanya, Lakhsmita Amora Basagita.
"Amora? Lo ngapain warnain rambut lo merah begitu?" pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang perempuan ketika Amora menghampiri salah satu meja serta mendudukkan tubuhnya. "Lo inget kan kalau besok hari pertama diri lo di Zervard?" sambungnya memastikan bahwa sahabatnya itu tidak lupa.
"Inget kok, besok hari pertama gue di sekolah baru" jawab Amora yang memang benar nyatanya, lalu perempuan itu mengeluarkan handphone dari tas kecil yang dibawanya. "Makanya gue ganti warna rambut, itung-itung buang sial dari sekolah sebelumnya" sambungnya tak berdosa.
Sahabatnya itu sudah sangat hafal bagaimana Amora, ia hanya menghembuskan napas kasar karena sekuat apapun dirinya berusaha untuk melarang atau memberi tahu Amora akan berujung sia-sia atau buang-buang waktu, sahabatnya itu bernama Erika.
"Nggak ada cara lain buat buang sialnya? Asal lo tau, di Zervard itu nggak boleh warnain rambut, Ra. Rambut warna cokelat aja udah syukur kalau di Zervard" Erika masih berusaha untuk memberi tahu walaupun dirinya sudah tahu hal itu tidak akan mengubah apapun.
Amora tidak mempedulikan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu, tangan kanannya meraih segelas es americano yang sebelumnya sudah dipesankan oleh Erika, meneguknya dengan perlahan untuk menikmati sensasi rasa pahit dan dingin secara bersamaan.
"Dengan lo yang ngomong begitu, secara nggak sengaja nyuruh gue supaya ganti warna rambut lagi, kan?" tanya Amora seraya menaruh kembali segelas es americano di meja.
"Kalaupun gue bilang dari awal, lo tetep akan lakuin hal itu, kan?" pertanyaan balik yang dilontarkan Erika tentunya membuat sebelah sudut bibir Amora terangkat.
Tidak ada yang bisa mengatur Amora selain dirinya sendiri, mau Erika menjelaskan sampai mulutnya berbusa pun sahabatnya itu tidak akan menggubris dirinya dan tetap dengan pendiriannya sendiri.
"Ra, gue mohon dengerin gue dulu buat saat ini" pinta Erika dengan tangan yang memohon, sebenarnya Erika sendiri sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu karena belum terlalu mengenal Zervard High School lebih dalam.
Kening Amora berkerut, ia sedikit bingung kenapa sahabatnya sampai mengkhawatirkan dirinya seperti ini hingga memohon untuk didengarkan. "Kenapa, Zervard?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir Amora, setidaknya ada celah untuk Erika bisa menjelaskan bagaimana Zervard High School.
"Di Zervard itu ada empat kasta, kasta yang pertama itu terkenal sama siswa-siswi yang kaya banget, contohnya keluarga-keluarga konglomerat" Erika mulai menjelaskan secara perlahan dan kali ini benar saja Amora mendengarkan penjelasan Erika dengan tenang.
"Kasta yang kedua nggak jauh beda dari kasta pertama, terkenal sama siswa-siswi dari keluarga pemilik saham-saham perusahaan" pejelasan Erika tentunya membuat Amora tidak heran jika di dalam sekolah itu terdapat kasta seperti ini karena Zervard High School salah satu sekolah bergengsi di ibu kota Jakarta.
Erika mengatur napasnya sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. "Terus kalau kasta ketiga terkenal sama siswa-siswi yang orang tuanya punya pekerjaan terhormat, contohnya Menteri, Politisi, dan Hakim Agung" Erika berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya.
"Kasta terakhir atau kasta keempat ini isinya siswa-siswi yang selalu dipandang sebelah mata karena terbilang kurang mampu dan biasanya mereka masuk Zervard dari kebaikan hati para petinggi atau dari bantuan dana" Erika meneguk minumannya setelah dirasa cukup menyampaikan informasi pada sahabatnya itu.
Amora menganggukkan kepalanya, penjelasan dari Erika mampu ia pahami dan tidak ada yang mengganggunya karena wajar saja jika hal itu terjadi di sekolah bergengsi seperti Zervard High School.
"Biasanya siswa-siswi di kasta pertama itu seakan-akan mereka penguasa Zervard, jadi mereka bisa ngelakuin kasta-kasta di bawahnya dengan seenaknya dan tentunya kasta-kasta dibawahnya nggak akan bisa ngelakuin perlawanan karena mereka terbilang rendah" jelas Erika lagi.
"Jadi, nggak ada yang bisa mempermasalahin kalau rambut gue warna merah, dong? Karena gue ada di kasta pertama?" tanya Amora pada Erika dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.
Dari sekian banyaknya penjelasan yang dilontarkan oleh Erika, mengapa Amora hanya menangkap poin itu? Tentunya hal itu membuat Erika memutar bola matanya malas. "Iya kasta-kasta di bawah lo nggak akan ada yang mempermasalahin, tapi inget lo di kasta pertama nggak sendiri, Ra." ucap Erika penuh dengan penekanan pada akhir kalimatnya.
Erika kembali meneguk minumannya, mengingat bagaimana kasta dirinya di Zervard High School yang bahkan terbilang masih pada urutan atas yaitu berada kasta kedua membuat dirinya ingin cepat-cepat lulus dari sekolah itu. "Selagi lo bisa ngehindarin masalah, tolong hindarin aja, Ra. Lo bisa tersingkir kalau lo salah langkah."
"Maksud lo?" lagi dan lagi Amora mengernyitkan keningnya, bingung.
"Jangan berurusan sama siapapun di sekolah, apalagi berurusan sama Bastian." ucap Erika to the point mengingat bagaimana laki-laki itu sangat berpengaruh di Zervard High School.
"Bastian?"
KAMU SEDANG MEMBACA
VENOMOUS
Teen Fiction[ Cover Design by @jeasy_art ] Renggala Bastian Bratadikara, seorang laki-laki yang sangat berpengaruh pada salah satu sekolah bergengsi di ibu kota Jakarta, Zervard High School. Bastian memanfaatkan posisi dirinya yang berada di kasta pertama untuk...
