Orang di Masa Lalu

230 12 0
                                        

Langkah demi langkah membawa Amora masuk ke dalam rumahnya, langkahnya begitu terasa berat serta pandangannya hanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun pada para pelayan yang menyapanya serta kedua matanya terlihat sembab sehabis menangis tadi.

Ceklek

Setelah pintu kamarnya tertutup, Amora menyandarkan tubuhnya yang begitu lemas pada pintu dan membiarkan tas yang di tangannya jatuh begitu saja ke lantai. Bayangan-bayangan di masa lalunya yang begitu menyakitkan membuat air matanya kembali keluar dari sebelah sudut matanya.

Flashback On

Amora tengah merapikan buku-buku serta peralatan tulisnya untuk dimasukan kembali ke dalam tasnya, tugas yang diberikan oleh guru di sekolahnya sudah diselesaikan dengan baik. Saat Amora ingin menaruh tas miliknya di kamar, ia mendapati adiknya diambang pintu yang baru saja pulang sekolah, namun keadaan adiknya kembali pulang dengan membawa luka-luka pada wajahnya.

"Wajah kamu kenapa, Tha? Mereka bully kamu lagi?" tanya Amora yang langsung bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah adiknya itu.

Anestha hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Aku nggak apa-apa, kok. Aku lagi capek banget hari ini, aku masuk kamar dulu ya, Kak"

"Bilang dulu sama Kakak apa yang ngebuat kamu sampe babak belur kaya gini lagi, Anestha? Mereka semua bully kamu lagi, iya?" cecar Amora pada adiknya itu.

"Apa aku pindah sekolah aja ya, Kak? Tapi kalau aku pindah, sekolah itu impian almarhum Ayah sama Ibu, terus Kakak juga udah ngalah supaya aku yang bisa sekolah di situ, masa aku pindah gitu aja?" ucap Anestha dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.

"Sesulit itu sekolah di sana ya, Tha? Kalau emang kamu mau pindah sekolah nggak apa-apa, kok, Kakak akan bantu kamu kamu buat pindah dan cari sekolah lain yang ada bantuan dananya, gimana?" ucap Amora seraya memegang kedua tangan adiknya itu. "Ayah sama Ibu juga pasti udah bangga kamu bisa masuk sekolah itu, tapi kalau nyatanya kamu harus ngalamin hal kaya begini berulang kali mereka juga pasti sedih liatnya, Tha"

"Mau pindah sekolah kemana, Kak? Mau cari bantuan dana sosial kemana lagi? Kalaupun nanti pindah dan nggak ada bantuan dana mau bayar pake apa? Kalau aku nggak mikir kesitu, sedari awal masuk sekolah juga aku mau langsung pindah" ucap Anestha seraya melepaskan tangan Kakaknya itu. "Kalau aku nggak mikirin perasaan Ayah, Ibu sama Kakak, aku juga maunya pindah, Kak ...."

"Kalau tau orang-orang di sekolah sana sejahat itu, seharusnya kita nggak perlu tukeran waktu itu dan biarin Kakak yang ada di posisi kamu, Tha" ucap Amora seraya menahan kedua matanya yang terasa perih. "Maafin Kakak yang nggak bisa berbuat apa-apa di setiap kamu kesulitan kaya gini, Tha"

Anestha menggeleng. "Nggak berbuat apa-apa gimana? Selama ini Kakak yang udah nyembuhin luka-luka aku, kan? Kakak selalu temenin aku di saat aku lagi kesulitan kaya gini, Kakak selalu kasih aku pelukan buat nenangin aku yang lagi ketakutan setiap harinya, dan Kakak yang selalu ada di samping aku buat denger tawa atau tangisan aku, jadi Kakak jangan bilang nggak berbuat apa-apa, ya?"

Air mata yang sedari tadi Amora tahan sudah tak bisa terbendung lagi dan mendarat dengan sempurna di kedua pipinya. Hatinya di dalam sana benar-benar sakit, sangat sakit hingga membuat dadanya terasa begitu sesak. Ia memeluk adiknya dengan tangis yang sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Tapi Kakak sakit liat kamu kaya gini dan yang buat Kakak lebih sakit, kita nggak bisa berbuat apa-apa waktu ditindas sama orang-orang kaya itu karena mereka tau kita orang miskin dan nggak akan bisa ngelakuin perlawanan"

"Andai aja Ayah sama Ibu masih ada pasti kita nggak tinggal di panti asuhan kaya begini dan kayanya aku akan sekolah sedikit lebih aman. Mungkin ini emang udah takdirnya aku dan aku akan coba buat bertahan, jadi Kakak nggak perlu nyalahin diri Kakak ya? Walaupun orang-orang di sekolah itu ngebuat aku nggak nyaman tapi seenggaknya aku masih punya tujuan buat bertahan, di mana aku mau lulus dari sekolah impian Ayah sama Ibu itu" ucap Anestha seraya memeluk balik Kakaknya itu, dirinya harus menutupi kesedihannya itu agar Kakaknya tidak terus menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi.

VENOMOUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang