Sakit yang Sama

121 9 0
                                        

Tubuh Amora terasa begitu lemas, bahkan terasa hilang kesimbangan hingga membuat tubuhnya berbenturan dengan salah satu sofa yang berada di ruang tamu. Bingkai foto itu seakan menarik dirinya untuk mengingat sebuah kejadian beberapa tahun lalu di mana keluarganya mengalami kecelakaan hingga menewaskan orang tuanya.

"Nggak mungkin, nggak mungkin kalau ...." Amora menggelengkan kepalanya, berharap bukan keluarga Bastian lah yang menabrak keluarganya serta pria waktu itu yang membuat Ibu Amora tidak bisa mendapatkan tranfusi darah hingga tak bisa diselamatkan bukan lah Papa dari Bastian.

Tangan Amora bergetar, dadanya terasa begitu sesak seperti berbenturan dengan benda yang cukup keras, serta napasnya pun menjadi tidak beraturan. Tak terasa air matanya mendarat di sebelah pipi kirinya, dari sekian banyaknya orang di dunia ini kenapa dirinya harus dipertemukan dengan orang yang sudah membuat kehidupannya begitu menyakitkan dan menyedihkan? Bahkan orang itu adalah orang yang paling dekat dengannya saat ini.

Amora menjauhkan tubuhnya dari nakas, dengan langkah yang tidak karuan serta air mata yang terus membasahi pipinya, Amora membawa dirinya untuk keluar dari rumah yang begitu mencekik dirinya. Orang-orang yang paling Amora benci karena menabrak keluarganya serta menghabisi kantong darah yang berada di rumah sakit tersebut, ditambah karena kekuasaan orang itu yang terbilang tinggi hingga keluarganya tersingkir begitu saja dan saat ini harus Amora ketahui bahkan masih dengan satu orang yang sama di mana orang itu juga merenggut kebahagian Adiknya.

Mengapa semesta begitu tidak adil? Kebahagiannya direnggut habis-habisan oleh orang-orang tidak tahu diri itu, sedangkan orang-orang itu hidup begitu tenang tanpa merasa bersalah dan berdosa sedikit pun. Sebelumnya Amora sudah berusaha menerima dengan apa yang terjadi semua ini memang lah takdir miliknya, namun saat mengetahui yang terjadi dibalik semua ini dilakukan oleh orang-orang berdosa itu, bukan takdir yang seharusnya Amora salahkan, tapi keluarga dari Bastian lah yang seharusnya disalahkan.

Amora menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan yang tak seperti biasanya, perasaan marah, kecewa, benci, dan sakit bercampur aduk menjadi satu menyelimuti tubuh Amora dengan begitu kuat. Langit di atas sana mulai menggelap seakaan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Amora saat ini. Tak lama tangis Amora semakin pecah, biasanya ia menangis tanpa bersuara tapi saat ini suara tangisnya menggema di dalam mobil seakan menunjukkan bahwa hatinya di dalam sana teramat sakit.

Bersamaan dengan air matanya yang terus-menerus mengalir, air pun turun dari langit yang sedari tadi menggelap. Semakin lama, hujannya semakin turun dengan deras, membasahi jalanan kota Jakarta pada sore hari ini. Perasaan Amora sudah cukup hancur ketika harus mengetahui bahwa sosok yang telah merenggut kebahagian Adiknya adalah Bastian, kini ditambah lagi dengan sosok yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya yang ternyata pada orang yang sama, keluarga dari Bastian.

"Gue bener-bener benci sama lo, Bastian ...." lirih Amora disela-sela isak tangisnya seraya menggenggam setir mobilnya dengan erat.

Di tempat lain, Bastian membawa dirinya menuruni anak tangga untuk menuju ruang tamu di mana Amora menunggunya. Setibanya di ruang tamu Bastian terdiam lalu menggeledahkan pandangannya dan berharap perempuan yang menunggunya sedari tadi hanya berpindah posisi, namun Bastian tidak dapat menemukannya. Tak lama Bastian kembali melanjutkan langkahnya ke arah ruang makan, barang kali perempuan itu ada di sana.

"Dimana perempuan tadi?" tanya Bastian saat berpapasan dengan salah satu pelayan saat menuju ke ruang makan.

"Tadi ada di ruang tamu, Den" jawab pelayan itu dengan sedikit bingung, pasalnya tamu dari majikannya itu sedari tadi berada di ruang tamu dan tidak kemana-mana.

Bastian terdiam, pikirannya langsung tertuju bahwa Amora memang sudah meninggalkan rumahnya namun apa yang membuat perempuan itu meninggalkan rumahnya begitu saja tanpa berpamitan? Ditambah di luar sedang hujan deras. Tak lama Bastian membalikkan tubuhnya, kembali melanjutkan langkah kakinya untuk memastikan bahwa Amora memang benar-benar meninggalkan rumahnya.

VENOMOUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang