Bimbang

395 25 1
                                        

Langit yang gelap serta angin malam yang berhembus cukup menembus masuk ke dalam pakaian yang Amora kenakan. Perempuan itu menghentikan langkahnya tepat setelah membawa Bastian keluar dan menjauh dari restoran, Amora pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap Bastian di belakangnya.

"Apa maksud lo dan kenapa lo nolongin gue?" Bastian menatap lurus ke depan tanpa melihat Amora sedikit pun, ia tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan Amora.

"Gue nggak nolongin lo, ini bentuk balas budi yang bisa gue kasih ke lo" Amora melipat kedua tangannya di depan dada, Amora melakukannya sebagai bentuk balas budi atas pertolongan Bastian pada malam itu.

Bastian merasa sedikit lega karena Amora mempunyai hutang budi padanya, jadi ia tak perlu repot-repot atau menurunkan gengsinya untuk membalas apa yang telah Amora lakukan pada malam ini. "Bagus, lo udah nepatin janji itu untuk balas budi"

"Nggak lupa juga janji lo, kan? Gue mau lo serahin semua barang-barang gue yang lo tahan, besok" pinta Amora sebelum dirinya meninggalkan Bastian.

"Besok dateng ke markas gue, akan gue serahin semuanya di sana" ucapan Bastian tentu membuat Amora tidak setuju, nampak jelas dari raut wajah Amora bahwa perempuan itu akan memberikan sanggahan.

"Lo nggak usah memperpanjang masalah bisa? Kenapa harus di markas? Kenapa nggak di sekolah aja? Cukup balikin semuanya di sekolah bisa, kan?" benar saja Amora mengeluarkan sanggahannya.

"Mobil lo ada di markas gue, kalau lo nggak mau dateng ke markas gue ya itu hak lo, berarti lo nggak akan bisa dapetin semua barang-barang lo itu" jelas Bastian lalu mengangkat sebelah bibirnya.

Amora mengepalkan tangannya kuat-kuat, dengan berat hati mau tidak mau dirinya hanya bisa mengikuti apa yang diucapkan oleh Bastian lagi, demi mengambil barang-barang yang saat ini belum diketahui oleh kedua orang tuanya.

"Gue akan ke markas lo, besok" ucap Amora seraya menatap laki-laki di hadapannya dengan tajam.

"Akan gue tunggu, Amora" ucap Bastian.

Kalimat yang keluar dari bibir Bastian membuat Amora melangkahkan kedua kakinya untuk meninggalkan Bastian, namun laki-laki itu kembali angkat bicara hingga membuat langkahnya terpaksa terhenti lalu seakan memaksanya untuk terdiam di tempat.

"Rambut lo ...." Bastian menggantungkan ucapannya. "Lebih cocok warna hitam kaya gitu"

♾️♾️♾️

Amora dan Erika yang baru saja tiba di kantin sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tak seperti biasanya, di mana siswa-siswi Zervard High School mengerubungi meja makan yang biasa Zervanos tempati. Amora menoleh pada Erika seolah bertanya apa yang terjadi di sana, Erika yang tidak tahu-menahu pun mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban, pasalnya mereka sengaja datang ke kantin lebih lambat.

Apa Zervanos berulah lagi? Itulah yang terlintas dipikirannya dan rasa penasaran mulai menyelimuti diri Amora, tak butuh waktu lama Amora pun menghampiri di mana siswa-siswi mengerubungi pelaku-pelaku yang menciptakan kantin menjadi seramai ini. Semakin Amora mendekat semakin terdengar jelas suara isak tangis seorang perempuan.

Setelah berhasil menerobos siswa-siswi untuk bisa melihat apa yang terjadi di depan, Amora dan Erika terdiam melihat seorang perempuan tengah berdiri menangis ketakutan dan terus-menerus meminta maaf pada keempat orang laki-laki, terutama Bastian.

"Lap bangku yang udah lo dudukin sampe bersih" titah Bastian pada perempuan itu.

Tak ada bantahan sedikit pun dari perempuan itu, ia langsung mengelap bangku yang biasanya Bastian duduki menggunakan kedua lengannya yang dilapisi seragam sekolah. Perempuan itu merasa malu dan sedih diperlakukan seperti ini di sekolah barunya, ia tidak tahu apa-apa dan langsung berurusan dengan Bastian, ditambah kasta dirinya yang berada diurutan paling akhir sudah diketahui oleh siswa-siswi lainnya.

VENOMOUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang