Langkah demi langkah membawa Amora menelusuri koridor rumah sakit, langkahnya terasa amat berat namun dengan begitu langkahnya mampu membawa dirinya untuk tiba dirumah sakit. Tak lama, Amora menghentikan langkah kakinya pada ruangan yang bertuliskan VIP, mengatur napasnya yang terasa begitu berat sebelum masuk untuk melihat seseorang yang seharusnya belum bisa ia temui untuk saat ini.
Ceklek
Langkah kaki Amora terasa semakin berat, melihat apa yang terjadi pada Bastian saat ini tak pernah terlintas sedikit pun bahwa laki-laki itu akan mengalami hal semacam ini. Hatinya di dalam sana begitu tersayat melihat kondisi Bastian yang terbaring lemah dengan penuh luka dibagian wajahnya.
"Amora" ucap Putra seraya bangun dari duduknya, begitu juga Aghas dan Issa yang bangkit dari duduknya kala mendapati kehadiran Amora.
"Gimana kondisi, Bastian? Apa luka tusuknya parah?" tanya Amora pada ketiga teman dari Bastian.
"Luka tusuknya lumayan parah, jadi tadi harus langsung di operasi, Ra" jawab Putra seraya mengalihkan pandangannya ke arah Bastian. "Dan sekarang Bastian belum terlalu sadar sepenuhnya, masih ada efek dari obat bius" sambungnya.
Amora mengeratkan genggaman tangannya pada sisi celana yang dikenakannya, hatinya di dalam sana seperti berbenturan dengan benda yang cukup keras, perasaan bersalah menyelimuti dirinya saat ini. Pasalnya Amora terus-menerus menghindar dari Bastian, pesan dan panggilan telepon dari Bastian selalu Amora abaikan, bahkan dirinya tidak menemui Bastian yang datang beberapa kali ke rumahnya.
"Hal apa yang kalian perjuangin selama ini sampai harus ngelakuin hal semacam itu terus-menerus? Dan apa kalian nggak bisa berhenti buat ngelakuin hal semacam itu?" tanya Amora menatap tiga orang yang berada dihadapannya bergantian.
"Lo nggak perlu ikut campur sama masalah kita semua, dengan lo yang sekarang ini pacar dari Bastian, bukan berarti lo bisa ikut campur atau tanya hal-hal semacam itu, Amora." Aghas tidak terima dengan perkataan yang baru saja Amora lontarkan.
"Tapi dengan hal semacam itu, Bastian jadi dalam bahaya, Aghas." ucap Amora penuh dengan penekanan seraya menatap tajam ke arah Aghas. "Kalau kalian terus-menerus ngelakuin hal semacam itu, Bastian ataupun lo sendiri bisa ngalamin hal yang lebih berbahaya dari apa yang Bastian alamin saat ini"
Sebelah bibir Aghas terangkat, ia melangkahkan kedua kakinya untuk lebih dekat dengan Amora, lalu menurunkan sedikit tubuhnya agar ucapan yang dilontarkannya nanti langsung masuk tepat pada telinga Amora. "Kayanya lo jauh lebih tau apa yang akan terjadi di depan sana sama, Bastian? Ataupun anggota gue, bukan begitu, Amora?"
Amora menjauhkan tubuhnya dari Aghas, tatapan tajam semakin terlihat dari sorot kedua matanya saat ini. "Gue nggak ngerti apa yang lo maksud, apa ada yang salah sama ucapan gue tadi? Ucapan gue tadi berdasarkan fakta atas apa yang udah terjadi sama lo semua, Aghas."
Aghas menyeringai mendenger apa yang keluar dari bibir Amora. "Fakta? Atau lo emang udah tau hal ini akan terjadi sama, Bastian?"
"Lo nuduh gue dengan apa yang terjadi sama Bastian sekarang ini adalah ulah gue? Gue beneran nggak habis pikir sama apa yang lo pikirin itu, Ghas" ucap Amora tak terima. "Padahal lo dan anggota lo sendiri yang buat masalah terus-menerus, sampe akhirnya ngebuat Bastian kaya sekarang ini"
"Tapi semenjak kehadiran lo, Bastian lebih dalam bahaya, Amora."
Degh
KAMU SEDANG MEMBACA
VENOMOUS
Jugendliteratur[ Cover Design by @jeasy_art ] Renggala Bastian Bratadikara, seorang laki-laki yang sangat berpengaruh pada salah satu sekolah bergengsi di ibu kota Jakarta, Zervard High School. Bastian memanfaatkan posisi dirinya yang berada di kasta pertama untuk...
